Usaha Mikro Asa Saat Status Buruh Berakhir

0
186
Pelaku UMKM di depan kawasan Welcome to Batam di Batam Centre. F -MARTUA / TANJUNGPINANG POS
Pandemi Covid-19, mendorong warga terdampak menyambung hidup dengan usaha mikro. Program kebijakan pemerintah bersama lembaga keuangan, membantu mereka membuka, bertahan dan mengembangkan usaha. Pelaku UMKM secara sendirinya, memasuki pasar digital.

Laporan Martua P Butarbutar, Batam

Dampak pandemi Covid-19, hingga industri di Batam, melakukan efisiensi, dirasakan, M Ocha (46). Dia habis kontrak dan tidak diperpanjang, karena tempat kerjanya melakukan efisiensi dengan tidak memperpanjang karyawan kontrak.

Kondisi ini yang mendorong M Ocha, untuk beralih pada dunia usaha. Dia ingin tetap eksis di Batam. Namun kali ini, bukan eksis sebagai karyawan lagi. Dengan modal keterampilan menjahit di perusahaan garmen, dia memilih untuk membuka usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjahit dikediamannya, di Mangsang, Sei Beduk, Batam.

Untuk modal, dia meminjam uang sekitar Rp15 juta dari bank. Karena modal terbatas, dia memilih untuk membeli dua mesin jahit bekas. Termaksud satu mesin jahit bordir. Mesin jahit ini menggunakan tenaga listrik. Modal awal ini, mengawali kepak sayapnya untuk terbang, didunia usaha.

Sisa pinjaman, digunakan untuk membeli benang, hingga kain bahan membuat pakaian. Kemudian, dia mulai membuat pakaian, seperti kemeja, kaos, jacket celana, hingga keset kaki, hingga masker kain. Ada yang dipesan tetangga hingga rekan satu lingkungan perumahan, mantan rekan kerjanya dan suaminya.

Kemudian, untuk kaos dan kemeja, banyak juga yang dibuat dengan inisiatif sendiri, untuk dijual ke pasar melalui Whatsapp, instagram dan lewat orang lain. Belakangan ini, orderan yang diterima meningkat, terutama untuk membuat keset kaki dan masker.

Setiap keset kaki, dijual Rp10 ribu. Per hari, bisa selesai sekitar 20 sampai 30 keset kaki. Namun tergantung ketersediaan bahan potongan kain. “Suami yang jemput bahan. Sekali jemput, satu atau dua karung potongan-potongan kain,” ucap Ocha.

Potongan-potongan kain itu, biasanya diperoleh pengumpul dari sisa atau potongan kain dari industri garmen. Sisa potongan itu yang kemudian dibeli Ocha, untuk dibuat jadi keset kaki.

Setelah selesai dibuat, ada agen yang akan datang untuk menjemput. Selain pesanan dari agen, ada juga pesanan dari warga hingga pedagan di pasar. Agen dan pembeli, menjemput kerumah.

Sementara untuk masker, dia membuat dari bahan kain. Terutama kain katun, sehingga lebih elastis. Ada juga yang didesain untuk bisa dimasukkan tissu, sebagai tambahan saringan udara. “Orderan keset kaki dan masker kain yang banyak sekarang,” ujarnya.

Kini Ocha menikmati kegiatan barunya dan ingin mengembangkan usahanya. Kini, tidak terfikir lagi untuk bekerja sebagai karyawan. Walau usahanya baru mulai awal tahun 2020 ini, namun orderan yang masuk sudah lumayan banyak. Sehingga biaya hidup dan cicilan kredit terpenuhi.

Ditambah, ada kebijakan relaksasi dari Pemerintah Pusat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program relaksasi ini menjadi kabar gembira untuk B Ocha. Walau pembayaran kredit masih berjalan lancar, namun kini dia tidak dihantui kredit jatuh tempo. “Ini (relaksasi) membuat kita lebih tenang kerja,” ujarnya.

