Usianya 6 Tahun, Cuma 2 Bulan Beroperasi

0
121
Sekda kota Tanjungpinang saat meninjau SWRO beberapa waktu lalu. f-dokumen/tanjungpinang pos

Lima Tahun Proyek SWRo Rp97 Miliar Mangkrak

Proyek Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam Tanjungpinang tidak kunjung dioperasikan. padahal pembuatanya menelan biaya Rp97 miliar.

TANJUNGPINANG – Meski pembangunanya sudah selesai sejak 6 tahun lalu namun sejak diresmikan hanya 2 bulan saja beroperasi. Padahal, proyek ini dibangun untuk mengatasi masalah air bersih di Tanjungpinang.

Pada tahun 2019 mendatang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tanjungpinang telah menganggarkan Rp3 miliar untuk biaya operasional SWRO.

Dana tersebut untuk membeli obat kimia mengelola air asin jadi tawar. Sisanya, untuk biaya karyawan dan biaya listrik. Rencananya, Januari 2019 sudah bisa beroperasi penuh. SWRO Batu Hitam mampu memproduksi 2×25 kubik per detik. juga akan mengeluarkan peraturan wali kota (Perwako) tentang SWRO. Dalam perwako nanti, akan diatur tarif air SWRO yang akan dikenakan kepada pelanggan.

”Kita anggarkan Rp3 miliar. Tahun Ini Perwakonya selesai,” kata Hendri kemarin.

Kata dia, setelah Perwako keluar, maka Januari 2019, para pelanggan SWRO yang mencapai 2 ribu lebih, akan dikutip tarifnya. Tarifnya per kubik hingga ini belum diputuskan, karena masih dalam pembahasan. Pemerintah kembali lagi mendata jumlah pelanggan, karena banyak pelanggan yang membatalkan diri atau tidak mau lagi berlangganan air SWRO, karena sudah kelamaan.

Tak hanya itu, banyak juga instalasi pipa SWRO yang ke rumah-rumah pelanggan hilang termasu meteran. Ini juga perlu dilakukan verifikasi ulang.

Sedangkan tarif, sambung dia ada dua tarif yang akan diterapkan ke pelanggan. Yakni, tarif rumah tangga non subsidi dan tarif subsidi. Untuk tarif non subsidi harganya Rp25.760 per kubik dan harga subsidi Rp15.500 per kubiknya.

Tarif pelanggan SWRO memang tidak bisa terapkan sama rata. Karena ada juga yang punya usaha air minum isi ulang, panti asuhan atau masjid, dan ada pula rumah tangga biasa. Tarif tersebut akan di perkuat dengan Peraturan Wali Kota (Perwako) 2018.

Biaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan SWRO tersebut, untuk lima jam operasi per harinya, biaya obat kimia mengelola air asin jadi tawar kira-kira Rp 30 juta sampai Rp 40 juta per bulannya. Sedangkan, biaya listriknya, sekitar Rp 90 juta sampai Rp 100 juta per bulan.

”Beroperasinya SWRO secara maksimal bisa mengatasi kekurangan air bersih di kawasan Kota Lama Tanjungpinang, terutama pada saat musim kemarau,” kata Hendri.

Masih kata Hendri, setelah dioperasikan akan menambah pelanggan, karena air SWRO sudah siap diminum.”Harga sedikit mahal dibandingkan harga air PDAM, karena air SWRO sudah bisa langsung diminum,” ujarnya.

Sebelumnya, Kasubdit SPAM Perkotaan Direktorat PSPAM Kementerian PUPR, Ir Darmawel Umar meminta agar Pemprov Kepri juga membantu jaringan pipa utama dan pipa induk untuk memperluas jaringan SWRO.

Ia juga berharap, setiap bulannya, pelanggan SWRO terus bertambah. Target tahun ini, bagaimana pelanggan SWRO bisa tembus 10 ribu pelanggan. ”Kementerian PUPR baru bangun SWRO di Tanjungpinang yang berskala besar pertama di Indonesia. Kalau kecil-kecil, mungkin ada tapi yang bangun pihak swasta,” tegasnya.

Menurutnya, SWRO Tanjungpinang sebagai pilot project di Indonesia. Persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia sama dengan di Tanjungpinang, yakni saat hujan turun, air di waduk banjir. Tapi saat musim kemarau, air di waduk untuk diproduksi PDAM kering. Solusinya memang SWRO,” bebernya.

Kata dia, SWRO bagi negara Indonesia tergolong barang baru, tapi berbeda dengan negara lainya. Umumnya, negara maju sudah memanfaatkan SWRO sebagai sumber air bersih di negaranya.

Ia juga berharap, Pemko dan Pemprov Kepri tetap merawat SWRO Tanjungpinang agar tetap beroperasi dengan baik. ”SWRO ini harganya cukup mahal, peralatannya didatangkan dari Amerika Serikat,” tegasnya. (Abas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here