UMRAH Perluas Riset di Asia Pasifik

0
231
DEKAN FKIP UMRAH Dr AGung Dhamar usai penandatanganan bersama bidang riset di acara The Sixth China-Southeast Countries Marine Cooperation Forum tanggal 15-17 November 2018 yang lalu di kota pesisir Beihai, Provinsi Guangxi Tiongkok. f-istimewa

Dekan FKIP Dr Agung Dhamar Diundang Pembicara di Tiongkok

Untuk menjawab visi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang sebagai Center of Excellence dalam bidang Riset dan Budaya Maritim, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH) terus melakukan perluasan jejaring riset internasionalnya terutama di kawasan Asia Pasifik.

TANJUNGPINANG – Dekan FIKP UMRAH, Dr. Agung Dhamar Syakti diundang dalam kegiatan ‘The Sixth China-Southeast Countries Marine Cooperation Forum’ tanggal 15-17 November 2018 yang lalu di kota pesisir Beihai, Provinsi Guangxi Tiongkok.

Forum ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan komunikasi dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan diantara negara-negara Asean dan China.

Sekitar 400 peserta hadir dalam kegiatan yang dibagi menjadi beberapa sesi ilmiah dan FIKP UMRAH berkesempatan memaparkan kegiatan mitigasi sampah plastik di pesisir Kepri yang merupakan kerja bersama antara pegiat lingkungan, masyarakat lewat kegiatan World Clean-Up Day, Pemko Tanjungpinang, Pemprov Kepri dan juga riset-riset mikroplastik UMRAH tentunya.

Delegasi Indonesia sendiri diwakili oleh Kemenkomartim LIPI, BMKG dan UMRAH sebagai satu-satunya perwakilan perguruan tinggi.

Bersempena dengan kegiatan tersebut, FIKP UMRAH juga menandatangi kesepahaman bersama dalam bidang pendidikan dan riset dengan Marine Ecology Research Center, First Institute of Oceanography, State Oceanic Administration/Ministry of Natural Resources (China) dimana bidang kerjasama risetnya meliputi:

Kajian bersama spesies laut yang mengalami kepunahan (Marine Endangered Animal) seperti Duyung atau Dugong (Dugong dugon) Pesut (Orcaella brevirostris) dan Penyu Hijau (Chelonia midas).

Kesemuanya masuk dalam daftar merah IUCN dengan staus konservasi rentan (threatened: vulverable) untuk Duyung dan terancam punah (threatened endangered) untuk Pesut dan Penyu Hijau.

Adapun risetnya akan menggunakan peralatan unmanned aerial vehicle (UAV) atau lebih dikenal dengan drone, unmanned surface boat vehicle (USVs), tagging satelit, buoy, bioakustik dan metode biologi molekular.

Kemudian kajian bersama riset mikroplastik di lautan, kajian oseanografi dan telemetri untuk memahami sirkulasi arus dan cuaca serta aplikasi lainnya.

Termasuk pertukaran dosen dan mahasiswa serta supervisi bersama program Doktorat bagi para dosen di lingkungan FIKP UMRAH.

Salah satu langkah konkrit cepat yang dilakukan adalah dengan dibentuknya konsorsium riset dengan peneliti Malaysia dan Thailand dengan proyek riset Marine Endangered Species Project (MESP) yang akan dilakukan di berbagai perairan di Asia Tenggara seperti di Trhang (Thailand, Teluk Brunei (Malaysia) dan juga Bintan (Indonesia).

Direncanakan bulan Juni mendatang FIKP UMRAH akan mengadakan pelatihan observasi Dugong, Pesut dan Penyu Hijau di Tanjungpinang dengan peserta dari berbagai peneliti di ASEAN dan juga Indonesia tentunya.

Sebagai informasi FIKP UMRAH sendiri adalah fakultas yang bervisikan untuk menjadi Pusat Unggulan (center of excellence) dalam pengelolaan sumberdaya kelautan, perikanan dan kemaritiman di Asia Pasifik.

Diharapkan ke depannya orang dari berbagai negara sahabat akan belajar tentang kelautan, perikanan dan kemaritiman di FIKP UMRAH.

Cita-cita ini pelan-pelan mulai diwujudkan oleh Fakultas yang saat ini dinakhodai oleh outstanding scientist di Indonesia, Dr. Agung Dhamar Syakti, pakar bidang pencemaran laut dan bioremediasi lingkungan.(ADLY ‘BARA’ HANANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here