Kepala OJK Provinsi Kepri, Rony Ukurta Barus melalui Kepala Sub Bagian Pasar Modal, Imaduddin mengharapkan, pelaku UMKM di Batam, memanfaatkan insentif dari pemerintah. Perbankan juga didorong lebih proaktif, untuk membantu perkembangan UMKM.

OJK sendiri membantu mendorong kemudahan akses keuangan, melalui layanan keuangan mikro. Kemudian, edukasi keuangan, laku pandai, program jangkau, sinergi dan guideline (Jaring).

“Kita bantu mendorong penyaluran KUR (kredit usaha rakyat) juga. Baru kita bantu pembinaan UMKM dan mendorong pembiayaan UMKM melalui fintech,” ujar Rony.

Rony mengapresiasi antusiasme masyarakat, untuk membangun ekonomi, melalui usaha mikro. Setidaknya, hal itu tergambar dari pertumbuhan kredit di Ban Perkreditan Rakyat (BPR).

Daya terakhir dari OJK di Kepri, kredit di BPR naik sekitar 0,20 persen (ytd), menjadi Rp5,43 triliun. Jika kredit di BPR naik, berbeda dengan kredit di bank umum, yang turun 1,60 persen (ytd) menjadi Rp37,36 triliun di bank umum.

Baca Juga :  Dosen Harus Produktif Menulis

“Sehingga total DPK di Kepri, sekitar Rp64,09 triliun. Ini bisa terjadi, karena kondisi ekonomi ditengah Covid1-19,” terangnya.

Pada kesempatan itu Rony mendorong agar perbankan, lebih proaktif untuk membantu UMKM. Memberikan edukasi kepada masyarakat, dalam pemanfaatan kemudahan di perbankan dimasa Covid-19, untuk memulai usaha.

“Kita juga dorong UMKM mengajukan restrukturisasi kredit,” pesan Rony.

Diakui, perbankan di Kepri saat ini memiliki kemampuan untuk membantu UMKM. Lembaga keuangan di Kepri, memiliki kemampuan, memberikan subsidi bunga bagi UMKM. Dengan restrukturisasi kredit atau pembiayaan.

“Kemampuan keuangan Kepri bisa dilihat dari dana pihak ketiga (DPK) di Provinsi Kepri, yang meningkat,” bebernya.

Dibanding Ocha, pelaku usaha mikro, khusus makanan, merasakan dampak lebih besar, akibat pandemi Covid-19. Namun kini pelaku usaha kecil khusus makanan dan minuman, terbantu dengan ojek online. Walau pengunjung sepi, namun pembeli lewat online cukup banyak.

Dikawasan Perumahan GMP, Sei Beduk Batam, bangunan seluas gabungan tiga Ruko, tanpa dinding berdiri, berdiri usaha Pondok Kopi. Disana, sekitar delapan pedagang, mengisi lapak jualan makanan dan minuman, beroperasi.

Diantaranya pemilik lapak, ada Dame dan Debora, yang memulai usaha, awal tahun 2020, sebelum pandemi Covid-19 di Batam. Dame menjual sarapan dan makan berupa makan dengan berbagai lauk.

Sementara Debora menjual bolu guling, roti coklat dan roti kelapa dengan harga Rp2ribu. Roti bronis dan bolu gulung disajikan dengan berbagai rasa dengan harga mulai Rp45 ribu sampai RP55 ribu. Mulai rasa coklat, nenas dan lainnya.

“Roti bolu gulung dan bronis biasanya dipesan dan diantar ke pemesan. Banyak dipesan untuk sarapan anak-anak, apa lagi sekarang belajar dirumah,” kata Debora.

Mereka terbantu, oleh pemilik Pondok Kopi, Ida. Ida rajin membantu pelaku penghuni lapak ini, untuk promosi, di media sosial. Media sosial saat ini menjadi andalan mereka memasarkan produknya.

