Amsakar Sebut Impor Beras Bagian Perjuangan Pemko

0
578
Amsakar Achmad

BATAM – Kebijakan pemerintah pusat untuk membuka import beras disambut baik Pemko Batam. Perjuangan untuk impor beras, sudah bagian dari perjuangan Batam selama ini. Alasannya, beras yang didatangkan dari Cipinang, lebih mahal dari beras impor. Sementara di Batam, petani untuk padi atau gabah, tidak ada, sehingga harus mendatangkan dari Pulau Jawa.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Senin (29/1) mengakui kalau pihaknya sudah pernah juga menyampaikan ke DPR RI, agar impor ke Batam dibuka untuk beras. ”Ini pernah kami sampaikan ke pak Nyat Kadir (DPR RI), kebetulan mitra kerjanya, Menteri Perdagangan,” kata Amsakat.

Baca Juga :  Pelabuhan Batuampar Amblas

Pihaknya juga sudah rapat terkait impor beras dengan pemerintah pusat. Kementerian Pertanian, lebih memilih penguatan swasembada pangan. ”Kalau Mentan, bagaimana swasembada. Mendag bicara, bagaimana distribusi tidak tergangu dan tersedia. Disisi lain, Bulog, bagaimana digudangnya tersedia,” ungkapnya.

Pada rapat itu, disebutkan bagai mana daerah bisa mendapat beras dengan murah. Sehingga diminta impor beras dibuka. ”Kita di daerah, saya sampaikan ada kecenderungan distributor beras lokal, berfikir ulang mendatangkan beras lokal. Mereka rugi kalau mendatangkan dari Cipinang,” bebernya.

Alasannya, saat harge eceran (het) beras sekitar Rp 12 ribu untuk beras premium, beras dari Cipinang sudah di atasnya saat tiba di Batam. Alasannya, harga naik karena biaya transportasi. ”Biaya (modal dan angkut), bisa Rp13 ribu per kilo gram. Jadi kita usulkan dan direspon pemerintah pusat, agar importasi dibuka kembali dengan pengawasan yang ketat,” ujar Amsakar.

Baca Juga :  61 Ribu KTP-el Selesai Dicetak

Terkait peluang BUMD Batam untuk menjadi salah satu importir beras, mantan Kadis Perindustrian dan Perdagangan ini mengaku masih menunggu RUPS. ”Ini tunggu RUPS, karena BUMD ini PT. Kita butuh butuh besar. Apakah layak masuk sektor itu? Nanti lkita lihat,” sambungnya.

Demikian, diakui sebelumnya pihaknya sudah ada pembicaraan terkait BUMD. Dimana, dalam diskusi berkembang kewaspadaan terhadap permainan harga untuk menekan BUMD.

”Apakah sanggup menjadi distributor ke rekan-rekan agen? Kalau diatas kertas, mudah, tapi bicara intervensi (distributor lain) susah. Bisa permainan, saat kita contohnya jual Rp8 ribu per kilo, mereka jual 6 ribu. Ada diprinsip mereka, rugi tidak apa, tapi setelah itu menguasai pasar,” cetusnya. (mbb)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here