Warga Singapura Berkurban di Panti Asuhan Ya Bunayya

0
79
Warga Singapura saat menyaksikan proses penyembelihan sapi di Panti Asuhan Ya Bunayya, Batam. F-istimewa

BATAM – Suasana di Panti Asuhan Ya Bunayya,  Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Batam riuh oleh kedatangan warga Singapura yang akan berkurban.

Sejak pagi rombongan dari negeri jiran sudah datang dan dipimpin oleh Ustad Eep atau biasa dikenal dengan panggilan Ustad Bro ini.

Tidak hanya warga Singapura yang beragama Islam saja, nampak juga warga etnis Tionghoa non Muslim yang ikut berbagi pada momen perayaan Idul Adha 2019 ini.

Eep menuturkan, tidak kurang dari 200 warga Singapura dan Malaysia yang berkunjung untuk menyaksikan prosesi pemotongan hewan kurban. Momen ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu, khususnya bagi warga Singapura karena hal tersebut tidak akan disaksikan ketika mereka berkurban di Singapura karena memang tidak ada.

Pihaknya, lanjut Eep tidak membatasi para donatur ketika mereka berada di panti ini, bahkan sebelum petugas melakukan pemotongan, mereka akan menawarkan apakah para donatur akan memotong sendiri atau diwakilkan kepada petugas.

“Kita siapkan makan untuk mereka, kita siapkan hewan kurban sesuai permintaan mereka. Kalau mereka potong sendiri juga boleh, cuma belum ada yang mau,” kata Ustad Eep sambil tersenyum.

Ia menuturkan, di Ya Bunayya sendiri, pihaknya mendapat amanah hewan kurban sebanyak 93 ekor, dengan perincian 85 kambing dan 8 sapi. Dari jumlah tersebut kebanyakan berasal dari bantuan warga Singapura.

Untuk distribusi daging kurban ini, pihaknya akan menyasar masyarakat yang ada di kawasan perkebunan di sepanjang Jalan Trans Barelang, lokasi dimana kawasan panti ini berada.

“Harapan kita bisa didistribusikan ke semua warga di kawasan Barelang, tapi kita sesuaikan dengan jumlah daging yang ada, sekarang kita belum tahu ada berapa banyak karena masih dipaket,” kata Eep lagi.

Syaikh Muhammad bin Syaad, salah satu warga Singapura yang ditemui di lokasi ini, mengaku baru pertama kali melakukan kurban di Batam. Ia memilih Batam karena beberapa pertimbangan, salah satunya bisa melihat langsung prosesi penyembelihan hewan yang dikurbankannya.

“Kalau di Singapura kita tak bisa lihat. Kita tak bisa masuk tengok orang sembelih, rasa kurang puas,” kata Syaikh.

Tidak itu saja, kegiatannya berkurban ini juga disertai dengan  kegiatan sosial lain yang dilakukan Syaikh dan keluarganya berbagi santunan kepada anak-anak yatim di panti asuhan ini.

Syaikh sendiri mengaku sangat menikmati kegiatan pertamanya ini, dapat pengalaman langsung melihat bagaimana warga bersusahpayah menjatuhkan sapi dan menyembelihnya.

Hingga sekitar pukul 14.00 WIB kawasan panti ini masih dipadati oleh warga Singapura, Malaysia, dan donatur yang asal Indonesia. Mereka membaur bersama pengurus panti, menyaksikan prosesi penyembelihan, pemotongan daging, dan kegiatan lainnya. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here