Warga Robohkan Pagar Pembatas

0
372
Warga melintas di bangunan pembatas jalan yang sudah dirobohkan oleh warga, kemarin f-raymon/tanjungpinang pos

Warga Kampung Melayu di Batu 6 RT 1 RW 3 mengamuk dan merobohkan tembok pembatas jalan menuju Kampung Pelangi, Senin (13/8). Tembok pembatas jalan dibangun pengusaha.

TANJUNGPINANG – Tembok yang terbuat dari tiang cor dan batako itu kini rata dengan tanah usai dirobohkan oleh ibu-ibu yang sudah resah sejak berdirinya bangunan tersebut. Mereka tidak menerima perusahaan yang diduga milik Djodi membangun pagar pembatas yang panjangnya sekitar 10 meter dan tingginya 1,5 meter.

Mereka terpaksa merobohkan pagar pembatasan karena mempersempit jalan menuju rumah warga dan jalan untuk mengambil air di sumur. Saat pagar dirobohkan tidak ada satupun pihak kepolisian berada di lokasi.

Sejak pagar pembatas dibangun warga tidak bisa lagi melintas menggunakan sepeda motor.

Warga juga beranggapan kalau pihak perusahaan tidak memiliki izin untuk membangun pagar pembatas tersebut. Pihak perusahaan juga tidak minta izin kepada masyarakat setempat.

Kampung Melayu ini, merupakan objek wisata baru di Tanjungpinang. Kawasan ini sudah dicat warna warni seperti pelanggi, agar menjadi daya tarik wisatawan. Kampung Pelangi ini juga telah dibuat tempat ber-selfie bagi pengunjung.

Pantauan di lapangan, tembok yang kokoh bisa dirobohkan oleh ibu-ibu dibantu warga sekitarnya. Dahulunya, tembok yang dibangun ini merupakan akses jalan warga sekitar. Namun sejak berdirinya tembok warga tidak bisa lagi menggunakan jalan tersebut.

Darmisna, warga setempat mengatakan, sebelum melakukan aksi merobohkan tembok, warga setempat sudah menegur pihak pengusaha untuk tidak membangun tembok pembatas. Tapi, pihak perusahaan tidak mau mendengarkan suara masyarakat.

”Jalan itu kemarin lebar, sekarang kita mau mengambil air melewati jalan itu sempit. Semakin susah akses jalannya,” katanya.

Lanjutnya, sebelum membangun tembok pihak perusahaan juga tidak pernah meminta izin untuk pembangunan tembok pemisah tersebut. ”Basa-basi pun tak ada mau membangun itu, langsung bangun saja,” jelasnya.

Darmisna menjelaskan, masyarakat juga pernah bertemu pemilik gudang yakni Djodi untuk meminta akses jalan tapi kenyataan cuman sedikit. ”Kita meminta sedikit jalan untuk bisa dilewati, mulai dari sekarang kami tidak mengizinkan lagi untuk membangun,” ujarnya. (RAYMON)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here