Dilema Persaingan SDM Putra Daerah

0
760
Angella Rosha Pangestu

Oleh: Angella Rosha Pangestu
Mahasiswa Prodi IAN FISIP UMRAH

Sebagian besar Perguruan Tinggi di Tanjungpinang kini didominasi mahasiswa dan calon mahasiswa yang berasal dari luar Kota Tanjungpinang. Untuk Perguruan Tinggi sendiri, Tanjungpinang memiliki beberapa pilihan kampus baik negeri maupun swasta dari dengan berbagai macam jenis dan latar kejuruan. Meskipun tidak sebanyak pilihan kampus yang berada di Pulau Jawa, namun keberadaan beberapa Perguruan Tinggi di Tanjungpinang cukup untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak daerah yang tidak mampu untuk meneruskan pendidikan tinggi di kampus-kampus besar di luar Daerah seperti UI, UGM, UNPAD, UNJ, dan lain-lain. Kendala yang dihadapi baisanya karena keterbatasan potensi maupun keterbatasan financial.

Begitu pula halnya dalam dunia kerja. Di beberapa instansi pemerintahan, maupun beberapa perusahaan swasta telah diisi oleh sebagian besar pegawai atau karyawan yang berasal dari luar Kota Tanjungpinang seperti Batam, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, Natuna, Anambas dll. Lantas yang menjadi permasalahannya adalah tidak sedikitnya sarjana di Kota Tanjungpinang yang menjadi pengangguran. Atau sarjana yang pada akhirnya tidak dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya di perguruan tinggi dan kemudian bekerja pada jenis mata pencaharian di tingkatan paling rendah siklus ekonomi seperti tukang ojek, tukang bangunan, penjaga toko, pelayan restoran, dan lain-lain.

Untuk tingkat kampus saja, titik permasalahan paling penting dalam polemik persaingan antara putra daerah dan putra luar daerah terletak pada potensi sumber daya manusianya. Sekarang sudah ada tiga jalur penerimaan mahasiswa baru untuk masuk ke Perguruan Tinggi yaitu SNMPTN, SBMPTN, dan SMMPTN.

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau biasa di singkat SNMPTN adalah salah satu bentuk jalur seleksi penerimaan mahasiswa untuk memasuki perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia. Selain seleksi mandiri (melalui Ujian Mandiri) serta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Pada awalnya, SNMPTN terdiri dari dua jalur yaitu SNMPTN undangan (seperti PMDK) melalui nilai rapot dan SNMPTN tulis melalui ujian tulis. Pada tahun 2013, SNMPTN tulis diubah nama menjadi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). dan SNMPTN Undangan kemudian berganti nama menjadi SNMPTN (tidak pakai undangan) dengan kriteria seleksi penerimaan berdasarkan nilai rapot, nilai Ujian Nasional, dan prestasi akademis lainnya.

Sedangkan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau disingkat SBMPTN merupakan seleksi bersama dalam penerimaan mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi negeri menggunakan pola ujian tertulis secara nasional yang selama ini telah dilakukan menunjukkan berbagai keuntungan dan keunggulan, baik bagi calon mahasiswa, PTN, maupun bagi kepentingan nasional.

Kemudian ada jalur SMMPTN atau yang biasa kita sebut dengan jalur Mandiri. Test Jalur Mandiri adalah sebuah sistem penyaringan dengan ujian yang di lakukan oleh calon mahasiswa baru yang diselenggarakan oleh pihak PTN terkait.
Ujian ini diselenggarakan oleh pihak institusi dalam rangka memberikan alternatif pilihan bagi mereka yang tidak lolos tes SNMPTN maupun SBMPTN untuk tetap dapat melanjutkan studi ke PTN. Adapun mekanisme tes Jalur Mandiri ini hampir sama dengan tes SNMPTN/SBMPTN meliputi Tes Kemampuan Dasar, Tes Potensi Akademik, dan Tes Kelompok SAINTEK/SOSHUM, hanya saja materi ujian yang disajikan beragam karena soal-soal ujian murni dikembangkan oleh pihak PTN masing-masing.

Kita contohkan saja satu Perguruan Tinggi Negri yang berada di Kota Tanjungpinang, yakni Universitas Maritim Raja Ali Haji atau yang akrab kita sebut dengan UMRAH. Umrah merupakan satu-satunya Universitas Negeri pertama di Kota Tanjungpinang. Pada awalnya kehadirannya UMRAH masih berdiri sebagai universitas swasta. Namun, seiring dengan peningkatan yang dialaminya menjadi Perguruan Tinggi Negri, maka secara otomatis membuka peluang bagi calon mahasiswa di seluruh Indonesia untuk dapat ikut mendaftarkan diri ke UMRAH.

Nah disinilah letak mekanisme ujian SNMPTN dan SBMPTN tadi. Maka semenjak UMRAH berubah statusnya menjadi Universitas Negeri, persaingan masuk ke UMRAH pun menjadi semakin ketat. Karena Persaingan tersebut tidak hanya meliputi calon mahasiswa yang berada di Kota Tanjungpinang saja, melainkan mencakup seluruh daerah di Indonesia secara Nasional.

Dikarenakan kurangnya potensi SDM, maka calon mahasiswa local yang berada di Kota Tanjungpinang ini tidak dapat bersaing secara Nasional, dan pada akhirnya calon mahasiswa yang mendaftar tidak dapat lulus berdasarkan Ujian dari Jalur SNMPTN dan SBMPTN tadi. Dan secara otomatis peluang kelulusan tersebut pastinya terisi oleh calon mahasiswa yang berasal dari luar daerah.

Kemudian anak-anak daerah yang tidak lulus dalam mekanisme jalur SNMPTN dan SBMPTN harus beralih kepada jalur Mandiri. Memang secara teknis Ujian Jalur Mandiri tidak lebih sulit jika dibandingkan dengan Ujian SNMPTN atau SBMPTN. Karena ujian ini diselenggarakan oleh masing-masing Perguruan tinggi, maka tidak ada persaingan secara nasional dengan calon-calon Mahasiswa di seluruh Indonesia. Namun pada penerapannya, Mahasiswa yang lolos dari UJian Mandiri juga tidak semudah itu.

Karena, seperti yang sama-sama kita ketahui, Pembayaran Uang Kuliah bagi mahasiswa Jalur Mandiri pastinya lebih mahal dibandingkan dengan SNMPTN atau SBMPTN. Untuk UMRAH sendiri pada tahun ini, pembayaran UKT bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri mencapai biaya Rp.4.000.000,- sampai dengan Rp.4.200.000,- . Akibat biaya yang tergolong mahal dan tidak terjangkau tadi, membuat calon Mahasiswa local yang berasal dari pulau-pulau kecil di daerah sekitar Kepulauan Riau, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan tidak akan mampu secara terus menerus membayar biaya UKT yang sangat mahal teresebut. Pada akhirnya, mahasiswa terpaksa harus putus kuliah karena tidak sanggup membayar UKT ataupun memlilih untuk tidak kuliah sama sekali dan lebih memilih untuk membantu orangtua bekerja.

Maka dari itu, berdasarkan semua permasalahan yang telah saya sampaikan barusan, salah satu cara paling memungkinkan untuk dapat menembus persaingan tersebut iaah dengan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya, dimulai dengan peningkatan kualitas diri masing-masing, maka Putra-putra daerah menajdi dapat bertahan paling tidak di daerah sendiri dan tidak tersingkir dengan mudahnya oleh Putra-putra luar daerah yang juga turut bersaing.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here