Yang Mati akan Diganti Perusahaan

0
296
LAYU: Bibit petai yang sudah tiba di Lingga awal pekan lalu nampak layu. Sehingga ditolak sejumlah warga. f-istimewa

Ketika bibit jengkol dan petani ditolak di lingga

Secara kasat mata, bibit petai dan jengkol itu nampak layu. Daunnya pun sedikit dan sebagian kurus. Sehingga dianggap tak layak ditanam. Namun, ada juga bibit yang subur. Di sisi lain, bibit ini dipesan dari penangkar yang sudah mengantongi sertifikasi.

DOMPAK – Bibit ini berada di Lingga dan akan dibagikan kepada petani. Namun, sebelum dibagikan, sudah diprotes. Senin (19/12) kemarin, bibit ini yang jadi perbincangan hangat di ruang kerja Ahmad Izhar, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemprov Kepri di Dompak.

Sejumlah ormas dan LSM termasuk salah satu pengurus HKTI dari Lingga melakukan audensi dengan Ahmad Izhar untuk mempertanyakan bibit ini dan apa solusinya.

Dari pembicaraan awal mereka, para ormas, LSM dan pengurus HKTI Lingga ini dengan tegas menolak bibit itu dibagikan ke masyarakat dengan alasan tidak layak. Mereka juga minta Pemprov Kepri jangan membayar ke rekanan (kontraktor pemenang tender) jika bibit itu tak diganti.

Erwan, pengurus HKTI yang juga seorang petani di Lingga mengatakan, saat ini Lingga sudah dijadikan kawasan pertanian. Agar bisa maju, maka bibit yang didatangkan ke Lingga harus bermutu. Jangan sampai bibit itu merugikan petani untuk jangka panjang.

Ahmad Izhar mengatakan, anggaran pengadaan bibit petai dan jengkol tersebut dari APBN yang disalurkan sebagai dana Tugas Pembantuan (TP) di APBN Perubahan 2017.

Pemprov Kepri tidak pernah meminta pengadaan bibit tersebut ke kementerian. Namun itu merupakan program Kementerian Pertanian untuk membantu petani Lingga.

Akhir Agustus lalu, dana masuk dan harus segera dilakukan lelang agar pengadaannya tidak terlambat. Lima perusahaan saat itu ikut lelang.

Awalnya, bibit itu hendak dicari dari penangkar (pembuat bibit) yang ada di Kepri, namun karena belum ada penangkar yang bersertifikasi, akhirnya bibit itu didatangkan si kontraktor dari Majalengka.

Ahmad Izhar mengatakan, dalam aturannya memang begitu, pembibitan itu harus bersertifikasi. Sebab, banyak yang diteliti soal kualitas bibit tersebut.

Awalnya, ia berharap pengadaan ini bisa dilakukan di daerah karena petani petai di Daik dan Bintan juga cukup bagus. Namun, setelah dibaca aturannya, yang boleh adalah penangkar bersertifikat.

”Satu-satunya yang bersertifikat itu ada di Majalengka. Kalau bisa dari sini, tak mungkin jauh-jauh didatangkan dari sana. Aturannya harus bersertifikasi, kita ikut aturan itu,” jelasnya.

Soal kualitas bibit yang sampai ke Lingga, Ahmad Izhar mengatakan, jika ada bibit yang mati, maka si kontraktor wajib menggantinya. Nanti akan dipilah-pilah mana bibit yang mati dan tak layak tanam agar diganti. Karena dalam klausal perjanjian mereka, apabila ada bibit yang mati akan diganti si kontraktor.

Namun, kata dia, bibit yang baru dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain akan mengalami stress. Bisa jadi bibit tersebut mengalaminya. Karena itu, bibit tersebut tidak akan langsung ditanam di Lingga.

”Tapi, selagi kambiumnya masih ada, akan tumbuh tunas baru nanti. Saya lihat di Bintan, bibit petai yang ditanam itu kurus. Macam lidi. Sekarang kita bisa lihat suburnya seperti apa. Yang penting, masih ada kambiumnya. Kalau sudah mati, jelas harus diganti,” tegasnya.

Meski demikian, dirinya akan mengirim tim PPHP (Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan) dari Dinas Pertanian Kepri ke Lingga untuk melihat mana bibit yang mati.

Sesuai programnya, bibit ini akan diserahkan kepada 20 kelompok petani di Lingga. Mereka yang akan mendapatkan bibit tersebut merupakan hasil pendataan Pemkab Lingga.

Tim survei instansi terkait dari Pemkab Lingga sudah melakukan survei dan investigasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Data-data itulah yang kemudian di SK-kan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Pemprov Kepri.

Nama-nama yang ada di SK tersebut merupakan orang-orang yang akan menerima bibit itu nanti. Kepada petani, Ahmad Izhar mengatakan, setelah bibit ditanam jangan dibiarkan.

”Selain kualitas bibit, berhasil tidaknya tanaman itu juga tergantung petaninya. Kalau diurus dan dipupuk, akan bagus. Kalau dibiarkan terlantar begitu saja, bagaimana mau berhasil,” pesannya.

Ia juga menjelaskan, tahun depan masih banyak program Kementerian Pertanian di Indonesia. Untuk itu, ia mengharap dukungan warga agar makin banyak bantuan pusat ke Lingga ke depan.

Affifi, Ketua Asosiasi Penangkar Bibit Perkebunan Provinsi Kepri mengatakan, di Kepri memang belum ada penangkar yang bersertifikasi. Untuk itu, asosiasi tersebut bersedia membantu mengurusnya jika ada yang ingin mengurus sertifikasi.

Sebab, jika ke depan masih ada tender pengadaan seperti itu, maka penangkar harus sudah mengantongi sertifikat dan mendapatkan rekomendasi dari asosiasi. Ia juga mengajak petani Kepri untuk banyak diskusi dengan mereka.

Sebagai asosiasi yang belum lama terbentuk, Affifi mengaku kalau sosialisasi dan diskusi harus diperbanyak. Sehingga, petani Kepri makin ke depan mengetahui perkembangan dunia pertanian dan perkebunan.

Tanpa melihat siapa yang benar, siapa yang salah dalam hal bibit petai dan jengkol di Lingga tersebut, Affifi mengatakan, memang yang bisa melakukan pengadaan bibit adalah mereka yang telah bersertifikasi.

Gunanya untuk mengetahui varian apa bibit yang dibuat, apakah masuk jenis unggul dan lainnya. Banyak yang diperiksa tentang bibit itu sendiri. Apabila bibit yang ditanam di Lingga nanti bukanlah bibit unggul, maka petani Lingga tidak akan berkembang dan sulit bersaing. Sebab daerah lain sudah menggunakan bibit unggul.

”Bibit unggul itu sudah melalui proses penelitian. Misalnya jengkol, apakah sudah termasuk varian yang menjadi penghasil tinggi. Apakah jengkol yang enak untuk direndang, lembut. Begitu juga bibit unggul lainnya, semua sudah ada variannya,” jelasnya.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here