9 Tahun Bekerja Demi Barel Sejuta

0
77
Industri Hulu Migas. (Foto: skkmigas.go.id)

Indonesia bercita-cita berdikari dalam setiap lini. Dalam lini minyak dan gas, asa itu semakin mendekati kenyataan pada 2030 mendatang. Artinya dalam sembilan tahun ke depan bisa dibaca dengan kata yang lantang: kerja!

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.

ADA peribahasa yang berbunyi: Ayam mati di lumbung padi. Peribahasa ini menggambarkan situasi yang komikal cum ironis, bagaimana mungkin seekor ayam bisa meregang nyawa kala justru ia berada di hamparan segunung padi yang bisa jadi pangannya tidak cuma sehari dua, tapi seumur hidupnya?

Barangkali ayam itu mati usai tersedak karena makan terlalu banyak, bisa jadi. Barangkali ayam itu terkena serangan jantung lantaran saking kagetnya melihat tumpukan pangan di hadapannya, bisa jadi. Semua itu kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikedepankan untuk memperkirakan penyebab kematian si ayam.

Tapi begitulah nasib ayam. Dalam kepalanya yang setangkup tangan, makhluk ini tidak diberkahi akal untuk mengelola, memanfaatkan, dan mengembangkan sumber daya besar yang ada di hadapannya.

Lain cerita dengan manusia. Tuhan menganugerahinya dengan akal dan pengetahuan. Sehingga sungguh amat memungkinkan bagi manusia untuk tak menapaki jejak ayam yang mati di lumbung padi. Bahwasanya lumbung padi yang tersaji di hadapannya tidak boleh sekadar menjadi euforia, melainkan sumber daya yang harus dikelola, dimanfaatkan, dikembangkan, dan diberdayakan untuk kebaikan sesama.

Dan mereka yang tergabung dalam Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memiliki tekad agar keberlimpahan sumber daya minyak dan gas yang ada Indonesia bisa memberi nilai lebih dan menjadi pondasi kukuh berdikari buat negeri ini.

Ini bukan bualan kosong. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sendiri yang menegaskan bahwa pemerintah sungguh menyadari industri hulu migas memegang peranan strategis untuk mendukung program pertumbuhan ekonomi. Bukan hanya sebagai sumber penerimaan, tetapi juga sebagai lokomotif pergerakan perekonomian.

“Industri migas setiap tahun berinvestasi sebesar 10 miliar dolar AS dengan faktor multiplier effect yang bisa mencapai 1,6 kali dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi. Sebagai sumber energi dan bahan baku, industri migas memegang peranan penting dalam mendukung pengembangan industri di Indonesia,” kata Airlangga.

Keyakinan Airlangga ini berkaca pada potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam sektor hulu minyak dan gas bumi yang diamini langsung oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif awal tahun lalu.

Arifin mengungkapkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia sebesar 4,17 miliar barel dengan cadangan terbukti (proven) sebanyak 2,44 miliar barel. Sementara data cadangan yang belum terbukti sebesar 2,44 miliar barel.

Sedangkan untuk cadangan gas bumi, sambung Arifin, mencapai 62,4 triliun kaki kubik (cubic feet) dengan cadangan terbukti 43,6 triliun kaki kubik (cubic feet)

“Cadangan gas bumi sebesar 62,4 triliun cubic feet, di antaranya proven sebesar 43,6 triliun cubic feet,” katanya.

“Lumbung” energi yang berlimpah itu sememang nyata. Kepala Divisi Perencanaan Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo bahkan pernah menyebutkan bahwa dari 128 cekungan di Indonesia, masih ada 35 cekungan yang perlu dikembangkan dan 73 lainnya yang belum dieksplorasi.

Baca Juga :  50 Meter dari Dam, Jangan Ada Aktivitas

“Ini menunjukkan ada harapan bahwa industri hulu migas di Indonesia masih dapat berkembang di masa mendatang,” ujar Wahyu.

Harapan yang kemudian coba diwujudkan SKK Migas pada 2030 mendatang, agar “lumbung” ini tidak lantas menjadi berkah yang tersiakan. Karena peribahasa telah mengingatkan bahwa siapa yang gagal memaksimalkan lumbung akan mati di hadapannya.

Minyaknya Sejuta Barel, Gasnya 12 Miliar Kubik

Industri hulu migas. (Foto: skkmigas.go.id)

Banyak orang bilang bahwa industri migas sudah masuk era senjakala (sunset industry). Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Memang inovasi untuk beralih ke energi terbarukan semakin digencarkan, tetapi untuk sampai mencukupi kebutuhan warga dunia diperlukan waktu dan teknologi yang tidak murah serta waktu yang tidak sebentar.

