Yang Harus Dilakukan ketika Banyak Teman Menikah

0
226
Jerumat - Yang Harus Dilakukan ketika Banyak Teman Menikah

SUDAH pasti, harus ikut berbahagia. Lancang nian kalau sampai bersedih di atas kebahagiaan orang lain. Apalagi ini teman-teman, saudara tanpa ikatan darah yang seringkali rasa saudaranya melebih saudara sendiri. Berbahagia, kawan! Hanya itu yang bisa dan harus diucapkan ketika bertubi-tubi undangan datang.

Pernikahan adalah nasib, adalah kesunyian masing-masing. Semua bisa merencanakan. Tapi tak semua lantas berani memulakan. Pertaruhan hidup dan mati. Begitu ada yang mengibaratkannya. Sebab dengan keyakinan paling adiluhung ingin menjadi satu-satunya pernikahan yang ingin dijalani, memantapkan hati bahwa orang yang berdiri di samping pelaminan adalah yang terbaik, yang membawa kehidupan pada jalur bahagia. Untuk teman-teman yang sudah mantap berlayar berdua, tidak punya kata paling indah selain turut berbahagia. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah menghadiri undangannya. Modal turut bahagia saja tidak cukup. Tebal saku belakang pula bukan apa-apa. Mental baja adalah sebaik-baiknya pakaian yang dikenakan menghadiri pesta pernikahan teman-teman. Di sana akan ada banyak serangan berupa anak panah pertanyaan yang datang dari arah mana saja. Mental baja itu yang kelak akan melindungi dari sewot, senewen, dan tentu saja yang paling berbahaya keinginan mendadak kawin.

Sudah dikatakan di atas bahwasanya pernikahan itu adalah meja judi pertaruhan. Jika ragu, jangan dipaksakan. Lebih baik menghalau pertanyaan demi pertanyaan ketimbang menurut hasrat dadakan. Ada banyak pengalaman burut mengikut seperti itu. Dalam segala hal, saya sepakat dengan Agnez Mo, bahwasanya persiapan yang matang adalah separuh dari kesuksesan. Dan itu, berlaku pula pada urusan pernikahan.

Maka, ketika teman-teman dekat sudah menikah, selain berbahagia, ajaklah mengopi usai pesta. Guyonan perihal keasyikan malam pertama tentu jadi pembuka paling sedap dalam obrolan. Setelahnya, yang paling pokok adalah kesiapannya itu. Tahapan demi tahapan menyusun keyakinan demi keyakinan untuk menalikan hubungan dalam ikatan pernikahan. Dari situ, bisa dipetik sebuah simpulan besar: sudahkah menapaki persiapan yang sejenjang?

Kalau belum, ya jangan paksakan. Tahu diri itu juga kunci. (Mengupayakan) Memantaskan diri tentu saja boleh, memaksakan sungguh jangan. Ada banyak misal mereka yang memaksakan diri sebagai penyair justru malah puisi-puisi wagu yang lahir. Ada pula yang memaksakan diri tampil sebagai pemimpin malah bersembunyi ketika masalah hadir. Apalagi soal pernikahan, yang membutuhkan keterampilan gabungan antara penyair dan pemimpin.

Tanpa keterampilan seorang penyair, pernikahan akan lebih dari sekadar wagu. Romantisisme yang mestinya menjadi medium menyampaikan pesan-pesan sayang sehari-hari, verbal atau nonverbal, kering belaka. Jika berkata, datar belaka. Jika berbuat, lempang belaka. Jangan berharap ada ledakan-ledakan kecil berupa kejutan yang membahagiakan. Sungguh, hanya mereka yang benar-benar penyair yang mampu berbuat sedemikian.

Lalu urusan keterampilan memimpin, itu lebih lagi hakiki. Ibarat kapten pada sebuah pelayaran, setiap komando dan keputusannya menjadi jaminan atas keselamatan sampai pelabuhan. Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan juga tujuan tak habis-habis yang perlu diarungi bersama oleh suami dan istri yang saling bergantian mengambil kendali. Tidak semua hal lelaki bisa, dan tidak semua perkara perempuan tidak mampu.

Selanjutnya, ketika teman-teman dalam lingkaran pertama sudah menikah, yang perlu dilakukan adalah memeriksa kembali daftar teman Anda. Benarkah nama Anda jadi satu-satunya yang belum juga menanggalkan gelar lajang? Jika iya, tenang saja. Ini bukan berarti kiamat. Justru inilah ruang lengang menikmati kesendirian. Jika sebelum-sebelumnya ponsel terlalu berisik menghadapi ajakan-ajakan kongkow, kini tidak lagi. Tiba-tiba senyap. Satu dua pesan yang masuk paling banter notifikasi dari grup WhatsApp yang sudah tidak lagi menarik. Kalau tidak, bualan-bualan promo dari rumah makan. Saat-saat seperti ini, ketika malam semakin tua, tidak ada lagi yang melarang menonatktifkan ponsel. Membiarkan keheningan alam sekitar merasuk ke jiwa. Menikmati betapa waktu menyendiri untuk lebih mengenal diri itu jadi penting dan sudah sedemikian lama terlupa untuk melakukannya.

Tengok ke rak buku. Adakah buku yang sudah lama terbeli tapi belum sempat terbaca. Jika ada, bacalah. Inilah saat terbaik untuk kembali membiasakan diri membaca. Otot-otot menulis yang sudah lama kaku bisa diajak lagi barang sebiji dua artikel. Sekarang, tidak ada lagi kewajiban untuk terus-terusan memosisikan diri sebagai yang selalu ada buat teman, karena mereka sudah punya pasangan. Untuk taraf tertentu, porsi itu sudah terganti.

Upaya semacam itu akan menenangkan diri. Bonusnya, tidak mudah berpikiran negatif apalagi berprasangka buruk kepada Sang Pencipta. Di langit sana, tidak ada kata terlambat. Segalanya selalu terjadi pada waktu yang paling tepat. Jadi, tidak perlu mendamprat diri sampai usia berkepala berapa pun ketika belum jua melangsungkan pesta perkawinan semacam teman-teman. Semua yang baik-baik tahu waktu yang paling baik.

Ada teman baik saya, semalam baru melangsungkan pertunangan. Raut wajahnya dalam sepekan terakhir terlihat amat bahagia. Jenis kekuatan yang mengalir ke jemarinya sehingga mampu menyelesaikan tulisan jauh sebelum tenggat. Saya turut bungah. Berharap hari-hari ke depan sampai melangsungkan pesta pernikahan kebahagiaannya semakin berlipat ganda. Ke depan, tentu ia akan sekali-sekala mengajak mengopi. Dan di masa-masa itu, saya percaya ia akan merampungkan sebuah buku yang sudah lama saya tunggu. Itu imbas lain dari sebuah pernikahan bagi seorang penulis.

Maka, memang senyata-nyatanya tidak ada alasan untuk tidak turut berbahagia ketika semakin banyak teman-teman dalam lingkaran yang sudah melangsungkan pernikahan. Dan untuk itu, sebaik-baiknya hal yang bisa dilakukan adalah dengan memilih wali kota yang punya perhatian terhadap pengurangan atau pengentasan angka jomlo di daerah kita. Sayangnya, mereka cuma memberi kita dua pilihan belaka: pertama sabar dan kedua melanjutkan.***

OLEH: FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here