Urgensi Membangun Budaya Literasi

0
2277
Anton Sunyoto

Oleh : Anton Sunyoto
Pegiat Literasi Pada Komunitas Sagu Sabu Kepri

Ketua Divisi Kominfo PGRI Cabang Teluk Sebong Bintan

Kata literasi berasal dari bahasa latin “littera” (huruf) yang mempunyai definisi arti, sesuatu yang melibatkan penguasaan terhadap sistem-sistem tulisan serta konvensi yang menyertainya.

Jadi literasi erat kaitanya dengan dunia keberaksaraan, kemampuan membaca dan menulis. Hal ini sesuai dengan pendapat Graff (2006) yang menyatakan bahwa literasi adalah suatu kemampuan untuk menulis dan membaca.

Berbicara dalam konteks literasi, sebenarnya bukan hal yang asing lagi dalam tradisi Melayu, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau. Tercatat dengan tinta emas dalam lembar sejarah, bahwa dari pulau kecil Penyengat, Tanjungpinang, telah lahir tokoh brilian, seorang sastrawan religius Raja Ali Haji (1808-1987), yang sangat produktif berkontribusi dalam bidang literasi di Indonesia.

Percikan pikiran bernas dan kedigdayaan goresan pena Raja Ali Haji dalam bidang literasi tak diragukan lagi kepopulerannya. Hal ini dapat dilihat dari karya monumental Gurindam Dua Belas, Tuhfat aN – Nafs, Mukaddimah fil Intidzam dan puluhan mahakarya lainya, yang telah menjadi peninggalan adiluhung dalam khasanah intelektual bangsa, serta telah menjadi rujukan dalam dunia akademis.

Generasi dahulu telah membuktikan kepada kita, bahwa walaupun dalam keadaan terbelenggu oleh keterbatasan media, tapi semangat, militansi, dan tunak dalam berliterasi tak pernah surut. Sehingga jejak karya agungnya (Masterpiece) masih dapat kita nikmati dan pelajari hingga saat ini.

Trend-Budaya Global dan Pengaruhnya Terhadap Minat Baca
Namun, seiring dengan perjalanan waktu, ketika dunia memasuki zaman milenia di mana masyarakat terjebak dalam lingkar Masyarakat Multimedia (Cyber Society), ternyata punya daya pengaruh cukup kuat terhadap perubahan prilaku sosial yang mendasar, pada skala makro dalam kehidupan kita.

Kenakalan remaja semakin sering disuguhkan media, bahkan menjadi menu perbincangan hangat di kalangan orang tua dan masyarakat. Tidak sedikit orang tua frustrasi akibat ulah anaknya yang terlibat tawuran, kekerasan seksual, clubbing, rokok, miras, seks bebas, bahkan kecanduan narkoba.

Pada titik, ini orang tua biasanya mulai pasrah, mimpi untuk menjadikan anaknya cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual akhirnya hanya mampu diungkapkan dalam doa. Trend sosial rupanya lebih mudah diterima dari pada nasihat-nasihat orang tua yang terlanjur dianggap klasik di kalangan remaja.

Trend sosial yang ditandai dengan era kecanggihan teknologi memang menjadi bumerang jika tidak bijak dalam menyikapinya. Di era serba digital saat ini, yang menjadi daya tarik bagi anak-anak kita bukan lagi kegiatan literasi (baca-tulis), namun gawai dan televisi.

Hasil survei tahun 2016 yang dilakukan USAID (US Agency For International Development ) cukup mencengangkan. Rata-rata orang Indonesia menonton tayangan televisi selama 300 menit per hari (5 jam per hari), padahal di negara maju, penduduknya hanya butuh waktu 60 menit (1 jam per hari).

Di sisi lain, anak-anak yang dulu gemar membaca, kini lebih asik merunduk khusuk bermain game dan aktif di dunia medsos melalui gawainya. Di lingkungan keluarga kita saksikan, sudah jarang terlihat ada orang tua yang membacakan buku cerita buat menina bobokan anaknya.

Baca Juga :  Lupakan Kebaikan, Maafkanlah Kesalahannya

Sang anak lebih lelap tertidur terkulai sendiri, setelah matanya perih seharian terpapar oleh radiasi sinar gadged kesayangannya.

Sungguh ironi, ketika era digital dengan segala tawaran potensialnya di gadang-gandang dapatmempermudah akses informasi dan bacaan, malah berbalik arah menjadi darurat minat baca. Padahal minat baca adalah kunci utama dalam keberaksaraan.

Seperti pendapat Ratnasari (2011 : 16) yang mengatakan bahwa minat baca adalah suatu perhatian yang kuat terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri.

Namun pada kenyataannya minat baca saat ini telah pudar. Tergusur oleh trend gawai budaya instan yang berakibat fatal dapat menurunkan minat sahwat dalam berliterasi.

