Warga Kompak Bangun Rumah Damianus

0
220
WARGA membangun rumah di samping pondok Damianus. f-andri dwi sasmito/tanjungpinang

Hidup Sebatang Kara, Tinggal Di Pondok Reyot

Belasan warga masuk ke dalam hutan berada di Kampung Mekar Sari perbatasan antara RT2 dan RT3/RW8, Kampung Mekas Sari Tanjungpinang, Minggu (13/1) pagi. Kedatangan mereka ke hutan, bukan untuk berburu hewan buas. Lalu untuk apa bawa senjata tajam?

TANJUNGPINANG – Rombongan warga masuk ke dalam hutan membawa senjata. Ada warga yang bawa senjata tajam, seperti parang. Kemudian, ada juga warga membawa mesin chain saw, martil, cangkul, paku sampai material bahan bangunan, yakni kayu, papan dan asbes alias atap rumah.

Alat serta material bangunan tersebut akan dipergunakan untuk membangun pondok. Pondok yang dibangun dengan panjang sekitar 5 meter, lebar sekitar 3 meter dan ditambah dapur berukuran kurang lebih 1,5 meter.

Pondok dibangun sangat sederhana bukan digunakan untuk warga tersebut. Tapi, melainkan untuk tempat tinggal Damianus.

Saat dibangun pondok baru, warga memberikan hiburan kepada Damianus. Hiburan yang dinikmati Damianus, adalah lagu Arafiq.

Dengan diputarkan lagu Arafiq, membuat badan Damianus bergoyang. Sambil menikmati sebatang rokok, Damianus nyanyi lagi Arafiq sesuai dengan lirik lagu.

”Dia (Damianus, red) tidak tahu, pasti bakal marah melihat barang-barang bekas kita bakar,” kata Heri Sutrisno, Ketua RW8 Kampung Mekar Sari kepada Tanjungpinang Pos, Minggu (13/1).

Jangankan barang tidak berguna dibakar, kalau melihat warga bangun pondok baru, pasti Damianus kesal sambil ngomel tidak berhenti-henti. Karena menurutnya, dirinya tidak mau menyusahkan warga setempat.

”Nanti, kita akan robohkan pondok lama. Makanya, kita putarkan lagu Arafiq terus. Biar tidak tahu,” ucap Heri.

Awalnya, warga tersebut prihatin melihat kondisi tempat tinggal pria berusia 82 tahun itu. Karena tempat tinggalnya dipenuhi barang bekas.

Padahal, pria kelahiran 1937 ini, bukanlah seorang pemulung yang memungut hingga mengumpulkan barang bekas. Nampak berang bekas di sana seperti alat dapur berbahan aluminium sampai dengan plastik.

”Dia (Damianus, red) bukan pemulung. Tapi, suka mengumpulkan barang. Coba lihat, isi di dalam rumahnya dipenuhi barang bekas,” terang Heri.

Sebelum dibangun, Damianus dibujuk berbagai kalangan untuk tinggal hingga menumpang di rumah salah satu warga Kampung Mekar Sari. Tapi, bujukan tersebut tidak berhasil membuat Damianus mau tinggal di rumah warga tersebut.

Lalu warga kembali berembuk. Ide yang muncul adalah membangun kembali pondok untuk Damianus.

Dengan ide tersebut, warga pada sepakat. Maka dari itu, warga berbondong-bondong berupaya mencari hingga mendapatkan material bangunan tersebut seperti kayu, triplek sampai dengan asbes untuk atap rumah.

”Alhamdulillah, Pak Kapolsek menyumbang satu kodi asbes. Ada juga sumbangan dari warga dan Pak Lurah Pinang Kencana, Syamsul Bahri,” kata Ketua RT3, Sukijo.

Sambung Heri Sutrisno, Damianus tinggal di Tanjungpinang sebatang kara. Artinya, tidak ada satupun keluarga Damianus di Tanjungpinang. Semua keluarganya berada di daerah Flores.

Damianus masuk hingga tinggal di Tanjungpinang sejak 1962 lalu sampai dengan sekarang. Awal ceritanya, Damianus bersama beberapa temannya merantau dari Flores.

Tujuan awalnya, Damianus serta kawannya ingin mengubah nasih ke negeri Malaysia. Tapi, tidak sampai.

Pasalnya, kapal layar yang ditumpangi rombongan Damianus bersandar di Pelabuhan Tanjungpinang. Sesampai di Tanjungpinang, Damianus berpisah dengan temannya datang dari Flores. Ada temannya pergi menuju daerah Bintan, seperti daerah Kijang dan Tanjunguban.

”Masih mudanya, mau bergaul dan rajin. Kalau ada kegiatan gotong-royong, dia langsung ikut gabung,” terangnya.

Masih di tempat yang sama, Lurah Pinang Kencana, Syamsul Bahri mengatakan, meskipun orang merantau, pemerintah sudah memberikan perhatian besar buat Damianus. Karena pemerintah sering memberikan bantuan kepada Damianus.

Jangankan bantuan, sampai sekarang Damianus sudah memiliki BPJS serta identitas lengkap, seperti KTP dan KK.

”Semua ini berkat Pak RT, Pak RW dan warga Kampung Mekar Sari yang betul-betul peduli dengan beliau (Damianus, red),” sebut Syamsul Bahri.(ANDRI DWI SASMITO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here