Warga Kembangkan Madu Kelulut

0
281
SARANG madu kelulut di Tanjung Semangat, Kelurahan Tanjung Berlian, Kundur Utara, Karimun. F-ISTIMEWA

Untuk membangkitkan perekonomian, masyarakat suku asli di Tanjung Semangat, Tanjung Berlian, Kundur Utara mengembangkan usaha budi daya madu Kelulut. Usaha itu dijalankan, melalui Kelompok Belajar Usaha (KBU) dengan memanfaatkan peluang usaha yang ada di lingkungan mereka.

KARIMUN –  ”Sebagian dari masyarakat di daerah itu, bekerja menebang bakau. Untuk kita melarangnya tidak mungkin, karena itu salah satu pekerjaan mereka. Tingginya permintaan sarang kelulut, warga pun mencarinya di hutan mangrove dan dapat dijual dengan harga Rp100 ribu per sarang. Maka kita berdayakan mereka, untuk dipelihara di komunitas mereka,” kata Khalil, pembina KUB tersebut.

Sekarang sudah ada sekitar 38 tong, dan telah produksi sekitar 20 tempat.

Pada panen perdana, telah mendapatkan 15 botol madu dengan harga per botolnya Rp100 ribu.

KBU terdiri dari 11 kepala keluarga, dengan jumlah anak anak 50 orang.

Dimana pekerjaan orang dewasa berburu dan perempuan kerja di dapur arang. Peluang budidaya madu kelulut terbuka lebar, dengan harga ekonomis yang tinggi. Sehingga, madu layak dikembangkan sebagai usaha baru.

Untuk itu, masyarakat ditemui dan memberikan pemahaman tentang budi daya madu kelulut yang dipasarkan ke Malaysia dan Kepri.

”Setelah diberikan pemahaman, dan kemudahan bekerja dibandingkan harus mencari di hutan dan bekerja di dapur arang. Alhamdulilah, masyarakat mau dan sangat serius mengembangkannya. Terpenting, hasilnya sudah dapat dinikmati saat ini oleh masyarakat,” tambah Khalil.

Madu kelulut, lanjut Khalil, sangat bermanfaat untuk pengobatan. Baik untuk penderita kolestrol, gula, dan sebagai penambah daya tahan tubuh dikala lelah.

Madu kelulut terasa manis asam ketika di minum, dengan campuran air hangat atau ditelan langsung.

Ke depan, ia bersama masyarakat akan menjadikan kampung tersebut menjadi salah satu tujuan wisata.

Dimana, pengunjung dapat langsung melihat sarang atau budidaya madu tersebut, dan minum madu di tempat asal.

”Budidaya madu ini sudah lama dilakukan masyarakat. Hanya dikelola dengan pribadi, tidak dengan per kelompok,” terang Khalil mengakhiri. (ALRION)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here