Ditunggu Kontribusi 9 Kampus Terbaik dalam Melawan Korona

0
1886
Dosen UMRAH Tanjungpinang saat membuat cairan pembersih tangan. f-dok/tanjungpinang pos

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Prof Zainuddin Maliki menunggu kontribusi nyata 9 kampus di Indonesia yang masuk peringat terbaik dunia versi Times Higher Education (THE).

Mereka ditunggu kontribusinya dalam penanganan pandemi virus Korona jenis baru Covid-19. Kesembilan kampus itu adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), IPB University, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Semuanya masuk dalam 766 universitas terbaik dari 86 negara. Bahkan tiga universitas dari Indonesia masuk rangking 100 besar, yakni UI peringkat 47, UGM peringkat 72, dan IPB di posisi 77.

Kesembilan perguruan tinggi ini dinilai berdampak besar bagi pembangunan berkelanjutan (SDGs).

”Rangking itu kita syukuri, kita ikut bangga, tetapi euforianya jangan lama-lama karena rakyat kan butuh sumbangan nyata dari perguruan tinggi ini. Dalam menghadapi pandemik Covid-19 kita butuh ventilator, Raisa (Robot Medical Assistant ITS-Airlangga), vaksin, apa yang bisa diberikan? ucap Prof Zainuddin kepada jpnn.com, baru-baru ini.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya ini mendapat informasi bahwa sejumlah kampus sudah berhasil mengembangkan teknologi untuk mendukung kebutuhan peralatan medis yang dibutuhkan menghadapi Covid-19.

”Ia mengklaim sudah bisa bikin ventilator, UGM bisa, terus Unair itu bisa bikin Raisa, Robot medical assistant ITS-Airlangga. Tetapi yang menggandakan bukan perguruan tinggi. Butuh modal untuk produksinya, bahan bakunya,” kata legislator PAN ini.

Maka dari itu, pihaknya mendesak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) segera menjembatani berbagai perguruan tinggi yang punya teknologi tersebut dengan kalangan industri baik BUMN maupun swasta.

”Jadi poinnya, naiknya rangking perguruan tinggi itu harus disertai dengan meningkatnya kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat kita sendiri yang sekarang membutuhkan vaksin, sarana medis, ventilator, dan obat-obatan,” tutur politikus asal Jawa Timur ini.

Dia berharap teknologi hasil riset sejumlah kampus itu bisa segera dirasakan masyarakat manfaatnya, terutama untuk menutupi kebutuhan dalam pandemik Covid-19.

Di sinilah diperlukan gerak cepat dari Kemendikbud, supaya hasil riset itu bisa diproduksi secara besar-besaran.

Dengan demikian, manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat terutama di RS rujukan Covid-19 yang mengalami kekurangan sarana medis, ventilator, robot pembantu tenaga medis, APD, vaksin, obat-obatan.

Untuk mewujudkan hal itu, tambah Prof Zainuddin, dibutuhkan kekompakan antarkementerian dan lembaga dengan perguruan tinggi, BUMN maupun pihak swasta. Sehingga istilah gotong-royong yang selama ini disuarakan jajaran menteri tidak sekadar retorika.

”Bagaimana bisa diwujudkan gotong royong antara Kememdibud, perguruan tinggi, BUMN, swasta. Jangan cuma latihan keterampilan yang tidak bermanfaat yang di Google sudah banyak itu yang diurusi,” tandasnya.

Di Kepri, Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang yang ikut membantu menangani penyebaran Korona.

Sejumlah dosen yang mengabdi di Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (FKIP Umrah) Tanjungpinang meracik bahan-bahan untuk cairan pembersih tangan yang aman dan efektif.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kampus. Namun dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat mengingat sejak beberapa pekan terakhir, cairan pembersih tangan sulit diperoleh masyarakat. FKIP UMRAH pada prinsipnya juga menginginkan karya dosen-dosen itu dapat dimanfaatkan masyarakat mencegah Covid-19. (jpnn/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here