Rendahnya minat baca sebagai pondasi utama literasi di Indonesia bukan sekedar isapan jempol belaka. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2016 lalu menyebutkan bahwa, minat membaca siswa di Indonesia menduduki urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei.

Dari indeks membaca, rata-rata penduduk Indonesia hanya membaca 4 judul buku setahun dan masih jauh dari standar UNESCO yaitu 7 judul buku dalam setahun. Hal sebaliknya ditunjukkan negara maju Jepang. Walau era kecanggihan teknologi diproduksi di negaranya, namun masyarakatnya tetap keranjingan dan rakus dalam membaca buku.

Fakta ini membuktikan bahwa sikap kukuh budaya literasi jika sudah mendarah daging tidak akan bergeming oleh pengaruh apapun. Di sisi lain, Indonesia masih berada pada peringkat yang rendah dalam indeks membaca.

Berdasarkan data tersebut di atas, sudah bisa terlihat bahwa Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara lain. Termasuk dengan negara tetangga Malaysia yang konon pernah mengimpor guru dari Indonesia.

Salah satu contoh nyata yang membuat hati miris terjadi dalam ranah dunia pendidikan, khususnya dalam hal pengelolaan perpustakaan sekolah. Perpustakaan yang seharusnya menjadi urat nadi pembelajaran dan jantung literasi di sekolah, dimana seharusnya siswa-siswi asik berkerumun membaca buku, kini berubah lengang.

Keberadaan perpustakaan hanya sebagai pelengkap daftar administrasi akreditasi prasarana sekolah. Bahkan yang lebih memilukan lagi, nasib perpustakaan hanya sebagai gudang tempat penyimpanan buku-buku usang, dimana rak etalase penuh susunan buku lusuh dan sepi peminatnya.

Tentu ini kenyataan pahit yang harus ditelan, dan seharusnya ini menjadi titik balik sebagai pemantik sumbu api semangat untuk lepas dari keterpurukan darurat minat baca.

Perlunya Membangun Budaya Literasi
Budaya Literasi perlu dibangun. Karena dengan terdongkraknya budaya literasi berarti akan menaikan indikator kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan mutu Sumber Daya Manusia yang meningkat, akan mengangkat pamor pendidikan suatu bangsa.

Bangsa yang maju dapat diukur dari mutu pendidikanya. Seperti pendapat Daoed Joesoef (2011) yang mengatakan Kemajuan, ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikannya.

Konsep budaya literasi sebenarnya bukan sekedar program duniawi. Lebih jauh, budaya literasi ternyata telah melekat pada ranah keyakinan. Dalam ajaran agama, kita mengetahui bahwa wahyu pertama yang turun adalah amar untuk mencerahkan diri dari belenggu kebodohan, lewat doktrin terkenal yaitu” Iqra “(membaca).

Baca Juga :  Mengikat Keutuhan NKRI dan Antar-Umat Beragama

Tak kalah dahsyatnya, dalam hal menulis, ketika tulisan menjadi media untuk menularkan ilmu yang bermanfaat, maka akan mendapat ganjaran pahala jariah yang bertubi-tubi, walau sang empu penulisnya telah mati berkalang tanah.

Setelah mengetahui betapa pentingnya membangun budaya literasi, salah satu upaya pemerintah adalah menumbuhkan karakter peserta didik melalui kebijakan dan pembiasaan membaca.

Melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 dijelaskan upaya menumbuhkan budi pekerti bagi peserta didik melalui kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), dimana peserta didik harus membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Tentu kegiatan tersebut bukan sekedar rutinitas seremonial belaka, yang dapat ditempuh dengan cara serba instant dan bersifat temporary (sementara). Kunci suksesnya terletak pada pembiasaan dalam literasi, yang harus terus menerus dilakukan sejak usia dini dan untuk itu sikap konsistensi sangat diperlukan.

Menyemai Budaya Literasi di Lingkungan Keluarga dan Sekolah
Sesuai dengan konsep pendidikan yang diusung Ki Hajar Dewantara (1922) yang mengatakan bahwa pendidikan terfokus pada tri pusat elemen, yaitu pada keluarga, sekolah dan masyarakat, maka pembiasaan membaca dan menulis sejak dini dimulai dari lingkungan keluarga sebagai basis pertama pendidikan anak sekaligus sebagai starting point bagi anak untuk mengenal dunia dan lingkungannya.
Keluarga merupakan rahim peradaban bangsa. Orang tua sebagai agen sosialisasi awal bagi seorang anak, dituntut untuk menanamkan nilai sedini mungkin sebelum trend budaya global, merasuki mental anak dan remaja.

Dengan kata lain, budaya trend yang menawarkan hedonisme harus dilawan dengan budaya literasi agar terbentuk kesadaran kritis. Koentjaraningrat dalam pengantar Antropologi (1996) mengatakan bahwa bentuk sosialisasi antaranggota keluarga merupakan sistem pendidikan keluarga. Maka peran orang tua sangat penting dalam membudayakan literasi sejak dini pada anak-anaknya.

