Ungkap Informasi Asal Mertua dan Istrinya

0
1038
LAWATAN SEJARAH: Tim lawatan sejarah dari Disbud Kepri berhasil menemukan makam mertua Raja Haji Fisabilillah di Asahan. f-istimewa/dinas kebudayaan pemprov

Dari Lawatan Sejarah Kepahlawanan Raja Haji di Asahan

Kitab sejarah Tuhfat al-Nafis gubahan Raja Ali Haji meriwayatkan, Raja Haji Fisabilillah pernah menikahi seorang putri Kesultanan Asahan. Tengah pekan lalu, tim dari Dinas Kebudayaan Kepri menelurusi jejak pahlawan nasional itu di sana.

TANJUNGBALAI ASAHAN, SUMUT – Tim lawatan sejarah yang dibentuk Dinas Kebudayaan Kepri terbilang komplet. Ada sejarawan, tokoh adat, zuriat, dan juga akademisi.

Misi ke Tanjung Balai Asahan, Provinsi Sumut itu memang terbilang kerja kolektif. Sebab ingin mencari lebih tahu sepotong informasi tentang Asahan sebagaimana yang telah diungkap Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis.

Hasilnya moncer. Sejarawan Kepri Aswandi Syahri mengungkapkan lawatan sejarah kemarin memberikan hasil yang tidak terbilang nilainya dalam upaya melengkapi fakta sejarah tentang Raja Haji Fisabilillah.

Padahal, kata dia, dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji hanya menuliskan Yamtuan Asahan, tanpa menyebutkan nama sultannya, permaisurinya, juga anaknya yang kemudian dipersunting Raja Haji.

”Dan semua itu kami dapatkan dalam lawatan sejarah ke Asahan kemarin,” ujar Aswandi Syahri, Minggu (10/12) kemarin.

Yamtuan Asahan sebagaimana yang dimaksud Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis itu bernama Sultan Muhammad Rum Syah atau Sultan III Kerajaan Asahan yang kemudian setelah wafat bergelar Marhum Sungai Banitan.

Istrinya bernama Encik Samidah. Lalu anak dari pasangan ini adalah Raja Amaran, yang kemudian dinikahkan dengan Raja Haji dalam kunjungannya ke Kerajaan Asahan sekitar tahun 1745.

”Itu informasi yang tidak pernah ada di Tuhfat al-Nafis,” beber Aswandi.

Bukan hanya itu saja. Aswandi menjelaskan, hasil lawatan sejarah bersama Dinas Kebudayaan Kepri kemarin juga berhasil melacak nama putri Raja Haji hasil pernikahannya dengan Raja Amaran, anak Sultan Asahan III.

Fakta ini menjadi penting lantaran putri ini merupakan anak pertama Raja Haji dari istri keduanya, setelah pernikahannya dengan Raja Aisyah dari Selangor itu tidak dikaruniai buah hati.

”Nama anak Raja Haji dengan Raja Amaran itu bernama Raja Salamah. Ia adalah putri sulung Raja Haji Fisabilillah,” jelas Aswandi.

Fakta-fakta yang dibawa pulang ke Kepulauan Riau ini, sambung Aswandi, melengkapi sekaligus mengoreksi fakta-fakta sejarah tentang Raja Haji. Dahulu, Budayawan Hasan Junus pernah menyebut bahwasanya Bulang Linggi, kapal perang Raja Haji adalah hadiah pernikahan dari Sultan Asahan. Tapi, faktanya tidak.

Aswandi menjelaskan, kapal perang jenis penjajab itu merupakan hasil modifikasi dari kapal dagang jenis seloep yang dibeli Raja Haji di Asahan pada 1760-an. Kemudian kapal itu dibawa ke Selangor untuk diubahfungsikan menjadi penjajab lantas menjadi kapal komando Raja Haji ketika memimpin Perang Riau I.

”Nah, Raja Haji itu pulang ke sini, ke Hulu Riau, pakai kapal dari Asahan itu,” beber Aswandi.

Di luar daripada urusan fakta-fakta sejarah, ada nilai lain dari lawatan sejarah yang digagas Dinas Kebudayaan Kepri ini. Yakni pertemuan silaturahmi antara zuriat kerajaan Riau-Lingga dengan zuriat kerajaan Asahan.

Dari penuturan zuriat-zuriat Asahan, selama ini mereka tidak pernah tahu bahwa ada ikatan persaudaraan antara dua kerajaan ini melalui pernikahan Raja Haji dan Raja Amaran.

”Jujur, selama ini kami tidak pernah tahu tentang itu. Lawatan saudara-saudara dari Kepri ini membuka mata kami, bahwasanya kami ini bersaudara sedari dulu,” ungkap Sultan Asahan XII DYMM Tuanku dr Kamal Abraham Abdul Jalil Rahmadsyah III, ketika menerima rombongan di Medan Club.

Sementara itu, Irwanto dari Dinas Kebudayaan Kepri, yang turut serta pada lawatan sejarah akhir pekan lalu, menuturkan, sudah menjadi komitmen Dinas Kebudayaan itu memfasilitasi segala jenis kerja-kerja budaya. Padahal jika hendak diturut, kata dia, masih ada banyak lagi fakta sejarah tentang Raja Haji yang bisa diungkap.

”Tapi mungkin akan dilanjutkan di waktu lain. Sebab Raja Haji ini juga punya dirawayatkan juga melakukan perjalanan hingga ke Indragiri, Jambi, Selangor, dan Melaka,” ujar pria yang menjabat sebagai Kepala Seksi Seni Pertunjukan Disbud Kepri ini.

Harapannya ke depan, kata dia, akan ada lebih banyak kerja-kerja pengungkapan fakta-fakta baru tentang pahlawan nasional di Kepulauan Riau.

”Itu baru Raja Haji saja. Belum lagi soal Raja Ali Haji, dan Sultan Mahmud Riayat Syah. Kerja budaya yang panjang ini perlu dukungan bersama,” pungkasnya.(FATIH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here