Westernisasi Berdampak Buruk dalam Bahasa Indonesia

0
198
Raja Indri Fajrianti

Oleh: Raja Indri Fajrianti
Mahasiswa FISIP, UMRAH

Pada zaman modern ini, gaya hidup kebarat-baratan adalah suatu hal yang selalu menjadi tren. Hampir di seluruh kalangan dari mulai anak-anak sampai orang dewasa pun terpengaruh akan gaya hidup yang bisa dibilang mengikuti gaya hidup orang barat. Mulai dari makanan, pakaian, berbahasa maupun tingkah laku. Hal ini dapat disebut juga dengan westernisasi.

Westernisasi adalah sebuah proses dimana masyarakat berada atau mengadopsi budaya Barat di berbagai bidang meliputi politik, industri, teknologi, ekonomi, hukum, agama, dan nilai-nilai. Westernisasi perwujudan dari konspirasi kristen-Zionis-kolonis terhadap umat Islam. Dengan adanya westernisasi maka kehidupan bangsa terutama Indonesia yang mayoritasnya adalah beragama islam menjadi tertarik untuk bergaya hidup kebarat-baratan. Westernisasi sudah ada sejak dahulu, namun pada saat ini perkembangan westernisasi sangat pesat karena canggihnya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memudahkan westernisasi itu masuk ke negara kita. Ya memang bahwa westernisasi juga memiliki dampak positif. Namun, generasi muda jaman sekarang menyalah artikan westernisasi itu sendiri. Beberapa dari mereka hanya mengambil sisi pengaruh negatifnya saja seperti lebih suka hidup berfoya-foya, pergi ke klub, bergaya hidup mewah dan bahkan melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi. Tentu saja itu bertentangan dengan negara kita. Kita adalah negara Indonesia yang dimana memiliki perbedaan yang signifikan dengan negara barat. Negara kita yang biasa dengan gaya hidup sederhana dan menjunjung tinggi etika dan sopan santun, mulai luntur akibat pengaruh negatif westernisasi tersebut.

Kita lihat saja pada saat banyak generasi muda, masyarakat bahkan media massa di Indonesia yang saat ini dalam berbicara atau berbahasa pun lebih menyukai menggunakan bahasa asing dan bahasa gaul dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini terungkap dalam Diskusi Bahasa Indonesia, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Kontemporer (Ikon) yang diadakan di Kampus School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London 2016 lalu. Dalam diskusi yang menampilkan pembicara dosen senior Kajian Indonesia dan Melayu SOAS, Univerity of London, Dr Ben Murtagh dan Pemilik Sekolah dan Penguji Bahasa Indonesia, Cambridge International Exam, Geoff Roberts serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. E. Aminudin Aziz yang juga guru besar Linguistik.

Dalam paparannya, Aminudin Aziz membahas lebih lanjut mengenai isu “Pemertahanan Bahasa Indonesia di Kalangan Generasi Muda dan realitas kekinian pengunaan Bahasa Indonesia baik di media massa dan di lingkungan masyarakat awam“. Contohnya iklan yang ada di Indonesia menurut Aminudin Aziz, dari survai yang dilakukannya dari judul mata acara di televisi selama sepekan September-Oktober tahun 2013 lalu mata acara lokal dengan judul berbahasa asing mencapai 80 judul. Begitupun banyaknya iklan di pinggir jalan yang mengunakan bahasa asing seperti pada iklan “Join now”, “Good Choice”, Believe to me”, iklan pada pemilihan anggota dewan, seperti “The next Major,” kota Bekasi atau kata Sunday Bazaar. Apalagi di zaman globalisasi sekarang, bahkan untuk saling berbicara antara yang satu dan yang lainnya pun banyak orang mengunakan bahasa asing.

Tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi kacau karena adanya pengaruh bahasa asing. Bagaimana pun juga secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia tetap mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara dan bahasa resmi negara kita yaitu Indonesia. Sebagai generasi muda seharusnya kita dapat menjaga dan bangga akan bahasa persatuan negaranya sendiri.

Sebagai kalangan muda haruslah menumbuhkan dan membina sikap positif terhadap Bahasa Indonesia itu sendiri. Untuk menyatakan sikap positif ini dapat dilakukan dengan sikap kesetiaan berbahasa Indonesia dan sikap kebanggaan berbahasa Indonesia. Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia terungkap jika mereka lebih suka memakai Bahasa Indonesia daripada Bahasa asing dan bersedia menjaga agar pengaruh asing tidak terlalu berlebihan.

Sikap kebanggaan berbahasa Indonesia terungkap melalui kesadaran bahwa Bahasa Indonesia pun mampu mengungkapkan konsep yang rumit secara cermat dan dapat mengungkapkan isi hati yang sehalus-halusnya. Yang perlu dipahami adalah sikap positif terhadap Bahasa Indonesia ini tidak berarti sikap berbahasa yang tertutup dan kaku. Bangsa Indonesia tidak mungkin menuntut kemurnian Bahasa Indonesia dan menutup diri dari saling pengaruh dengan Bahasa asing.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bisa membedakan mana pengaruh positif dan mana pengaruh negative terhadap perkembangan Bahasa Indonesia. Sikap positif seperti inilah yang bisa menanamkan percaya diri kalangan muda bahwa Bahasa Indonesia itu tidak ada bedanya dengan Bahasa asing lain. Masing-masing Bahasa mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dengan sikap postif yang diberikan oleh kalangan remaja ini tentunya akan membantu bangsa Indonesia dalam mempertahankan Bahasa Indonesia, sehingga Bahasa Indonesia itu sendiri mampu bertahan dari pengaruh negatif asing. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here