Wartawan SMAN 1 Bintim Dibekali Ilmu Dasar Jurnalis

0
149
WARTAWAN dan fotographer SMAN 1 Bintan Timur mengikuti pelatihan jurnalistrik, Sabtu (27/10) di sekolah itu. F-istimewa/humas sman 1 bintan timur

BINTAN – Belasan wartawan dan juru foto/fotographer Tabloid Warta One SMAN 1 Bintan Timur (Bintim) mengikuti pelatihan jurnalis di sekolahnya, Sabtu (27/10) lalu.

Kepada mereka, narasumber yang didatangkan menjelaskan ilmu dasar jurnalis yakni 5W1H (What, When, Where, Who, Way dan How). Pelatihan itu dilakukan lebih fleksibel, mulai dari penjelasan, latihan dan tanya jawab.

Martunas Situmeang, salah satu wartawan Tanjungpinang Pos yang menjadi narasumber mengawali pelatihan itu dengan langsung bertanya apakah di antara siswa itu ada yang flu atau batuk. Ternyata tidak ada yang flu atau batuk saat itu.

Lalu narasumber tersebut kembali bertanya flu dan batuk biasanya disebabkan apa? Siswa menjawab karena virus. ”Virus itu menular. Ilmu jurnalis juga demikian. Lebih cepat jika ditularkan,” kata Martunas yang membuat siswa mengangguk-angguk.

Kemudian narasumber menceritakan kecelakaan lalulintas di Batu 16 yakni satu unit pikap masuk parit gara-gara menghindari anak sekolah yang naik motor, bonceng tiga, tidak pakai helm dan mendadak mengerem di tengah jalan.

Parto yang mengemudikan mobil tersebut langsung banting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan anak sekolah tersebut sehingga masuk parit. Akibatnya, Parto mengalami luka di tangan kanan, kiri dan dahi serta darah segar tercecer di mobilnya akibat luka itu.

Parto sempat menjerit minta tolong, namun anak sekolah tersebut langsung kabur. Mobil Parto pun mengalami kerusakan di bagian kaca depan, bodi sebelah kiri dan kaca spion.

Setelah menceritakan kejadian ini, lalu narasumber menjelaskan tentang 5W1H. Wartawan sekolah yang menjadi peserta pelatihan tersebut sudah memahaminya. Namun, masih sulit bagi mereka mengaplikasikannya dalam bentuk berita.

”Yang saya ceritakan tadi tidaklah nyata. Kejadian itu tidak terjadi. Namun, dari cerita kejadian itu, semuanya sudah lengkap. Sudah ada 5W1H,” jelasnya.

What (apa yang terjadi), Where (dimana kejadiannya), When (kapan kejadiannya), Who (siapa korbannya), Why (kenapa terjadi) dan How (bagaimana peristiwa itu bisa terjadi). Kemudian, narasumber juga menjelaskan tentang pola piramida terbalik. Bentuk Piramida, kata Martunas, bagian atas runcing dan bagian bawah (pondasinya) melebar.

”Menulis berita itu seperti Piramida terbalik. Artinya, informasi atau data-data yang paling penting berada di bagian atas atau di lead berita. Makin ke bawah, informasi pendukung saja. Tapi inti berita di bagian atas,” ungkapnya lagi.

Apa gunanya Piramida terbalik, kata dia, apabila berita dimuat di media cetak dan space halaman tidak mencukupi serta berita harus dipotong dari bawah, informasi penting tetap bisa terbit. Karena informasi utamanya ada di bagian berita paling atas.

Setelah mendengarkan penjelasan itu, Martunas langsung meminta siswa mengambil buku tulis dan pena kemudian meminta siswa menulis berita berdasarkan data kejadian yang diceritakannya dari awal. ”Waktunya 7 menit. Paling lama 10 menit. Teknik menulisnya sudah saya sampaikan tadi. Ingat 5W1H dan Piramida terbalik. Mulai dari sekarang,” katanya tiba-tiba.

Spontan siswa sibuk dengan pelatihan itu. Mereka tak menyangka, narasumber akan langsung pada pola pelatihan.

Iman Sabarullah, S.Pd, Panitia Program Sekolah Rujukan SMAN 1 Bintan Timur mengatakan, sebagai sekolah rujukan, salah satu program yang dijalankan adalah Pemantapan Literasi siswa. Iman pun senang karena siswanya langsung diberi pelatihan menulis berita dengan model tulisan untuk koran harian yang dikonsumsi masyarakat luas.

Martunas mengatakan, pelatihan itu benar-benar sesuai dengan tema kegiatan yakni peningkatan literasi siswa. Dari cerita yang disampaikan narasumber itu, akan ketahuan keseriusan siswa dalam mendengar cerita lalu dituangkan dalam berita. (ais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here