Banyak cara dalam membangun budaya literasi dalam lingkungan keluarga. Salah satunya, menurut pendapat Alimsantos (2017), mengatakan bahwa budaya literasi dapat dikembangkan dalam lingkungan keluarga dengan cara, Pertama, meluangkan waktu untuk membaca buku dengan anak, sekaligus menjadikan orang tua sebagai uswah (contoh) yang baik dalam bidang literasi sejak dini.

Kedua, mengenalkan anak dengan berbagai buku bacaan agar anak antusias dan tidak jemu.

Ketiga, membuat jadwal literasi keluarga, dimana seluruh komponen keluarga komitmen dan kompak membaca buku bersama sesuai bacaan pilihannya, dan sejenak meninggalkan aktivitas individualis gawai TV atau medsos.

Keempat, memberikan perhatian dan dukungan berbagai aktifitas membaca bagi anak dengan cara memberi reward bagi anak yang telah tuntas dalam membaca.

Kelima, memperlihatkan antusias kepada anak, salah satunya membiasakan untuk memberikan hadiah buku baru.

Keenam, memberikan kesempatan kepada anak untuk menuangkan ide melalui tulisan. Ketujuh memakai cara yang bervariasi, misalnya membentuk perpustakaan mini keluarga. Kedelapan meluangkan waktu untuk mengajak anak refreshing dengan mengunjungi toko buku dan perpustakaan umum. Cara tersebut di atas adalah bentuk ikhtiyar kita membentuk budaya literasi di lingkungan institusi terkecil keluarga.

Baca Juga :  Ekonomi Kreatif Adalah Solusi Mengatasi Pengangguran

Selain budaya literasi diterapkan di lingkungan keluarga, tak kalah pentingnya budaya literasi harus diterapkan di jenjang sekolah. Karena sekolah dominan sebagai wadah aktivitas akademik anak dalam menjalani proses pembelajarannya.

Kegiatan literasi di sekolah membutuhkan daya kreativitas, komitmen bersama dan pelaksanaan program yang konsisten dan kontinyu agar tidak menjemukan. Peran guru sangat strategis untuk mensukseskan program ini. Guru sebagai fasilitator sekaligus sebagai motivator dalam literasi.

Upaya membudayakan literasi di sekolah dapat dilakukan dengan cara, Pertama, melalui optimalisasi peran perpustakaan sekolah dengan menata perpustakaan ramah dan nyaman, memperbanyak koleksi buku bacaan, memilih duta baca, membentuk klub diskusi dan baca, membuat Jurnal membaca, membuat diary membaca, menerbitkan tulisan pada buletin dan mading, mengadakan lomba resensi buku dan artikel, mengenalkan budaya baca saat Masa Orientasi Studi.

Kedua pelajaran berbasis literasi. Dimana guru memberikan tugas sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Bentuk tugas dapat dikumpulkan menjadi portopolio yang disusun dari buku bacaan tambahan yang relevan dan disajikan dalam bentuk tulisan makalah. Hal ini, dapat menggali potensi minat baca dan tulis serta dapat menggugah naluri literasi peserta didik sesuai dengan pelajaran yang diikuti.

Ketiga, menjadikan guru sebagai role model dalam bidang literasi. Seperti yang diketahui bahwa di sekolah seorang guru akan menjadi panutan bagi peserta didik. Termasuk dalam bidang literasi, karena literasi sangat erat hubungannya dengan dunia profesi guru.

Salah satu contoh kecil adalah persyaratan kenaikan pangkat, yang mewajibkan seorang guru untuk dapat membuat publikasi ilmiah. Tentu sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, seorang guru akan membuat karya tulis ilmiah original karya sendiri, tanpa harus melakukan praktik curang nan terkutuk semisal plagiarisme (penjiplakan) dan penggunaan jasa Out-Sourcing (jasa pembuatan karya tulis ilmiah).

Ketika guru produktif dengan banyak menghasilkan karya tulis ilmiah berupa artikel ilmiah, maupun buku-buku, maka peserta didik akan termotivasi untuk meniru. Hal ini akan menjadi motivasi dan inspirasi yang penting bagi peserta didik. Banyak media untuk mempublikasikan karya tulis ilmiah. Salah satu media tersebut koran Tanjungpinang Pos, yang memberikan fasilitas bagi penulis untuk menuangkan gagasan, ide dan opini.

Kunci sukses membangun budaya literasi terletak pada komitmen bersama seluruh komponen dan elemen pendukungnya. Kesadaran akan pentingnya membaca dan menulis menjadi sebuah tradisi harus kita mulai sekarang.

Jika filosuf Yunani Descartes bangga dengan jargonnya aku berpikir maka aku ada, tidak ada salahnya jika kita memegang mantra sakti literasi “Scribo Ergo Sum“ (aku menulis, maka aku ada). Selamat tekun dalam berliterasi. Selamat datang pencerahan.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here