“Selamat pagi. Sarapan pagi dengan kopi berkualitas. Ada jual roti bolu, roti gulung, lontong, nasi campur, lontong pecel, batagor, nasi uduk Jakarta, bubur ayam dan lainnya. Pengantaran hubungi 0812701XXXX atau lewat Gojek,” demikian salah satu posting Ida di media sosial.

Kini, kolaborasi pedagang dan pemilik gedung melalui promosi media sosial, memberikan hasil lebih baik. Bahkan, semakin hari, omset mereka terus meningkat, khususnya pesanan jenis kue.

Sehingga, Debora mengembangkan usahanya dengan menambah produksi roti untuk dijual di mini market. Saat mendengar kabar ada program bantuan langsung tunai (BLT) UMKM, bersama Ocha dan Dame, sempat ingin ikut.

Namun akhirnya, hanya Ocha yang ikut. Dame dan Debora, batal mengurus berkas persyaratan, karena waktu yang terbatas. Debora akhirnya memilih untuk meminjam tambahan modal ke bank.

Pilihan kesana, setelah mengetahui relaksasi restrukturisasi kredit diperpanjang selama setahun, oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Pilih bank, karena ada program keringanan kredit atau pinjaman di bank. Kita juga bisa pinjam lebih banyak untuk kembangkan usaha,” kata Debora.

Ocha, Dame dan Debora, merupakan tiga dari 15.360 orang karyawan perusahaan di Batam, yang di PHK, sejak pandemi Covid-19. Data PHK itu diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, merupakan data hingga Agustus 2020.

“Tapi jumlah PHK, lebih didominasi sektor pariwisata,” ungkap Rudi Sakyakirti.

Jumlah PHK ini menambah angka pengangguran di Batam 2019 lalu, sekitar 54.018. Seperti data yang disampaikan BPS Kota Batam tahun, 2019, dengan jumlah penduduk 1,3 juta, jumlah angkatan kerja sekitar 643 ribu orang. Sementara penduduk yang bekerja, 550 ribu orang.

Pjs Wako Batam, Syamsul Bahrum saat menikmati kuliner dari pelaku UMKM di Batam Centre, Batam. F-ISTIMEWA

Dorong UMKM Go Online

Baca Juga :  Target Raih 49 Kursi DPRD di Kepri

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Batam, Suleman Nababan berharap, agar warga yang habis kontrak kerja hingga PHK, untuk beralih ke UMKM. Potensi pertumbuhan UMKM di Batam dinilai cukup tinggi, dengan pasar seluruh daerah di Indonesia.

Kemudian potensial berkembang dengan masuk pasar negara tetangga, Malaysia dan Singapura. “Jadi kita juga bisa mengurangi masuknya makanan dan pakaian dari negara tetangga. Kita bersama untuk masuk pasar Singapura dan Malaysia,” katanya.

Saat ini sesuai data Online Data Sistem (ODS) di Kementerian Koperasi dan UKM RI, tahun 2020 ini, ada 81.486 UMKM di Batam. Dibanding daerah lain di Provinsi Kepri, jumlah UMKM di Batam jauh lebih besar.

Dimana di kota Tanjungpinang sebanyak 19.857unit , 121 unit di Kabupaten Anambas, 3.052 unit di Lingga, 356 unit di Natuna, 1.107 unit di Bintan, dan 373 unit di Karimun. Walau diakui Suleman, akibat pandemi Covid-19 ada 1.305 unit yang tutup.

Namun jumlah UMKM yang bertambah berkisar seribuan. Awalnya, penutupan UMKM terjadi, karena pembatasan pembatasan aktivitas masyarakat. Sehingga kehilangan omset 25 sampai 75 persen. UMKM yang banyak tutup, lebih banyak yang bergerak disektor pariwisata dan usaha kuliner.

“Tapi bisa kita lihat dari kegiatan promosi UMKM di media sosial. UMKM baru, cukup ramai juga di media sosial. Pelaku UMKM di Batam, sudah melek teknologi,” ujar Suleman.