Karenanya, bagaimanapun masih ada “ruang” bagi industri migas. Apalagi jika ditunjang perkiraan pertambahan populasi manusia. Hingga 2030 mendatang, diprediksi jumlah manusia di muka bumi tembus hingga 8,5 miliar jiwa.

Pertumbuhan jumlah penduduk niscaya setarik lurus dengan peningkatan kebutuhan—termasuk konsumsi energi di dalamnya. Dua tahun lalu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi energi di seluruh dunia meningkat hingga 36 persen pada 2030.

Indonesia, sebagai negara berkembang, juga tidak lepas dari taksiran ancaman lonjakan pertumbuhan penduduk pada 2030. Saat itu, diperkirakan juga akan terjadi peningkatan konsumsi energi yang ditaksir mencapai 2,3 juta barel minyak perhari (bpod).

Sementara hingga hari ini, berdasarkan laporan SKK Migas, kebutuhan harian minyak Indonesia sudah tembus di angka 1,4 juta barel per hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu, 600 ribu barel di antaranya harus diimpor, karena produksi dalam negeri hanya mampu di angka 800 ribu barel saja.

Jika gap produksi dan kebutuhan ini tidak segera dipangkas, kebutuhan impor akan semakin tinggi dan itu tidak baik bagi neraca keuangan negara. Maka, meningkatkan produksi dalam negeri adalah opsi utama yang harus ditempuh—tak peduli seberapapun berat tantangan di depan.

“Itu bukan suatu target yang mustahil diwujudkan,” tegas Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto.

Optimisme Dwi terhadap 1 juta barel per hari (bpod) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (bscfd) bukan tanpa hitung-hitungan. Potensi nyata migas di Indonesia terang adanya. Masih ada “lumbung-lumbung” baru yang belum tereksplorasi dengan maksimal. Dan untuk memaksimalkan sumber daya itu, kata Dwi, SKK Migas tidak bisa bekerja sendiri dan tetap membutuhkan sinergi dari banyak pihak pemangku kebijakan terkait.

“Terutama terkait konsistensi kebijakan pemerintah pusat maupun daerah,” ungkapnya.

Sedangkan dalam internal SKK Migas, Dwi menegaskan, pembenahan dan peningkatan kualitas terus dikerjakan demi mengejar target yang ingin dicapai sembilan tahun lagi.

Business Unusual: Kerja, Kerja, Kerja!

Sembilan tahun adalah rentang waktu yang nisbi; bisa terasa lama atau terasa sebentar saja. Bagi SKK Migas, sembilan tahun adalah waktu yang sebentar, karenanya setiap harinya harus diperhitungkan dan dimaksimalkan untuk mengejar target 1 juta barel per hari (bpod) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (bscfd) pada 2030 nanti.

Baca Juga :  77 Jenis Barang Bikin Inflasi Naik

Beragam skema kerja disusun. Ragam strategi kerja ditetapkan. Tiada hari yang boleh terbuang begitu saja selama sembilan tahun ke depan. Situasi pandemi memang sempat mengganggu kelancaran produksi migas, tetapi berdiam diri jelas bukan opsi yang diambil. Apalagi pandemi hanya satu dari sekian tantangan di depan untuk mewujudkan visi jangka panjang menuju Indonesia yang berdikari di lini migas pada 2030 mendatang. Tantangan lain sudah menunggu. Mulai dari investasi besar, regulasi tumpang tindih, sampai stagnasi lifting migas sepanjang satu dekade terakhir.

Akan tetapi, selalu ada pelangi setelah badai. Begitu sekiranya optimisme yang dinyalakan oleh seluruh anggota SKK Migas. “Semua orang harus sudah fokus untuk merealisasikannya. Harus ada detail program dan strateginya apa saja,” kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto.

Pelan-pelan, SKK Migas mulai mengurai tantangan demi tantangan itu agar jalan menuju visi berdikari migas 2030 bisa tertunai. Regulasi menjadi poin utama yang diperhatikan. Bila sebelumnya regulasi investasi begitu rumit dan repot dan melelahkan, kini SKK Migas telah membenahinya dengan meluncurkan layanan satu pintu (One Door Service Policy) pada awal tahun lalu.

Bila sebelumnya pengurusan izin memerlukan waktu 15 hari, terobosan ini memangkasnya tinggal tiga hari kerja saja sudah bisa terbit rekomendasi perizinan investasi.

Masih dalam ranah investasi, Dwi juga menjelaskan bahwa kini urusan bagi hasil pun dibenahi agar menguntungkan semua pihak. Sekarang, pemerintah memberikan peluang bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memilih skema yang sesuai dengan kondisi investor, yakni recovery split atau gross split.

“Perubahan ini jangan dianggap kemunduran, namun lebih pada penyesuaian pada kasus-kasus tertentu di lapangan,” beber Dwi.

