Waspadai Isu Pemindahan Ibukota Bisa Jadi Upaya Pengalihan Isu

0
1022
Rindi Afriadi

Semakin hari, Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yaitu semakin tidak menentu kondisinya. Selain karena elevasi daratannya yang suah di bawah permukaan air laut, hingga selalu banjir, juga karena Jakarta dikenal sebagai kota macet. Itulah sebagian dari alasan hinga muncul wacana memindahkan ibu kota negara.

Oleh: Rindi Afriadi
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta ke lokasi lain telah didiskusikan sejak masa kepersidenan Soekarno pada tahun 1950-an. Saat itu, Bung Karno mengimpikan ibukota Indonesia dari Jakarta ke Palagkaraya, Kalimantan Tengah. Dan ide itu juga sudah muncul saat masa kolonial Belanda. Pada awal abad ke-20 lalu juga ada upaya oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah lokasi ibukota Batavia (nama Jakarta sebelum-nya). Hanya saja upaya itu gagal karena depresi besar dan perang dunia kedua.
Kita bisa sama-sama melihat bahwasanya banyak upaya pemindahan ibukota. Ini sudah sering diwacanakan, bahkan menjadi perdebatan hangat lagi sejak tahun 2010.

Memang, jika kita melihat kenyataan, Ibukota Indonesia saat ini yakni DKI Jakarta semakin hari semakin tidak kondusif dan tidak bikin nyaman. Kita juga selalu disajikan berita kemacetan dan kepadatan ibu kota serta banyaknya bencana. Ini menjadi masalah yang sangat pantas untuk jadi bahan pertimbangan. Kepadatan kota Jakarta ini akibat dari jadi pusat pemerintahan dan pusat ekonomi. Itu yang menyebabkan kota Jakarta jadi banyak masalah lingkungan dan kini jadi overpopulasi.

Baca Juga :  Mengangkat (Polemik) Wakil Gubernur Kepri

Alangkah baiknya pemindahan ibukota tidak hanya menjadikan ini isu politis, atau menjadi pengalihan isu agar seluruh masyarakat lupa bahwa pemerintah sudah mengetok palu pada hari ulang tahun Amerika Sarikat 4 Juni 2017 atas perpanjagan kontrak PT Freeport di Papua. Semoga ini terealisasi. Memang baiknya jika ibukota Jakarta dipindahkan ke tempat yang lebih baik dengan wilayah yang lebih besar serta dengan potensi bencana yang lebih kecil. Selain itu mesti didukung dengan persediaan bahan pokok yang lebih memadai. Pemindahan ini diukur bukan hanya karena masalah internal ibukota terkhusus Jakarta akan tetapi ini adalah masalah nasional.

Kebanyakan orang memandang pusat pembangunan hanya selalu dilakukan di pusat ibu kota yaitu Jakarta. Ini karena Jakarta pusat pemerintah dan pasti juga menjadi pusat perekonomian dan pusat pembangunan. Pemindahan ibu kota ini mungkin juga bisa menghentikan pembangunan di kota yang sudah tidak memungkinkan lagi dibangun. Pemindahan ibu kota akan membuat pemerintah mengalihkan pandangan ke lokasi yang akan dibagun. Banyak tempat yang tak semegah Jakarta namun layak untuk dijadikan pusat pemerintahan dan berdirinya istana negara.

Baca Juga :  Antara Basuki Rahmad dengan Balap Liar

Analoginya: bila Saya punya rumah satu di wilayah A dan saya pemiliknya, otomatis saya akan membuat rumah saya itu indah, kemudian setelah itu saya pindah rumah ke wilayah B dengan alasan rumah di wilayah B banyak yang berisik di saat malam cari pokemon go dan kebetulan dekat dengan warnet berisik. Dengan lingkungan di kota B yang merupakan daerah baru yang tidak seberapa indah dan tidak padat, tentu kebisingan akan semakin berkurang dan saya akan lebih mudah menata lingkungan karena penduduknya yang jarang hingag perencanaan akan lebih mudah diaplikasikan. Pemindahan ini bukan berarti saya harus menghacurkan rumah saya di Kota A, yang bisa saya gunakan untuk momen-momen tertentu.

Itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan ibukota yang citranya lebih baik. Dikatakan lebih baik apabila persiden-nya tidak lagi gulung celana saat menemui masyarakatnya.
Walau pun ada yang berangapan bahwasanya pusat pemerintah hanya menyumbang efek 20% untuk ibu kota dan ada yang berangapan bahwa masalah-masalah yang ada di Jakarta masih bisa diperbaiki dengan biaya yang lebih kecil dari pada harus memindahkan ibu kota.

Namun, sebenarnya Jakarta tidak pernah siap menjadi ibu kota yang awalnya hanya sekedar kota perdagangan, kemudian harus menampung aktivistas pemerintahan dalam sekala besar. Beban itu bertambah dengan paradigma permerintahan orde baru yang sentralistis. Pembagunan dirancang di Jakarta sehingga membuat wilayah ini menjadi daya tarik bagi penduduk-penduduk luar yang tidak diimbangi dengan perencanaan pengembangan wilayah.

Baca Juga :  Wamena Cukup Sampai di Sini

Wilayah yang idealnya hanya mampu menampung 800 ribu jiwa, pada akhirnya sekarang Jakarta harus menampung 9,5 juta jiwa. Bahkan 13 juta jiwa pada waktu siang hari.
Memang mungkin ada baiknya jika mengubah pandangan orang-orang ke wilayah lain dengan cara memindahkan ibukota khususnya untuk aktivitas pemerintahan.

Kita sama-sama melihat bagaimana Malaysia memindahkan pusat pemerintahannya ke Putrajaya dan berhasil. Dan bagaimana India sukses memindahkan ibukotanya Delhi ke Newdelhi. Bagaimana Australia memindahkan ibukota dari Melbourne ke Canberra 1927 dan ini membuahkan hasil.Jangan jadikan isu pemindahan ibukota berlalu begitu saja dan jangan jadikan isu pemindahanibukota hanya menjadi isu politis, atau menjadi pengalihan isu agar seluruh masyarakat lupa bahwa pemerintah sudah mengetok palu pada hari ulang tahun Amerika Sarikat 4 juni 2017 atas per panjaganizin oprasi PT freeprot di papua. Pindahkan lahibuk otauntuk Indonesia yang lebih baik.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here