Wantimpres Tampung Keluhan Nelayan

0
290
TIM Watimpres ketika dialog bersama nelayan budidaya ikan Napoleon, Kamis (19/4). F-ISTIMEWA

Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mendatangi Kabupaten Kepulauan Anambas untuk menyelesaikan permasalahan nelayan khususnya bagi nelayan budidaya, Kamis (19/4).

ANAMBAS – Sebelum berdialog, beberapa orang anggota Wantimpres telah lebih dulu mendapatkan penjelasan persoalan yang terjadi di Aula Kantor Bupati Anambas. Sekretaris anggota Wantimpres IGK Manila, langsung membahas satu per satu permasalahan yang terjadi.

Pasalnya, tujuan kedatangannya ke Anambas tidak lain yakni untuk mendengarkan keluhan dari nelayan kemudian mencari solusi ke depan supaya nelayan di Anambas khususnya nelayan budidaya menjadi lebih maju.

Dengan demikian, budidaya ikan di Anambas diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). ”Ini tidak mudah tanpa bekerja keras,” ungkap IGK Manila, kepada seluruh pegawai yang hadir, termasuk perwakilan nelayan Anambas yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Anambas, Kamis (19/4).

Dirinya juga sudah mendengar kabar mengenai moratorium ekspor ikan Napoleon, yang sempat membuat nelayan budidaya Anambas kelimpungan karena tidak bisa menjual ikan Napoleon mereka. Sementara itu, kelompok nelayan budidaya sudah menghabiskan banyak biaya untuk pembesaran ikan.

Ia pun langsung meminta penjelasan kepada Kepala Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas Catharina Dwi Retno Erni Winarsih bagaimana cara jualnya dan kemana pemasarannya.

Ia pun menjelaskan, jika beberapa tahun yang lalu kuota ekspor ikan Napoleon terbatas yakni sekitar 2 ribu ekor per tahun. Sementara itu, jumlah ikan Napoleon di Anambas jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Sehingga, tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan nelayan budidaya.

Selain jumlahnya yang terbatas, tata cara pengiriman ikan juga berbeda. Biasanya, kapal asing yang mengambil langsung ikan tersebut. Tetapi saat ini, lanjut Catharina, pengiriman ikan harus menggunakan kapal Indonesia dan menggunakan jalur udara yakni melalui Batam dan Bali. Sehingga, hal ini menyulitkan bagi nelayan budidaya.

”Ikan ini dijual dalam keadaan hidup. Jadi tidak ada kapal Indonesia, yang spesifikasinya sama dengan kapal dari luar terlebih lagi melalui jalur udara. Alhamdulillah, tahun 2018 ini Anambas sudah usulkan 20 ribu ekor dan pengirimannya seperti sebelumnya,” jelasnya.

Catharina juga menjelaskan, untuk jumlah nelayan perikanan ada 1.165 nelayan budidaya dengan 3.045 keramba. Mengenai benih ikan, bisa didapatkan dari alam daerah maupun dari luar daerah. Dirinya menyarankan, agar pemerintah pusat membantu membangun Balai Benih Ikan (BBI) di Anambas. ”Daerah sudah membuat Detail Engineering Design (DED) tinggal pemerintah pusat bantu bangun,” ungkapnya. (INDRA GUNAWAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here