Diungkapkan, data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sampai Juni 2020, sebanyak 301.115 UMKM di Indonesia, sudah beralih ke usaha digital selama pandemi COVID-19. Didorong, UMKM di Batam juga akan secara sendiri beralih ke pasar online.

Saat ini, Dinas KUMKM Batam, kini giat melakukan pendampingan dan pembinaan untuk UMKM. Sehingga bisa bertahan ditengah tekanan ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Dinas KUMKM, melalui lima orang petugas di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM.

Tenaga PLUT membantu UMKM menata manajemen. Kemudian, membangun integritas pelaku KUMKM. Melakukan pelatihan akuntansi, pelatihan packaging, sertifikasi halal, sertifikasi sehat.

“Sehingga optimisme KUMKM kedepan semakin tinggi. Kemudian, dilakukan pelatihan kewirausahaan, manajemen/keuangan, packaging, pemasaran go online, dan lain-lain,” harap Suleman.

Suleman memaparkan, fasilitasi yang sudah disiapkan dan dijalankan, antara lain fasilitasi pembiayaan oleh APBD/BLUD Dana Bergulir, fasilitas KUR, fasiltasi IUMK, Merk/HAKI, dukungan pembuatan Badan Hukum, sertifikasi halal.

“Pemerintah juga membantu promosi melalui pameran/show untuk pengembangan, misalnya batik lokal Batam,” ujar Suleman.

Pihaknya juga meningkatkan pelatihan teknologi informasi, untuk promosi. Kemudian, membuat brand produknya, sehingga lebih menarik. Termaksud untuk pemasaran secara digital.

Sehingga bisa bersama 1.100 UMKM reseler Batam, yang menjual produk impor, membangun kekuatan pasar digital. Bisa mempopulerkan UMKM Batam dipasar global.

Kepala Sub Bagian Pasar Modal OJK Kepri, Imaduddin, juga mengungkapkan dukungan mereka terhadap pengembangan UMKM. Lembaga keuangan didorong lebih proaktif lagi untuk membantu UMKM.

Perbankan didorong membantu UMKM masuk platform digital, sehingga memudahkan pertumbuhan pasar. Demikian dengan lembaga keuangan mikro, sehingga mendorong UMKM di Batam, lebih banyak memasuki teknologi digital.

Kebijakan itu, memudahkan pelaku UMKM terhubung dengan lembanga keuangan. Menjadi kebutuhan saat ini, lembaga keuangan, banyak beraktifitas secara digital. UKM juga dengan platform ekosistem digital.

“Kami dari OJK, sudah meminta juga, agar pemerintah daerah di Kepri, membantu UMKM, masuk pasar mancanegara,” terang Imaduddin.

OJK mendorong perluasan akses keuangan bagi UMKM. Akses keuangan diakui peting, sehingga bisa membantu pengembangan UMKM. “Kita mendorong pemanfaatan kredit untuk selamatkan UMKM di Kepri,” ujarnya optimis. .

Untuk tumbuh kembangnya UMKM di Provinsi Kepri, khususnya Batam, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, ikut serta. Humas BI Kepri, Andi Fauzi Rifandi mengakui, dukungan mereka, sejalan dengan OJK.

Baca Juga :  Tarif Lego Jangkar Kepri Bersaing

“BI membantu UMKM, yang butuh akses pinjaman ke lembaga keuangan. Kita juga bantu pertemukan UMKM dengan bank. Karena banyak juga program pemerintah yang masuk ke perbankan untuk disalurkan ke UMKM,” beber Andi.

BI Kepri juga membantu UMKM, dengan pelatihan. Kemudian, membantu akses pemasaran UMKM keluar daerah, melalui business matching. Mempertemukan pembeli dari luar wilayah, yang pontensi dan berminat beli produk UMKM Kepri. Selanjutnya, mendorong UMKM menggunakan transaksi non tunai.

“Kita bantu UMKM, melakukan transaksi non tunai, dengan QRIS. Terutama UMKM binaan BI Kepri,” beber Andi.

