UMRAH dan UHT Kembangkan Kapal Bambu

0
889
MEMPELAJARI: Para Mahasiswa Teknik Elektro UMRAH, saat mempelajari kapal elektrik yang dibuat dari bambu. F-ISTIMEWA

TANJUNGPINANG – Bambu dapat menjadi bahan dasar alternatif untuk pembuatan kapal selain kayu. Untuk itu, Fakultas Teknik Universitas Maritim Raja Ali Haji (FT-UMRAH) berencana mengembangkan agar bisa dimanfaatkan masyarakat. Upaya itu akan dicapai dengan bekerjasama dengan Kampus Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya.

Provinsi Kepri yang memiliki luas lautan hingga 96 persen, mayoriyas alat transportasi antarmasyarakat masih banyak menggunakan kapal kayu. Ini dinilai cocok untuk mengembangkan kedepannya. Sebab, material kayu yang memiliki kualitas baik semakin sulit didapat. Jikapun ada harganya sangat mahal. Untuk itu, dinilai tak semua nelayan dan masyarakat mampu membeli.

Sebelumnya, pihak FT-UMRAH dan UHT telah menggelar seminar terkait pembuatan kapal dari bahan bambu. Seminar itu, bertemakan ”Bamboo As The Alternative for Building of Bio-Cmposite Ship”. Rektor UMRAH Prof Dr Syafsir Akhlus MSc sangat menyambut baik, rencana yang dilakukan mahasiwa Fakultas Teknik.

Baca Juga :  20 Pelajar Natuna Dapat Beasiswa Kuliah dari Pemkab

Menurutnya, bekerja sama dengan UHT tentunya akan menjadi solusi produksi kapal berbahan kayu di Kepri. ”Ini sangat baik, dan tentunya dapat bermanfaat kedepannya bagi nelayan dan mendukung sektor wisata,” ujar Syafsir Akhlus.

Sebelumnya, FT-UMRAH sedang mempersiapkan untuk mengembangkan kapal berlaminasi bio (bio composite ship). Dosen UHT Surabaya yang juga ahli pembuat kapal nelayan dengan laminasi bambu, Dr Ir Akhmad Basuki Widodo MSc menyatakan keinginaan bekerjasama dengan UMRAH mengembangkan kapal bambu. Beberapa kelebihan penggunaan bahan bambu, diantaranya selain terkait bahanya yang mudah di dapatkan juga cara pembuatanya yang cukup mudah.

”Jumlah bambu banyak gak perlu khawatir. bisa didatangkan dari Jawa dan beberapa daerah lainnya,’ tuturnya.

Terkait kualitas juga tak perlu diragukan, setelah melakukan pengujian tarik dan tekan serta puntir ternyata bambu memiliki ketahanan lebih baik di bandingkan kayu jati. Padahal masa panen tanaman bambu lebih singkat dibanding kayu jati. Peluang ini yang harus diambil mahasiswa dan dapat dikembangkan, minimal di Kepri.

Baca Juga :  Jalin Silaturahmi di Perantauan, HIMK Buka Puasa Bersama

Untuk menjawab mengenai katahanan bambu terhadap jamur, ia menyarankan agar sebelum di buat kapal, terlebih dahulu harus dikeringkan di bawah terik matahari. Cara ini dinilai ampuh.

Eko Prayetno ST M Eng ketua Prodi Teknik Elektro lulusan Sistem Perkapalan ITS menyampaikan, bahwa ini akan diterapkan minimal kepada pemilik kapal nelayan kecil di kawasan Kepri.

Terkait ukuran kapal nantinya, akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing nelayan di setiap daerahnya. ”Secara bersamaan, juga akan dikembangkan kapal wisata dengan tingkat exclusivitas tinggi dan menggunakan bahan yang transparan. Sehingga, penumpang dapat melihat keindahan bawah laut provinsi maritim ini secara langsung,” terang Eko Prayetno.

Baca Juga :  163 Mahasiswa UMRAH Ikut Yudisium

Kedepannya kapal berlaminasi bambu bisa dipakai nelayan dan kapal wisata Kepri. Menurutnya, keuntungan kerja sama ini akan banyak. Selain membuat hal baru, juga sebagai lesson and learned dan knowledge transfer untuk penelitian dan pengembangan bersama mahasiswa.

Dekan Fakultas Teknik UMRAH, Ibnu Kahfi Bachtiar menyampaikan, kedatangan Ahmad Basuki mampu memberikan kontribusi yang besar dalam kerja sama pengembangan kapal berlaminasi bambu.

”Sangat bermanfaat dan harus bisa menjadi solusi bahan baku alternatif pembuatan kapal untuk kedepannya. Apalagi Kepri, merupakan kawasan maritim yang sangat bergantung dengan transportasi laut yakni kapal,” sebut Ibnu Kahfi Bachtiar. Serta berharap bisa segera direalisasikan para mahasiswa. (abh)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here