Cabai Merah Penyumbang Inflasi

0
557
Kepala BI Kepri, Dandim 0315 Bintan, Wakil Ketua DPRD, OPD, utusan dari cap panah merah dan petani panen cabai.F-istimewa

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang terus berusaha untuk mengendalikan inflasi di Kota Tanjungpinang. Pada bulan Oktober ini, Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Batam mengalami deflasi sebesar 0,09 persen dan secara nasional sebesar 0,18 persen.

TANJUNGPINNAG – Data ini berdasarkan data yang di paparkan oleh BPS Kota Tanjungpinang dalam rapat rutin bulanan TPID Kota Tanjungpinang di ruang rapat kantor Walikota Tanjungpinang, Kamis (18/10).

Sesuai data dari BPS perkembangan inflasi tahun kalender di Kota Tanjungpinang selama 9 bulan terakhir tahun 2018 terus berada di bawah tingkat inflasi nasional dan Batam.

Hal ini menunjukan bahwa indikasi tingkat inflasi di Kota Tanjungpinang relatif cukup terkendali dengan rata-rata inflasi sebesar 0,18 persen per bulan. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Oktober diperkirakan akan mengalami inflasi sebesar 0,51 persen (mtm) atau 3,11 persen (yoy).

Baca Juga :  160 Pangkalan Gas Setuju Pakai Kartu Kendali

IHK Tanjungpinang pada September diperkirakan juga akan mengalami inflasi sebesar 0,35 persen (mtm) atau 2,57 persen (yoy).

Sedangkan IHK Batam diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,54 persen (mtm) atau inflasi 3,17 persen (yoy). Secara triwulanan, komoditas utama penyumbang inflasi di Kepri adalah cabai merah. Sedangkan komoditas utama penyumbang deflasi adalah bawang putih.

BPS juga menjelaskan beberapa faktor pendorong terjadinya inflasi pada bulan Oktober 2018. Seperti curah hujan dan gelombang tinggi dapat memicu kelangkaan ikan segar.

Serta menghambat jalur distribusi bahan makanan seperti cabai merah yang pola historisnya menunjukkan peningkatan inflasi sampai akhir tahun.

Baca Juga :  Tahun Ini, Pembangunan Quran Center Bukit Manuk Dilanjutkan

Kemudian, dapat juga berdampak pada produksi sayuran. Potensi kenaikan harga cabai merah karena penurunan pasokan seiring berakhirnya masa panen.

Dimana berdasarkan pola historis inflasi komoditas menunjukkan tren meningkat pada September hingga akhir tahun serta mulai meningkatnya harga cabai merah di salah satu sentra pemasok Kepri yaitu Sumatera Barat.

Wacana kenaikan tarif batas bawah angkutan udara oleh pemerintah yang dapat memicu inflasi angkutan udara dan nilai tukar rupiah yang tertekan karena kondisi eksternal berpotensi memicu imported inflation.

Walikota Tanjungpinang, H. Syahrul, pemimpin rapat inflasi mengatakan bahwa inflasi adalah sesuatu yang perlu kita kendalikan.

Baca Juga :  RSUD Kepri Akreditasi Paripurna

”Jika inflasi terlalu tinggi maka daya beli masyarakat akan turun begitu pula sebaliknya jika terlalu rendah maka pedagang akan rugi, oleh karena itu inflasi ini harus tetap dijaga,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa kunci dari kenaikan harga untuk Kota Tanjungpinang hanya pada stok.

”Jika stoknya cukup maka harga di pasaran tidak akan ada gejolak,” jelas Syahrul.

Dalam rapat tersebut turut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Wawako Hj Rahma, Bulog, BPS, BMKG, BUMD, Bea Cukai, Karantina Hewan, OPD terkait.(ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here