Uang Pungli PPDB Dikembalikan

0
1078
SISWA BARU : Kepala SMPN 1 Tanjungpinang, Tri Elis Setiyowati memperhatikan siswa baru Kelas I di sekolah itu yang masih mengenakan seragam SD, kemarin. f-martunas/tanjungpinang pos

Permendikbud No.17 Nyatakan Daftar Ulang Harus Gratis

Uang pungutan liar (Pungli) saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dikembalikan kepada orangtua siswa. Pungli ini jelas-jelas melanggar aturan.

TANJUNGPINANG – KASUS ini terjadi di Batam. Uang pungli sekitar Rp 6 juta akhirnya dikembalikan kepada orangtua siswa setelah melapor ke Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Amsakar mendapat laporan pungli dan mendatangi beberapa sekolah yang dilaporkan. Saat mengunjungi sekolah yang dilaporkan itu, memang ditemukan pungli yang melibatkan komite sekolah.

Salah satunya komite sekolah di SMP Negeri 52 Batam. Mengetahui wakil wali kota mau datang, uang pungli langsung dikembalikan kepada orangtua siswa. Amsakar mengungkapkan, ada empat orang tua siswa yang melapor menjadi korban pungli. Masing-masing Rp 1,5 juta. Laporan itu kemudian yang ditindaklanjuti Amsakar. Sebelum dia tiba di sekolah itu, uang itu dikembalikan. Namun yang dikembalikan baru Rp4 juta dari total Rp 6 juta.

”Benar, di SMPN 52 ada pungli, benar. Uangnya diserahkan ke salah seorang komite. Sebelum saya tiba, uang dikembalikan. Tapi belum semua. Sisanya dijanjikan dikembalikan nanti,” kata Amsakar, Selasa (18/7). Pada kesempatan itu, Amsakar menegaskan, sejauh ini belum ada kepala sekolah yang ditemukan melakukan pungli. Pungli yang ditemukan, dilakukan komite sekolah, yang secara struktur di luar aparatur Pemko Batam.

”Terlalu nekat kalau guru dan kepsek melakukan pungli. Kalau ketahuan, langsung kita tindak. Jadi bukan guru atau kepala sekolah. Walau di luar kepsek dan guru, tetap kita minta dikembalikan dana warga,” tegasnya. Terkait komite sekolah yang melakukan pungli itu apakah akan ditindak atau tidak, Amsakar tidak banyak komentar.  Dia hanya meminta, semua pihak tidak melakukan tindakan melakukan pungutan liar.

”Komite itu dipilih orang tua siswa. Jangan mengambil tindakan yang melanggar aturan,” imbaunya. Selain pungli, Amsakar juga menyorot masalah kondisi sekolah di Batam yang kelebihan siswa. Sekolah yang kebanyakan siswanya diantaranya SDN 006 di Batam Kota. Direncanakan, sekolah itu akan dibuat tiga shift.

Baca Juga :  Awal 2018, KEK Galang Batang Dioperasikan

”Sesuai arahan Pak Wali, akan ada penambahan ruangan tahun depan. Sementara ini, sistem shift dulu,” imbuhnya. Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) RI No.17 tahun 2017 tentang PPDB, pendaftaran dan daftar ulang siswa baru tidak dipungut biaya alias gratis.

Di Bagian Kelima tentang Daftar Ulang dan Pendataan Ulang, Pasal 18 (1) Daftar ulang dilakukan oleh calon peserta didik baru yang telah diterima untuk memastikan statusnya sebagai peserta didik pada sekolah yang bersangkutan.
(2) Pendataan ulang dilakukan oleh TK dan sekolah untuk memastikan status peserta didik lama pada sekolah yang bersangkutan.
(3) Biaya daftar ulang atau pendataan ulang tidak dipungut dari peserta didik.
Bagian Keenam tentang Biaya, Pasal 19 dibunyikan, biaya dalam pelaksanaan PPDB dan pendataan ulang pada sekolah yang menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dibebankan pada BOS.

Seragam Jadi Masalah
Biasanya, pungli terjadi di sekolah dialami calon siswa yang usianya belum mencukupi namun dipaksakan masuk di sekolah itu.
Sehingga, sering muncul istilah uang bangku. Karena kursi dan meja tidak tersedia, maka perlu uang untuk membeli bangku siswa tersebut. Kemudian, seragam sering menjadi masalah lantaran harganya yang lebih tinggi jika disediakan di sekolah dibandingkan jika membeli langsung.

Hanya saja, ada beberapa pakain yang harus seragam seperti baju kurung dan baju olahraga. Karena itulah, seragam disediakan di sekolah keseluruhan. rata-rata seragam siswa 5 pasang. Sedangkan sepatu, tas, dasi, ikat pinggang, buku tulis, pena, pensil, kaos kaki, penggaris dan peralatan sekolah lainnya dibeli orangtua masing-masing. Penyediaan seragam ini pun dibidik Tim Satuan Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) karena salah satu yang potensi sarang pungli.

