Waspada Bencana!

0
453
Sopian Pardomuan

Oleh : Sopian Pardomuan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Kota Tanjungpinang merupakan suatu daerah yang wilayahnya dikelilingi oleh laut, sehingga dapat saja memungkinkan wilayah ini memiliki potensi untuk terjadi bencana pesisir seperti gelombang tinggi, abrasi dan sedimentasi. Kita semua tentu tak ingin dihadapi bencana. Untuk itu dibutuhkan suatu informasi kepada masyarakat mengenai daerah yang rawan terjadinya bencana. Informasi tentang daerah rawan bencana sangat diperlukan dalam upaya mitigasi bencana di Kota Tanjungpinang. Apalagi masyarakat sekarang awam terhadap perubahan iklim yang tak menentu ini.

Menurut penelitian Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Maritim Raja Ali Haji dalam Jurnalnya yang berjudul “Aplikasi Sig untuk Penentuan Daerah Potensial Rawan Bencana Pesisir di Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau”, Kota Tanjungpinang memiliki tingkat kerawanan untuk bencana gelombang tinggi. Gelombang tinggi pada musim utara berada di Sebauk, Pulau Basing, Sekatab dan Kelam Pagi dengan panjang garis pantainya yaitu 6.992,239 m. Kemudian untuk kerawanan gelombang musim selatan berada di pulau Penyengat, Dompak, Basing, dan Sekatab yang memiliki panjang garis pantai 12.259,228 m.

Mengingat wilayah Kota Tanjungpinang yang merupakan wilayah pesisir dan pulau kecil, maka wilayah Kota Tanjungpinang harus memiliki sebuah data spasial tentang pemetaan daerah rawan bencana pesisir seperti Gelombang Badai, Abrasi dan Sedimentasi, sehingga dari data yang dihasilkan akan dijadikan rujukan bagi pihak-pihak yang terkait agar dapat dilakukan upaya mitigasi.

Untuk itu, dalam memperingati Hari Mateorologi Dunia yang ke 68 yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2018 ini, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) hendaknya turut berpartisipasi aktif dalam upaya mitigasi bencana.

Hal ini perlu diperhatikan agar tidak terulang kembali kesalahan yang terjadi di Tarutung, Sumatera Utara yang menyangkut perbedaan perhitungan lokasiEpisenter gempaantara BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) dengan USGS (United State Geological Survey) di sesar/patahan Sumatera segmen Aceh pada tanggal 22 Januari 2013 lalu. Hal ini bisa jadi fatal dan beresiko karena menyangkut keselamatan masyarakat banyak, belum lagi kerugian yang akan ditanggung masyarakat.

Memang, letak kesalahan yang terjadi pada saat itu tidaklah mutlah kesalahan BMKG Banda Aceh yang berada di Mata Ie. Kesalahan ini terjadi karena ada salah satu station BMKG yang ada di sekitar Sumatera bagian utara yang salah dalam meng-pick waktu datangnya gelombang S. Satu saja stasiun pengamatan gempa salah, maka akan berakibat salah dalam menentukan episenter. Kesalahan ini bisa menjadi pembelajaran untuk BMKG agar memperhatikan kinerjanya dalam penyampaian informasi.

Dilain sisi,faktor yang membuat perubahaan dan perbedaan lainnya tentang hasil perhitungan lokasi gempapada saat itu adalah perbedaan dalam menentukan waktu tiba gelombang, distribusi stasiun dan jumlahnya dan Penggunaan Model kecepatan yang berbeda.

Hal yang harus diperhatikan juga adalah penyampaian iklim(Cuaca). Berbagai istilah dalam meteorologi pun semakin marak digunakan dalam bahasa media untuk penyampaian kepada masyarakat.

Penggunaan istilah tersebut kadang kala menimbulkan salah pengertian bagi masyarakat umum dan justru membingungkan serta terkadang menimbulkan kekhawatiran dan banyak sanggahan dari kalangan para ahli cuaca. Kita tau bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang besar bagi alam ini serta bagi masyarakat di seluruh belahan bumi termasuk Indonesia.

Dampak paling besar saat ini memang ditanggung oleh sistem alam, tetapi para ilmuwan khawatir dampak pada manusia juga akan bertambah luas. Kesehatan masyarakat, rumah, serta ketersediaan pangan juga akan terancam oleh perubahan iklim ini. Hal ini menjadi kerja keras bukan hanya BMKG saja tetapi seluruh masyarakat dalam upaya mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Perlu kita ketahui, setiap tanggal 23 Maret Organisasi Meteorologi Dunia/World Meteorological Organization (WMO) beserta negara-negara anggotanya termasuk Indonesia, serta komunitas-komunitas meteorologi seluruh dunia pasti akan merayakan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ini. Dalam memperingati Hari Meteorologi Dunia (HMD) tahun ini,hendaknya kita jangan artikan sebagai ceremonial belaka, tetapi juga upaya dalam gerakan “Waspada Bencana”. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here