Lalu menyangkut urusan produksi, Dwi menegaskan, SKK Migas akan terus mempertahankan tingkat produksi yang ada saat ini. Data dari SKK Migas, per Juni 2020, produksi minyak tercatat 720 ribu bopd dan produksi gas 6.830 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Sedangkan untuk lifting migas mencapai 1,7 juta barel ekuivalen minyak per hari.

Sementara itu, aktivitas operasi yang berjalan mencakup pengeboran 134 sumur pengembangan, 320 work over (WO), dan 13.415 well services (WS).

“SKK Migas secara khusus juga menekan Pertamina untuk dapat meningkatkan produksi dan lifting migas. Desakan ini sebagai bentuk respons atas kinerja Pertamina EP yang masih berada di bawah target,” tegas Dwi.

Jika sumber-sumber yang ada terus dijaga produktivitasnya, SKK Migas juga akan mendorong percepatan produksi di sumber-sumber daya baru. Pada kuartal I tahun lalu, SKK Migas telah menemukan tiga titik eksplorasi yang terdiri dari pengeboran sumur eksplorasi PB-2 Blok Mahato, pengeboran sumur Bronang-2 di Blok South Natuna Sea Blok B, dan pengeboran sumur Wolai-002 di Banggai, Sulawasi Tengah.

Yang tidak kalah genting untuk digesa adalah pemanfaatan teknologi. Kini SKK Migas tengah mempercepat penerapan teknologi chemical enhanced oil recovery (EOR).

Baca Juga :  Turis Cina Disambut Tari Melayu

EOR adalah salah satu metode eksploitasi minyak dengan mengoptimalkan sumur-sumur agar minyak yang kental, berat, poor permeability, dan irregular faultlines dapat diangkat ke permukaan dan diproduksi.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiranto menyebutkan pihaknya terus mendorong pengaplikasian EOR di Pertamina EP dan KKKS lainnya. “Didorong untuk full scale sekalian, tapi itu butuh waktu,” kata Julius.

Bagaimanapun, industri hulu migas bukan investasi murah. Industri ini membutuhkan biaya besar. Karenanya, SKK Migas mesti piawai meyakinkan agar investor mau menanamkan modalnya di industri ini. Kini, ada 12 titik cadangan migas baru di Indonesia yang siap dieksplorasi.

Julius menerangkan, kini SKK Migas bersama Kementerian ESDM tengah fokus menggali data dari 12 titik potensial tersebut sehingga nantinya dapat ditawarkan kepada investor untuk digarap.

Lalu yang paling aktual juga berkenaan situasi pandemi. Tak bisa dielak bahwa situasi pagebluk ini menghantam sektor hulu migas setelak-telaknya. Beberapa proyek eksplorasi jadi terhenti. Hal ini diperparah dengan harga minyak mentah dan nilai rupiah terhadap dolar AS yang ikut melemah.

Tapi, sekali lagi, bukan berarti tidak ada jalan keluarnya. SKK Migas menawarkan comprehensive assessment terkait opsi harga minyak. Selain itu, juga telah diajukan paket stimulus untuk meringankan beban produksi kepada Kementerian ESDM.

“Dengan turunnya harga jual, kami berharap cost bisa ditekan. Salah satunya adalah melakukan renegosiasi berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya market price,” jelas Dwi.

Tak dipungkiri, kendati telah banyak program dan strategi digulirkan demi mencapai target 1 juta barel per hari (bpod) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (bscfd) pada 2030, masih ada keraguan di benak banyak pihak. SKK Migas sadar mereka tidak bisa memengaruhi persepsi banyak pihak di luar, tapi mereka punya kendali untuk menularkan semangat dan optimisme ini dalam tubuh internal SKK Migas.

Mereka mencoba menerapkan tradisi kerja baru, yakni business unusual. Kepala Divisi Perencanaan Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo menjelaskan bahwa business unsual itu adalah melakukan pekerjaan yang masif, agresif, dan efisien dalam konteks positif.  

“Kita harus melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda,” tegas Wahyu.

Poin Wahyu terang: SKK Migas tidak bisa bersantai. Kerja, kerja, kerja, Harus jadi nama depan seluruh personel SKK Migas setiap harinya tanpa terkecuali dalam masa sembilan tahun ke depan. Seturut dengan jargon yang pernah dikumandangkan Presiden Joko Widodo dalam periode kepemimpinannya.

Tidak ada kalimat yang bisa mengusir keraguan banyak orang selain bukti nyata di lapangan. Masih ada sembilan tahun waktu yang tersisa. Sebentang masa yang bisa dimanfaatkan agar peribahasa ayam mati di lumbung padi tidak terjadi di lini migas pada 2030 nanti.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here