Waspadai Darurat Maksiat saat Pergantian Tahun

0
742
Rusfa, ST, MT

Oleh : Rusfa, ST, MT
Praktisi Pendidikan di Kepri, Pengurus Komunitas Gaul Syar’i di Tanjungpinang

Malam tahun baru identik dengan malam suka cita yang dihiasi dengan gemerlap pesta kembang api, keramaian di tempat-tempat umum, rawan peredaran dan penggunaan narkoba serta miras, hingga seks bebas. Tidak sedikit realitas yang bisa kita indera baik di media cetak, audio visual, pemberitaan blak-blakan versi dumay (dunia maya), maupun yang kita saksikan sendiri seputar perayaan pergantian tahun, adapun kebanyakan dari fakta-fakta tersebut dekat dengan gambaran kerusakan pemuda.

Baru-baru ini Polda Metro Jaya mengungkap kasus penyelundupan 20.000 butir jenis ekstasi di ibu kota, Rabu (27/12) yang akan digunakan untuk merayakan malam tahun baru, BNN mencatat bahwa demand (permintaan) Narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2014 saja BNN mencatat terdapat 4,1 juta orang, dan 2016 terdapat 5,1 juta orang, dan menyebutkan bisa jadi angka ini terbesar di Asia (Kabag Humas BNN, Kombes Sulistriandriatmoko, Selasa (14/11/2017)). Untuk wilayah Kepri sendiri, BNN mencatat bahwa hingga akhir tahun 2015 terdapat 41.767 jiwa atau mencapai 2,94 % dari 1,5 juta penduduk setempat, adapun penggunanya dari kalangan pelajar, mahasiswa, PNS, Polri dan kalangan masyarakat lainnya, data ini menempatkan Kepri pada posisi empat terbanyak pemakai Narkoba di Indonesia setelah Jakarta, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara.

Baca Juga :  Pentingnya HAM Ditegakkan

Untuk kasus penggunaan miras, hampir setiap tahunnya Polisi menghimbau warga untuk tidak pesta miras di malam tahun baru, himbauan ini menunjukkan bahwa tahun baru juga dangat dekat dengan kebiasaan mabuk-mabukan.

Rasulullah Muhammad SAW telah menyatakan bahwa Khamr (miras) adalah ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra bahwa khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barangsiapa yang memminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya. Lazimnya banyak perzinahan terjadi setelah menenggak minuman keras, dan hal inipun kerap kali terjadi pada setiap malam pergantian tahun. Hal ini didukung dengan adanya indikasi meningkatnya penjualan kondom disejumlah apotik, toko obat, dan minimarket di Kepri setiap menjelang pergantian tahun (news.okezone.com).

Baca Juga :  Memaknai Sejarah FKPPI

Baik pesta besar-besaran, penggunaan narkoba, miras dan perzinahan adalah perkara yang sia-sia bahkan tercatat sebagai dosa besar, namun hal ini senantiasa terjadi disetiap tahun.

Hal ini menandakan betapa lemah ketahanan negeri ini dari serangan budaya dan gaya hidup kaum hedonis pencinta materi dan kesenangan fisik semata, negeri yang awalnya kuat dengan nilai-nilai agama, istilah Wali Songo terkenal sebagai sosok yang memperkenalkan Islam di bumi Nusantara sebagai utusan dari Khalifah Bani Ustmaniah, serta nilai-nilai adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah menjadi semakin terkikis dan asing realitasnya dalam kehidupan. Bisa kita lihat dari sangat minimnya jam pelajaran agama bagi pelajar dan mahasiswa, bahkan agama dikerdilkan sebatas aktivitas spiritual di wilayah pribadi saja tanpa boleh mengambil andil lebih pada pengaturan hidup bermasyarakat apalagi dalam pola aturan kenegaraan.

Baca Juga :  Kawasan Tanpa Rokok Merupakan Hak Konstitusional

Nilai-nilai agama dikriminalisasi dengan istilah intoleransi, aturan-aturan agama dihakimi bertentangan dengan HAM dan kebebasan berekspresi. Aturan cukup lahir dari diskusi dan kesepakatan manusia atas nilai-nilai yang mereka kehendaki melalui sesuatu yang mereka sebut demokrasi, padahal pikiran manusia terbatas bahkan tak jarang sarat kepentingan.

Agaknya inilah dampak dari semakin jauhnya negeri ini dari aturan Sang Pencipta Yang Maha Mengatur, ketika ayat konstitusi dianggap lebih tinggi dari ayat kitab suci. Fakta berbicara, semakin jauh manusia dari aturan Sang Pencipta, maka semakin rusak peradaban kedepan dan seterusnya. Pertanyaannya, sampai kapan manusia mempertahankan kesombongan ini?

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here