Pejabat sementara (Pjs) Wali Kota Batam Syamsul Bahrum, mendatangi pelaku UMKM di sekitar Pasar Mitra Raya, Batam Centre, Sabtu (26/10/2020). Perhatian Syamsul tertuju pada satu gerobak pedagang nasi disana. Terpampang tulisan, agen nasi bungkus Batam Rp5 ribu.

Pedagang nasi murah itu, Faizal mengungkapkan, jika per hari dia bisa menjual 150 bungkus. Sehingga omset yang diperoleh, sekitar Rp750 ribu, mulai pukul 06.00 sampai 13.00 WIB.

Pengalaman Faizal selama ini dalam berusaha, diharap Syamsul, bisa diikuti warga lainnya. Didorong agar masyarakat berani memulai usaha kecil. Terutama untuk pekerja atau karyawan, yang habis kontrak atau PHK.

“Kita harus berani memulai usaha. Pemerintah membuka akses untuk modal. Harus dimanfaatkan dengan baik,” himbaunya.

Melalui Tanjungpinang Pos, Syamsul mendorong pelaku UMKM di Batam, memanfaatkan program relaksasi dari OJK dan pemerintah pusat, dalam mengembangkan usaha. “Sekarang pemerintah membuat program bersama OJK dan BI. Bisa pinjam dan cicilan bisa lebih lama dan syaratnya tidak rumit,” pesan Syamsul.

Syamsul mengatakan saat ini, banyak pihak terlibat, membantu UMKM Batam. Di Pemko Batam sendiri, selain Dinas KUMKM Batam, ada juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam.

Dinas KUMKM membantu UMKM di pasar basah, untuk masuk pasar daring. Dimana, di Batam, dari 45 pasar yang dikelola swasta dan tujuh pasar milik Pemko Batam. Salah satunya, Pasar TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) di Batam Centre, Batam.

Khusus pedagang di pasar TPID, difasilitasi masuk pasar online, Pasar Mama. Aplikasi Pasar Mama bisa didownload di Playstore atau App Store. Pasar Mama ini berbeda dengan pasar online yang dikelola pengusaha Batam, bernama Batam Online Supermaket (BOS).

Di Pasar Mama, hampir semua yang dijual di pasar, TPID. Mulai beras, minyak goreng, gula, buah-buahan, bumbu, susu, sabun, minuman, sayuran, daging dan lainnya. Untuk pengantaran, bekerjasama dengan ojek online di Batam.

Kemudian, tahun 2021, ditargetkan, semua pasar basah di Batam, akan bisa diakses lewat pasar Mama. “Harganya, dijamin sesuai harga dari distributor. Semua kebutuhan ada di Pasar Mama,” ujarnya.

Sementara untuk pasar online BOS, produk yang dipasarkan lebih lengkap.  Selain sembako, buahan, ada juga motor listrik, pakaian, alat elektronik, buku dan lainnya.

Menurut Owner Batam Online Supermaret, Cahya, supermarket online ini, menjadi jawaban bagi masyarakat, ditengah pandemi Covid-19. BOS ini menjadi menerima pasokan dari para pedagang, untuk dipasarkan. 

“Kita bantu masyarakat dan UMKM, dengan memberikan kenyamanan,” kata Cahya. 

Menyadari kekuatan UMKM, maka DPRD Batam, mendorong Pemko memperkuat dukungannya. Selain mendukung dan mendorong pemasaran secara online, diminta agar APBD Kota Batam, tahun 2021, di re-orientasi. Re-orientasi didorong, agar postur anggaran bagi Dinas KUMKM Batam, ditingkatkan.

“Pasar online, atau sistem penjualan secara online, sudah kebutuhan. Tidak hanya karena Covid-19. Tapi, anggaran Dinas KUMKM Batam harus ditingkatkan. Sehingga bisa berbuat lebih banyak,” himbau Anggota Komisi II DPRD Batam, Sahat Tambunan.*

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here