Ubah Baja Rongsokan, Ujungnya Dapat Duit

0
861
BUAT PARANG: Misnun (50) perajin pandai besi saat membuat parang dari besi baja rongsokan di Kampung Sei jeram, Desa Lancang Kuning, Bintan Utara, Rabu (27/9) kemarin. f-jendaras/tanjungpinang pos

Kreativitas Misnun, Si Pandai Besi di Desa Lancang Kuning

TANJUNGUBAN – Siapa sangka, besi baja rongsokan yang merupakan barang tidak terpakai lagi, kini dapat diubah menjadi benda bernilai tinggi. Padahal, baja rongsokan itu hanya dibeli Misnun berkisara Rp 3 ribu sampai dengan Rp 6 ribu per kilogram. Ujungnya, Misnun bisa mendapatkan uang ratusan ribu.

Di tangan Misnun (50) si pandai besi di Kampung Sei Jeram, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, rongsokan tersebut menjadi parang, belati, pedang dan alat pertanian berkualitas tinggi.

Pria asal Ponorogo, Jawa Timur mengubah rongsokan besi baja yang ada di wilayah Tanjunguban kini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kini rongsokan tersebut sudah tidak dijual begitu saja ke pengumpul. Melainkan diolah kembali menjadi barang bermanfaat, ujungnya dapat duit.

Meski baru 6 bulan membuka pandai besinya, kini sudah ratusan pesanan yang ia buat dari rongsokan besi baja. Sebagian besar pesanan merupakan benda-benda tajam untuk dipergunakan memotong dan bertani. Dengan menggunakan alat seadanya, Misnun dengan telaten mengetok besi-besi yang sudah dipanaskan tersebut, sesuai dengan bentuk yang ia inginkan.

Seharinya, Misnun dapat membuat 4 hingga 5 parang atau sejenisnya, sesuai dengan pesanan pelanggan. Rata-rata pelanggannya adalah para petani dan kolektor senjata tajam, untuk dipajang atau dipergunakan berburu. Tidak hanya membuat barang dari rongsokan besi baja, Misnun juga membuat bengkel perbaikan senjata tajam. Harganya cukup murah bila dibandingkan memperbaiki di bengkel atau membeli baru.

”Biasanya saya hanya membuat parang atau alat pertanian menggunakan besi baja dari per (shock) mobil atau baja lainnya. Kualitasnya sangat kuat dan tajam bila dibandingkan menggunakan besi biasa,” sebutnya, Rabu (27/9) kemarin.

Ia menambahkan, dengan mematok harga di kisaran Rp 125 ribu atau lebih per satu alat. Misnun mampu mengais pendapatan yang cukup untuk menopang kehidupannya sebagai petani di Desa Lancang Kuning.

”Harganya bisa lebih mahal, tergantung permintaan pelanggan. Kalau semakin rumit maka semakin mahal. Harganya sama saja seperti membeli di Pulau Jawa, bahkan kalau pakai ongkos maka membeli di Jawa lebih mahal,” jelasnya.

Selain membuat rongsokan baja menjadi parang, ia juga memberikan jasa perbaikan parang dan sebagainya, harganya berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu, tergantung kerusakan. ”Biasanya saya beli besi di mana-mana. Bahkan sudah saya pesan dahulu kalau ada kendaraan atau shock mobil yang rusak,” tambahnya. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here