Wisman Tiongkok Tak Berdampak, Jumlah Kunjungan Turun

0
74
wisman tiongkok belum lama ini berkunjung ke Kepri, saat tiba di Bandara RH Fisabillilah Tanjungpinang, disambut sejumlah pejabat

TANJUNGPINANG – Jumlah wisatawan mancanegera (Wisman) yang berkunjung ke Provinsi Kepri mengalami penurunan 9,3 persen di Oktober ini, bila dibandingkan September 2018 ini.

Ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri Kepri yang merilis Wisman yang berkunjung pada Oktober 2018 sekitar 205.765 orang, mengalami penurunan dibanding jumlah wisman bulan sebelumnya, sejumlah 226.980 orang.

Kepala BPS Kepri, Zulkipli menuturkan, jumlah kunjungan Wisman dari Tionglok tidak begitu berdampak. Masih banyak dari kewarnegaraan Singapura di susul Malaysia yang berkunjung ke Kepri.

Ia menuturkan, peenurunan kunjungan Wisman terjadi di empat pintu masuk. Yaitu Batam turun 8,22 persen, Kabupaten Bintan turun 10,28 persen, Kota Tanjungpinang turun 14,13 persen dan Kabupaten Karimun turun 17,98 persen.

Jumlah kunjungan Wisman secara kumulatif terbesar masih di dominasi dari Kota Batam yaitu sebanyak 1.498.754 kunjungan (71,53 persen).

Diikuti dari pintu masuk Kabupaten Bintan sebanyak 414.015 kunjungan (19,76 persen), Kota Tanjungpinang sebanyak 113.503 kunjungan (5,42 persen), dan Kabupaten Karimun sebanyak 68.949 kunjungan (3,29 persen).

Ketua Komisi II DPRD Kepri, Hotman Hutapea, mengingatkan agar pemerintah bisa membina para agen tour and travel mampu menjual paket wisata di Kepri dengan merata. Jangan sampai terkesan ada monopoli.

Dicontohkannya, mulai dari hal terkecil penjualan souvenir hingga penjualan UMKM lainnya serta paket-paket menginap yang di dominasi hotel-hotel tententu.

“Kalau demikian, pantas dan wajar saja tidak berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata secara meluas. Tidak melibatkan pelaku usaha kecil seperti rumah makan, transportasi dan lainnya,” ujarnya.

Hotman menuturkan, praktik ini mudah saja di temukan di wilayah Kota Batam, Bintan dan Tanjungpinang. “Setelah datang ke Kepri, mereka bawa ke lokasi tempat usaha tertentu. Di sana mereka siapkan jamuan makan, souvenir hingga perjalanan wisata juga tertentu. Bahkan sampai, tempat penginapan pun mereka kuasai. Hal ini yang kami sampaikan ke Kemenpar belum lama ini. Pemerintah Bali pun mengadukan hal yang sama,” beber Hotman.(ais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here