UKM Sinematografi Stisipol Masuk Nominasi Nasional

0
521
SYUTING: Anggota UKM Sinematografi Stisipol Raja Haji berfoto di sela-sela syuting film pendek Antara Rupiah dan Ringgit, belum lama ini. F-ISTIMEWA

TANJUNGPINANG – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, berhasil masuk nominasi 16 besar Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI). Ini merupakan ajang bergensi yang diselenggarakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) di Jakarta, melalui Surat dengan No. 2092 /B.3.1/KM/2017 untuk ribuan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia.

Penilaian Tahap I dilaksanakan 23 sampai dengan 28 Agustus 2017 yang di saring 16 finalis. Selanjutnya akhir September para finalis pemenang ajang FFMI akan diundang ke Jakarta sekaligus penilaian tahap ke II. Rencanya di hari yang sama, pada malamnya ajang penghargaan buat para pemenang akan diumumkan.

Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka SSos MPM mengatakan, pihaknya optimis bahwa mahasiswa dibawah binaannya bisa bersaing di tingkat nasional dan memenangkan festival film tersebut.

Ia meyakini, bahwa kualitas dan sisi pemain serta teknik pengambilan gambar seperti sudah profesional. Pihaknya merasa bersyukur sudah masuk nominasi, masih ada satu tahapan lagi, meski dmeikian para mahasiswanya yang tergabung di UKM Sinematograpi sudah wajar diberikan selamat. ”Meski baru berkiprah saya yakin dengan pemilihan tema serta kualitas dari pemain, dan teknik pengambilan gambar maka bisa menjadi juarra,” ungkapnya.

Ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus kreatif mengasah kemampuan yang dimiliki. Ketua UKM Sinematografi Stisipol Raja Haji Dodi menyebutkan, dari nominasi 16 besar itu, kelak film pendek UKM Sinematografi akan bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Karya film UKM Sinematografi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, menyisihkan 55 film pendek dari 71 film pendek yang diperlombakan dari 55 Perguruan Tinggi se Indonesia yang diterima Kemenristek Dikti melalui Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

Film yang diikut sertakan di ajang FFMI tahun ini, berjudul Antara Rupiah dan Ringgit yang berdurasi 10 menit 16 detik. Ia sendiri dipercaya sebagai sutradara dari film tersebut.
Ia menjelaskan, judul tersebut mengisahkan rasa cinta tanah air.

Menurutnya, lebih baik bekerja di negeri sendiri dari pada di negeri orang. ”Jadi ada bahasa, lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas tapi di negeri orang. Ini sangat menarik,” jelas Dodi.(ADLY BARA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here