Warga Pelantar Harap Pemerintah Fungsikan SWRO

0
447

TANJUNGPINANG – Warga di pelantar berharap pemerintah dapat segera merealisasikan janjinya untuk mengoperasionalkan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam. Banyak warga masih memanfaatkan air dari pompong-pompong atau air tangki. Padahal meteran SWRO dipasang yang diyakini akan sangat membantu warga.

Warga Pelantar III, Ayu menuturkan, sejak pemasangan meteran dan pipa selesai di rumah hingga kini belum pernah dialiri air dari teknologi SWRO ini.

Keberadaan SWRO, pdahal telah lama dinanti warga lantaran bisa menjadi solusi nyata ketika musim kemarau atau kebutuhan sehari-hari nantinya. ”Kami sangat berterimakasih kalau 2017 SWRO akan dioperasionalkan. Saya secara pribadi snagat butuh,” katanya belum lama ini.

Menurutnya, kebutuhan terhadap ketersediaan air bersih di kawasan pelantar bukan aktivitas rumah tangga saja. Tapi juga untuk memenuhi usaha kecil-kecilan yang dimiliki warga sekitar.

Air menjadi sumber yang snagat dibutuhkan dan solusinya ditunggu hingga saat ini. Para warga sudah merasa senang, ketika pemerintah melakukan pemangan meteran dan selang.
Meski belum dijalankan, warga merasa ada harapan terkait pemenuhan air. ”Warga kami sangat semangat dengan kehadiran SWRO yang bisa menjadi solusi ketika kemarau,” jelasnya.

Sementara itu, Agus warga Pelantar II juga menuturkan hal yang sama. Ia dan keluarga sudah menunggu hadirnya SWRO. Ia berharap di bawah koordinasi Pemko yang kini sudah membentuk UPTD Air Minum bisa segera mengoperasionalkan SWRO.

Apalagi saat musim kemarau, air menjadi kebutuhan yang mahal dan sulit di dapatkan warga pelantar. ”Apalagi kami yang tinggal dibagian ujung ini, hendak membeli air bersih dari mobil tangki tidak mungkin. Jadi membeli air melalui kapal pun tidak bisa setiap butuh ada,” ungkapnya.

Pria separuh baya tersebut mengatakan, hal yang sangat memprihatinkan yaitu pemenuhan air. ”Bila musim kemarau tak jarang kami menggunakan air payau. Ini sangat menyedihkan,” tuturnya.

Biasanya ini didapat dari pedagang air menggunakan pompong. Harganya juga lumayan mahal, kisaran Rp 80 ribu per satu kibuk atau seribu liter. Jumlah tersebut hanya cukup beberapa hari saja.

Kondisi ini sudah dialami sejak puluhan tahun, dan beraharap di 2017 ini terbebas dari kesulitan air. ”Saya berharap sebelum habis masa jabatan wali kota dan wakil, SWRO bisa mengalir ke rumah,” (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here