Waduk Susut, Air Baku Bertahan Sepekan Lagi

0
271
WADUK Sei Pulai saat kering beberapa waktu lalu. Foto diambil dari atas. f-dok/tanjungpinang pos

Musim Kemarau, Tanjungpinang Alami Krisis Air Bersih

Tanjungpinang kembali mengalami krisis air bersih. Bahkan, sisa air baku di waduk yang ada diperkirakan bertahan 7-8 hari lagi jika hujan deras tidak turun sepekan ke depan.

TANJUNGPINANG – Wahyu, Kabid Teknik PDAM Tirta Kepri, pengelola air bersih Tanjungpinang-Bintan mengatakan, saat ini sisa air baku di Waduk Sei Pulai tinggal 39 Cm. Sedangkan sisa air baku di Waduk Gesek 140 Cm.

Setiap hari, penyusutan air di Waduk Sei Pulai 4-5 Cm. Demikian juga penyusutan di Waduk Gesek. Maka, air baku di Waduk Sei Pulai bertahan sekitar sepekan lagi.

Sedangkan air baku di Waduk Gesek bertahan sebulan jika penyusutan 4-5 Cm sehari. Namun, penyusutan di Waduk Gesek akan lebih besar jika air baku di Waduk Sei Pulai sudah minus.

Sebab, produksi air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gesek akan dinaikkan untuk melayani pelanggan lain yang selama ini dilayani IPA Sei Pulai.

Pihak PDAM pun sudah menerapkan managemen air baku agar stok air bisa bertahan lebih lama. Pemadaman bergilir pun terpaksa dilakukan.

Baca Juga :  Dana Transfer Cair Rp3,5 T

Wahyu mengatakan, sekitar 13 ribu pelanggan PDAM di Tanjungpinang sudah mendapat pemadaman bergilir sejak tiga pekan lalu.

Untuk daerah Sei Jang misalnya, 2 hari hidup, 2 hari mati. Untuk daerah Jalan Ir Sutami, 1 hari hidup, 3 hari mati.

”Kecuali daerah Gesek sekitarnya, belum dilakukan pemadaman bergilir. Karena air baku di Waduk Gesek masih banyak. Sekitar 140 Cm,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (26/2).

Apabila air baku di Waduk Sei Pulai sudah minus, maka pemadaman bergilir makin lama. Sebab, sisa air di dasar waduk makin sedikit. Sehingga harus bisa diatur jangan sampai kering total. Jika kering total, belasan ribu pelanggan akan menjerit.

Wahyu mengatakan, meski hujan turun beberapa hari lalu di Tanjungpinang, namun tidak menambah stok air baku di Waduk Sei Pulai. Karena air hujan yang turun intensitasnya sedikit. Air hujan hanya bisa membasahi tanah, tidak turun ke waduk.

Ia berharap hujan turun deras. Supaya air waduk penuh. Wahyu juga berharap doa masyarakat untuk meminta hujan turun.

Krisis air bersih seperti ini selalu terjadi setiap tahun. Bahkan tahun 2019 lalu, kejadian serupa terjadi dua kali yakni Maret dan Oktober.

Baca Juga :  Usaha Tak Turun dari Langit

Krisis air kembali terjadi tahun 2020 ini. Bahkan krisis ini sudah terjadi sejak awal Februari lalu dan diperkirakan akan berlanjut ke Maret nanti. Sebab, belum ada tanda-tanda akan turun hujan deras di Pulau Bintan.

Tahun 2021 nanti, Pemprov Kepri berusaha mengatasi krisis air ini. Rencananya, Pemprov Kepri akan memasang pipa induk dari Waduk Kawal ke Waduk Gesek. Sehingga, ketika musim kering terjadi, air baku bisa didistribusikan dari Waduk Kawal ke Waduk Gesek.

Pemprov juga rencananya akan mengganti pipa-pipa yang sudah tua di Batu 7 hingga Batu 10 Tanjungpinang tahun depan. Pipa-pipa ini sudah bolak balik bocor dan merusak jalan raya.

Sehingga banyak jalan bergelembung akibat penggalian jalan raya saat memperbaiki pipa-pipa yang bocor tersebut. Usia pipa-pipa itu sudah puluhan tahun dan selayaknya harus diganti.

Saat ini, jumlah pelanggan PDAM Tirta Kepri di Tanjungpinang sekitar 13 ribu. Pelanggan di Gesek sekitar 4 ribu. Masih ada 7 ribuan calon pelanggan PDAM di Tanjungpinang yang sudah mendaftar alias masuk daftar tunggu (waiting list).

Selain di Tanjungpinang dan Gesek, masih ada pelanggan PDAM Tirta Kepri di daerah Bintan. Namun sumber air baku yang mengalami kekeringan hanya terjadi di Tanjungpinang.

Baca Juga :  Ayo, Ikut Tulisan Kearifan Lokal Berhadiah Rp100 Juta!

Jika dilihat dari jumlah bangunan di Tanjungpinang yang mencapai 60 ribu, maka PDAM baru bisa melayani sekitar 25 persennya. Penyebabnya karena minimnya air baku dan juga besarnya biaya pemasangan pipa untuk pelanggan yang baru.

Sisanya 75 persen menggunakan sumur sendiri, sumur bersama maupun sumur yang dibangun Pemko Tanjungpinang termasuk yang dilayani dari RO (Reverse Osmosis) di Pulau Penyengat dan SWRO (Sea Water Reverse Osmosis).

SWRO merupakan pengolahan air laut menjadi air tawar. Kualitas air bersih yang dihasilkan lebih bagus. Hanya saja, biaya pengolahannya lebih mahal. Sehingga, harga airnya per meter kubik pun jauh lebih mahal dari air PDAM Tirta Kepri.

PDAM Tirta Kepri merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Kepri. Dulunya, PDAM ini milik Pemprov Riau. Setelah pemekaran provinsi, PDAM ini diserahkan Pemprov Riau ke Pemprov Kepri.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here