Catatan Tabligh Akbar KH Abdullah Gymnastiar di Masjir Raya Nurul Iman Kijang

0
1200
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Pembina Komunitas Pemuda Pejuang Subuh (KPPS)

Sabtu (8/4) subuh di masjid raya Nurul Iman Kijang ratusan jamaah dan sekitarnya memenuhi saf-saf masjid mendengarkan tabligh akbar KH Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym.

Ditengah tudingan isu intoleran dalam beragama dan perbedaan cara umat Islam dalam beribadah, Aa Gym menyuguhkan suatu topik yang sederhana namun mendalam. Merawat perbedaan demikian topik ceramahnya. Berikut adalah rekaman catatan yang bisa penulis tangkap dari ceramah yang disampaikannya sekitar 45 menit.

Dimulai dari beragam fenomena umat yang terpecah karena masalah-masalah yang kurang substansi untuk diperdebatkan hingga beragam perbedaan yang mengarah sikap intoleran dalam beragama. Tentunya ini tidak boleh terus berlangsung. Perbedaan merupakan sunatullah dan ianya harus dirawat. Negeri ini bisa bersatu karena masyarakatnya mampu merawat perbedaan tidak gontok-gontokan.

Setidaknya ada empat tips sederhana yang diberikan Aa Gym kepada kita semua untuk menjaga dan merawat perbedaan yang terjadi pada negeri ini dan umat.

Pertama, belajar bijak dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, namun kita perlu bijak menyikapi. Aa Gym mencontohkan bangunan masjid Raya Nurul Iman yang indah karena perbedaan. Perbedaan warna dan masing-masing karakter pembentuk bangunan masjid itulah membuat indah masjid.

Menurutnya, Masjid Raya Nurul Iman ini tidak akan indah kalau bangunannya misalnya terdiri dari paku semua, tentu ada paku ada semen ada batu yang semuanya bersatu padu untuk membangun bangunan masjid. Kalau tidak ada semua unsure pembeda antara bangunan dan fungsinya masing-masing tentu bangunan masjid tidak menjadi indah. Dengan kata lain, Aa Gym meminta agar umat ini bijak dalam menyikapi perbedaan, tidak melulu bicara kelemahan satu sama lain tapi terus mencari kesamaan.

Baca Juga :  Memperkokoh Toleransi Menjaga Kebhinekaan

Misal antara umat Islam ada yang salat subuhnya menggunakan qunut dan ada juga yang tidak. Nah, persoalan ini terkadang membuat umat terpecah dan saling menyalahkan. Padahal keduanya memiliki dalil dan Rasulullah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Mau yang qunut atau tidak, menurut Aa Gym penting bagi umat untuk terus berpikir kesamaan. Mau qunut atau tidak mari umat terus berpikir jamaah yang qunut dan atau tidak itu kan sama-sama Islam. Begitu juga dengan fenomena perbedaan yang lain mari terus mencari kesamaan untuk bijak dalam perbededaan.

Kedua, tidak menonjolkan diri. Sesuatu yang menonjol itu membuat kelihatan tidak bagus. Kendati manusia memiliki kelebihan atau potensi yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang lain memang sifat suka menonjolkan diri itu membuat perbedaan bisa menimbulkan konflik. Masih mencontohkan bangunan masjid, jika salah satu dari bagian bangunan masjid ada yang menonjol tentu bangunan masjid Raya Nurul Iman tidak kelihatan indah. Masing-masing diantara elemen bangunan saling mengetahui posisinya dan saling bersinergi dalam membentuk bangunan yang indah kendati mereka punya perbedaan fungsi dalam mengokohkan bangunan masjid.

Ketiga, jangan meremehkan yang lain. Masjid ini, kata Aa Gym, bisa bersih ada peran penjaga masjid yang setiap saat menyapu dan membersihkannya. Memang dimata sebagian umat, posisi penjaga masjid tidak ada apa-apanya tapi bayangkan kalau tidak ada penjaga masjid mungkin masjid tidak bersih. Boleh jadi mereka dihadapan Allah SWT lebih mulia dibandingkan manusia yang merasa dirinya memiliki posisi tapi belum tentu mulia dengan posisinya. Oleh sebab itu, cara merawat perbedaan bisa dengan cara tidak meremehakan orang lain.

Keempat, sikap lemah lembut. Perbedaan bisa dirawat dan menjadi indah dengan selalu mengedepankan kelemahlembutan akhlak, bahasa dan santun dalam prilaku. Rasullullah bisa merawat perbedaan ditengah umat dengan sikap lemah lembutnya. Allah SWT befirman “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Q.S Ali Imran Ayat 159 ).

Baca Juga :  Pancasila Itu Mesti Mendarah Daging

Meminjam kutipan di website quran-hadis.com Prof Hamka Menjelaskan tentang QS. Ali Imran ayat 159 ini, dalam ayat ini bertemulah pujian yang tinggi dari Allah terhadap Rasul-Nya, karena sikapnya yang lemah lembut, tidak lekas marah kepada ummatNya yang tengah dituntun dan dididiknya iman mereka lebih sempurna.

Sudah demikian kesalahan beberapa orang yang meninggalkan tugasnya, karena laba akan harta itu, namun Rasulullah tidaklah terus marah-marah saja. Melainkan dengan jiwa besar mereka dipimpin. Dalam ayat ini Allah menegaskan, sebagai pujian kepada Rasul, bahwasanya sikap yang lemah lembut itu, ialah karena ke dalam dirinya telah dimasukkan oleh Allah rahmatNya.

Rasa rahmat, belas kasihan, cinta kasih itu telah ditanamkan Allah ke dalam diri beliau, sehingga rahmat itu pulalah yang mempengaruhi sikap beliau dalam memimpin.

Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran – pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam perang uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka. Andaikata Nabi Muhammad saw bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.

Baca Juga :  Indonesia Bukan Angola

Disamping itu Nabi Muhammad selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum muslimin patuh melaksanakan putusan – putusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad dijalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum muslimin selain Allah.

Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid
Demikian empat hal atau tips dari Aa Gym tentang merawat perbedaan. Dibalik tips itu ada sindiran yang menurut perlu garis bawahi yakni gerakan subuh berjamaah di masjid. Aa Gym sempat bertanya apakah setiap salat Subuh jamaahnya seramai ini.

Nah, Pak Gubernur di daerah-daerah lain sudah ada yang launching gerakan Subuh berjamaah mudah-mudahan di Kepri bisa dilakukan hal yang serupa karena salat Subuh berjamaah di masjid adalah salat yang sangat dianjurkan nabi dan bahkan paling banyak fadhilah atau manfaatnya.

Aa Gym sempat berseloroh kalau bapak-bapak salat jamaahnya di rumah pakai mukenah saja. Nah, semoga apa yang disampaikan Aa Gym bisa melekat dan kita lakukan bersama untuk menjaga dan merawat perbedaan antara umat beragama dengan bijaksana dalam menyikapi perbedaan, tidak menonjolkan diri, tidak meremehkan orang lain dan bersikap lemah lembut.

Akhir kata semoga Allah SWT selalu memberikan kedamaian di negeri ini dan menggerakkan hati dan meringankan langkah kita untuk senantiasa taat kepada-Nya dan meramaikan subuh berjamaah di Masjid. Semoga. Amin! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here