Warga Kerandin Usulkan Wisata Buaya

0
641
WARGA Daik menyaksikan buaya yang ditangkap Mahmud dan warga Kampung Siak, di Daik Lingga tahun lalu. f-ISTIMEWA

Warga Desa Kerandin mengusulkan Pemkab Lingga agar memanfaatkan keberadaan buaya muara yang ada di sungai desa tersebut menjadi potensi daya tarik pariwisata.

LINGGA – Usulan itu dengan menjadikannya penangkaran budaya. Selain melindungi warga nelayan dari serangan buaya, juga dapat menjadi destinasi pariwisata bagi wisatawan mancanegara dan nusantara.

”Pemerintah Daerah harus memberi solusi sebab sudah memakan korban. Walaupun buaya merupakan satwa yang dilindungi, sebaiknya ada tindakan cepat pemerintah daerah untuk berkoordinasi dengan instansi teknis agar tidak ada korban lagi,” kata Alwendi, yang mewakili masyarakat Kerandin, kemarin.

Alwendi menjelaskan, keberadaan buaya muara di Desa Kerandin itu sangat potensial menjadi daya tarik pariwisata. Namun, keberadaan buaya akhir-akhir ini sering disakiti sehingga memakan korban.

”Paling tepat pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pariwisata, berkoordinasi dengan Balai Konservasi Satwa untuk penanganan buaya-buaya tersebut. Ini pastinya akan memberikan manfaat yang luar biasa, terutama untuk desa itu sendiri,” ujarnya.

Dengan penangkaran buaya, secara langsung akan membuat daerah ini menjadi pusat konservasi buaya satu-satunya di Provinsi Kepri.

Dengan menjadi daerah konservasi, maka daerah ini akan dikunjungi peneliti dan wisatawan. ”Secara langsung bisa menghidupkan pereko omian warga,” imbuhnya.

Keganasan buaya dirasakan Mujiono (29), nelayan asal Desa Kerandin, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga. Warga yang bekerja sebagai nelayan ini, diterkam buaya saat memasang jaring kepiting di Sungai Kerandin, Rabu (31/1) sekitar Pukul 16.00 WIB.

Akibatnya, korban harus dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Encik Maryam, Daik untuk mendapatkan perawatan dengan enam jahitan bekas gigitan buaya. Berdasarkan ceritanya saat itu, ia diterkam saat berada di atas sampan dan dibanting ke dalam air. Dalam kondisi tersebut, Mujiono mengaku tidak mengetahui apa-apa.

Bahkan, ia berupaya untuk melakukan perlawanan agar bisa lolos kemudian muncul ke permukaan air dan berenang menghampiri tebing sungai. Ia pun tidak mengetahui, sebesar apa buaya yang nyaris membinasakannya. (TENGKU IRWANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here