Wahai Penulis, Mari Berlari!

0
555

Menjangkau kilometer demi kilometer itu menyiksa, menuntut fokus, dan hipnotik – seperti menuliskan kata per kata di atas kertas.

NICK RIPATRAZONE – The Atlantic
(Diterjemahkan oleh Fatih Muftih)

DARI The Iliad karya Homer sampai puisi A.E. Housman tentang seorang atlet yang mati muda, dilukiskan dengan sangat gamblang tentang aktivitas berlari. “Bergeraklah seperti tungkai pelari bekerja,” tulis W.H. Auden, “Pada sebuah orbit, yang melingkar dan tanpa akhir.” Memang telah ada sejak dahulu kebiasaan ketika penulis sejenak meletakkan pena atau meninggalkan layar dengan berjalan-jalan. Jonathan Swift, menurut Samuel Johnson, biasanya “lari ke bukit setiap dua jam sekali, setengah mil naik dan setengah mil turun” ketika ia berusia 20-an. Sedangkan Louisa May Alcott sudah biasa berlari sejak muda: “Saya selalu berpikir saya adalah seekor rusa atau seekor kuda di sebuah bekas ladang,” tulisnya di sebuah jurnal, “karena berlari itu sangat menyenangkan.”

Perasaan merdeka, kesadaran, dan bahakn keliaran: Lari memberi ruang pada penulis untuk sejenak meninggalkan dari tujuan yang memusingkan. Ketika sedang bersihadap dengan masalah dalam penulisannya yang “panjang, geram, frustrasi dan kadang-kadang menyiksa ketika pagi tiba,” Joyce Carol Oates akan dengan mudah meredakannya lewat lari pada sore hari.

Bagi Oates dan penulis lain, lari adalah proses dan pembuktian, yang akan begitu berguna ketika terkungkung dari intensitas pekerjaan yang dilakukan. Tapi, sebenarnya lari juga bagian dari sebuah pekerjaan menulis. Kemantapan menapaki kilometer demi kilometer adalah cerminan dari kemantapan menulis dari halaman ke halaman.

Ketika berlari, penulis mempertajam kemampuannya fokus untuk menyelesaiakn tugas dengan memasuki alam pikir baru, semacam kata ke kata, atau kilometer ke kilometer.

Ketika perayaan Hari Sabat di London pada 1972, Oates yang dirundung rindu kampung halaman memilih berlari. Dan di waktu yang sama, ia mampu menulis jurnal empat ribu kata dengan spasi tunggal dan diketik di atas kertas.

“Lari, bagi saya, seperti memperlebar kesadaran saya seperti ketika sedang menulis. Nampak seperti di film atau mimpi,” tulisnya.

Oates masih terus berlari menaiki bukit yang dia rasakan seperti, “ada sebuah ide yang menunggu saya di sana. Sebuah ide yang tidak pernah sama jikalau saya hanya duduk di kamar.”

Don DeLillo juga menikmati efek dari berlari usai menulis pada pagi hari. “Lari sangat membantu saya ‘berpindah’ dari satu dunia ke dunia lain. Pepohonan, burung-buruung, gerimis – suatu selingan yang menyenangkan.”

Mengapa banyak penulis menyukai berlari? Sebab berlari juga mengajarkan tentang kebebasan dari jarak, sebuah ruang sunyi yang sama ditawarkan dalam kegiatan menulis itu sendiri. Ada ruang meditatif antara napas yang terengal-engal dan jarak yang diusahakan.

Penulis dan pelari bekerja dalam alam pikir yang sama, dan penulis-yang-berlari akan dengan lebih mudah menyadari hubungan keduanya, bahwasanya antara seni dan olahraga, adalah suatu mutualisme yang menyenangkan.

Novelis Haruki Murakami, pernah menjadi seorang manajer bar Jazz di Tokyo. Semasa itu, gaya hidupnya buruk sekali dengan mampu menghabiskan 60 batang rokok dalam sehari. Lalu ia mulai berlari untuk memperoleh kesehatannya kembali sekaligus mengurangi berat badannya.

Ketika novel ketiganya baru dirilis, ia merasa baru benar-benar menjadi penulis seutuhnya. “Dan perasaan ini,” kata Murakami, “timbul seiring ketika saya memutuskan untuk serius berlari.” Bagaimana pun, diakui dia, rutinitasnya berlari membantunya dalam menyelesaikan kalimat demi kalimat, halaman demi halaman.

Seorang Neurosaintis, pernah menjelaskan, bahwasanya pengalaman berlari itu serupa dengan mengalami ketakterhinggaan-dalam-waktu-dan-ruang. Di sini, perhatian terpusatkan dan imajinasi terbangunkan.

Sekali lagi, penulis dan pelari menggunakan jargon yang sama: taklukkan penghalang, untuk menggambarkan momen ketika bekerja segenap tenaga itu sebagai sebuah keriangan. Ketika majal di kalimat, penulis harus mengikat tali sepatunya dan pergi lari. Memang, sehabis itu, ia akan berkeringat, dan lebih lelah, tapi percayalah, seringkali sehabis lari itu tenaga untuk merampungkan kalimat demi kalimat jadi lebih prima.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here