Baca Juga :  MIS Financial Services Bidik Segmen Pembiayaan dan Koperasi

Ketua Tim Saber Pungli Kota Tanjungpinang Kompol Andi Rahmansyah mengatakan, mereka terus membidik iuran-iuran yang diterapkan pihak sekolah. Terutama iuran penerimaan siswa baru, seragam sekolah hingga study tour. Karena ada 58 indikasi dan peluang pungli di sekolah. ”Ada celah pungli pembelian seragam sekolah, penerimaan siswa baru,” Andi Rahmansyah, juga sebagai Wakapolres Tanjungpinang, kemarin.

Timnya pun sudah mengumpulkan data-data terkait pembelian seragam sekolah, kegiatan lainnya seperti study tour dan juga pungutan perpisahan. Andi mengaku tidak mempermasalahkan jika pihak sekolah mewajibkan atau mengarahkan untuk membeli kebutuhan sekolah di koperasi sekolah tapi harganya harus lebih murah. Contohnya seragam sekolah. Boleh-boleh saja membeli ke sekolah, hanya saja perlu diperhatikan harga dan kualitas seragam. Barang dengan harganya layak dan sesuai. Tapi harga yang dijual sekolah dan harga pasaran harus sama.

Jika di pasaran misalnya Rp 100 ribu seragam sekolah, maka koperasi sekolah juga harus menjual Rp 100 ribu. Tapi kalau sudah dijual misalnya Rp 200 ribu di sekolah atau nyari untung. Itu salah, jelas pungli. Menurutnya, contoh tersebut merupakan permasalahan yang kongkrit terjadi di sekolah. Jika harga di pasar lebih mahal dari pada di sekolah, pihaknya menyetujuinya, dengan proses cicilan dengan beberapa kali bayar.

Dengan adanya warning dari Tim Saber Pungli ini, sebagian sekolah tidak berani menyediakan seragam sekolah dan diserahkan ke wali murid. Namun, sebagian masih ada sekolah yang menyediakan seragam bagi siswa namun atas kesepakatan dengan orangtua murid. Harga seragam siswa di SMP di Tanjungpinang sekitar Rp 1,12 juta, seragam SD Rp 600-an ribu, SMA Rp 1,19 juta dan SMK Rp 1,5 juta. Namun, jumlah ini bervariasi di beberapa sekolah.

Kepala SMKN 4 Tanjungpinang, Sulasmi SPd, mengatakan, untuk seragam siswa pihaknya menyerahkan ke orangtua siswa. Orangtua siswa langsung ke tukang jahit. Sehingga tidak ada campur tangan pihak sekolah. Kepala SMPN 11 Tanjungpinang, Mulia Wiwin mengatakan, seragam sekolah untuk siswa baru di sekolah itu diadakan sekolah dengan harga atas kesepakatan orangtua siswa. Orangtua siswa lebih setuju baru disediakan pihak sekolah agar seragam satu sama lainnya dan mereka pun tidak perlu repot mencari warna yang serupa.

Baca Juga :  Pemuda Diajak Saring Informasi dan Perangi Narkoba

Kepala SMAN 5 Tanjungpinang, Yusserizal mengatakan, yang mengadakan baju siswa adalah pihak sekolah atas kesepakatan bersama dengan orangtua siswa. Di SMAN 2 Tanjungpinang, orangtua siswa langsung ke tukang jahit.

Saber Pungli Beratkan Wali Murid
Aturan dari Tim Saber Pungli tentang larangan pungutan biaya untuk pengelolaan seragam sekolah dinilai memberatkan sejumlah wali murid. Kenyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sardi (43) salah seorang wali murid yang mendaftarkan anaknya di SMA Negeri 2 Tanjungpinang. Menurutnya, aturan tersebut justru malah menjadi beban bagi sejumlah wali murid yang memiliki kondisi ekonomi menengah ke bawah.

”Kalau tidak dikelola oleh sekolah artinya orangtua harus bayar langsung kepada tukang jahitnya, ini berat mengingat masih ada juga kebutuhan yang lain,” jelasnya kepada Tanjungpinang Pos, pekan lalu.
Sardi membandingkan, tahun lalu ketika biaya seragam sekolah masih dikelola oleh sekolah, ada keringanan yang diterima wali murid karena bisa dicicil.

”Kalau dulu, bisa menyicil jadi tidak terasa. Nah, kalau sekarang pasti tunai karena berurusan langsung dengan tukang jahitnya,” kata dia.
Meskipun tidak ada keharusan untuk memiliki seluruh seragam dengan cara yang baru, namun tetap saja dia menilai, aturan tersebut memberatkan. Dalam hal ini, Sardi mewakili sejumlah wali murid kurang mampu berharap kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang, agar adanya pembenahan terkait aturan yang dijalankan oleh Tim Saber Pungli.(MARTUNAS-MARTUA-YOAN)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here