Gerakan Melawan Stigmatisasi di Masa Pandemi Covid-19

0
740
Indra Martias

Oleh :
Indra Martias, SKM, MPH
Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang

Sosiolog dari Amerika Serikat Erving Goffman mendefinisikan stigma sebagai atribut yang mendiskreditkan orang lain dan yang merupakan hasil dari konstruksi sosial. Adapun stigma muncul karena kondisi fisik seseorang, karakter yang negatif, atau latar belakang ras, jenis kelamin, dan etnis. Di Indonesia, orang-orang percaya bahwa virus corona masuk ke Indonesia karena pemerintah lalai mencegah pekerja dan wisatawan Cina masuk ke wilayah Indonesia. Sementara itu di Malaysia, masyarakatnya cenderung menyalahkan sekelompok Muslim yang mengumpulkan 16.000 anggotanya dalam acara tabligh akbar sehingga mengakibatkan transmisi virus corona semakin merebak.

Dalam psikologi sosial ada yang namanya “stigma sosial”, sebuah ciri negatif yang melekat pada seseorang kemudian ditolak keberadaannya di lingkungannya. Arti “stigma” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 2014, yaitu ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Sedangkan arti “sosial” yaitu berkenaan dengan masyarakat. Jadi, arti “stigma sosial” adalah penolakan keberadaan seseorang atau kelompok pada lingkungan tertentu karena sudah dianggap tercela. Apabila seseorang sudah terkena stigma sosial, maka secara pribadi sudah sangat dirugikan. Sangat sulit menghapus stigma yang telanjur melekat. Bahkan, dampak stempel stigma sering berujung pada pengucilan di lingkungannya.

Baca Juga :  Korona Masuk, Menteri Tunda Kucuran Dana Influencer

Di tengah wabah COVID-19, muncul satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yakni stigma sosial atau asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan/atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit. Perasaan bingung, cemas, dan takut yang kita rasakan dapat dipahami, tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19. Jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat (1) orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, (2) mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, (3) dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat.

Dalam kasus COVID-19, ada peningkatan jumlah laporan stigmatisasi publik terhadap orang-orang dari daerah yang terkena epidemi. Di Indonesia stigma muncul dalam bentuk perilaku sosial antara lain : (1) Mengucilkan survivor/ pasien yang telah sembuh dari Covid-19, karena dianggap masih dapat menularkan penyakitnya (2) Menolak dan mengucilkan orang yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain (3) Mengucilkan tenaga medis/kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit, karena dianggap dapat menularkan virus corona (4) Menolak jenazah karena dianggap masih terdapat virus yang dapat ditularkan kepada orang lain. Stigma sangat melukai hati seseorang/kelompok bahkan lebih berdampak negatif  bagi kesehatan mental dibandingkan virus Corona itu sendiri.

Baca Juga :  Mengulas Kecilnya Gaji Guru Honorer di Kepri

Tindakan yang dapat dilakukan untuk melawan sikap stigmatisasi antara lain : sebarkan informasi yang benar tentang COVID-19 berdasarkan fakta yang ada. Berikanlah dukungan kepada orang yang terstigma sehingga sangat berguna bagi proses kesehatan mental orang yang terstigma.

Sebarkan pemberitaan yang dapat berperan mengurangi stigma. Memperkuat suara, gambar atau cerita dari orang yang telah sembuh dari COVID-19 atau kelompok orang/keluarga yang selama ini telah mendukung pasien untuk pulih. Meminta cerita dari berbagai macam kelompok etnis untuk memberikan gambaran bahwa usaha mereka untuk sembuh semua sama. Pelaporan media harus seimbang dan kontekstual, disebarkan berdasarkan bukti informasi dan membantu memerangi rumor yang mengarah pada stigmatisasi. Galakkan kegiatan untuk menciptakan gerakan dan lingkungan positif yang menunjukkan kepedulian dan empati untuk semua. Bijaksana mengonsumsi informasi dari media sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi dan menimbulkan infodemik di masyarakat.

Daripada menunjukkan stigma sosial, alangkah lebih bijak jika kita berkontribusi secara sosial, yaitu dengan: 1) membangun rasa percaya pada layanan dan sarana kesehatan yang bisa diandalkan; 2) menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak; 3) memahami wabah itu sendiri; dan, 4) melakukan upaya yang praktis dan efektif sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai. Mari menjadikan kehadiran wabah Covid-19 sebagai pembelajaran untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial, toleransi, saling membantu antar sesama tanpa diskriminasi, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Guru Bagai Barang Antik di PSB

Bukan sebaliknya acuh tak acuh, saling menyalahkan, mencibir, dan saling lempar tanggung jawab. Kita diuji mengelola kecerdasan rasional secara proporsional tak mudah terprovokasi, tak berpasrah pada keadaan, tidak menyebarkan hoaks yang menyebabkan kekhawatiran dan ketakutan berlebihan dan tidak pula memberikan stigma negatif kepada mereka yg terkonfirmasi positif Covid-19.

Justru pada kondisi ini kita harus bahu membahu saling menguatkan satu sama lain membantu mereka sebagaimana pengabdian dan pengorbanan para pahlawan kesehatan (tim medis) yang senantiasa berjuang pada garda terdepan berusaha menghentikan laju penyebaran wabah Covid-19. Oleh karena itu mari kita membuka mata, hati, dan telinga untuk berempati dan toleran pada lingkungan sekitar.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here