Hampir Sewindu Dibangun, Tak Rampung

0
843
PELABUHAN TANJUNGMOCO: Para pekerja terus membangun pelabuhan Tanjung Moco Dompak 2016 lalu. Sudah tujuh tahun, pelabuhan ini belum juga rampung. f-suhardi/tanjungpinang pos

Empat Perusahan Lirik Kawasan Pelabuhan Moco 

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Moco di Kelurahan Dompak sudah dimulai sejak 2010 lalu. Namun, proyek itu belum juga rampung sampai sekarang. Proyek di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Dompak itu sudah menghabiskan Rp 115 miliar.

Tanjungpinang – Pada tahun 2010 lalu, proyek pelabuhan kontainer ini dianggarkan melalui APBN sebesar Rp 25 miliar. Kemudian pada tahun 2011, pemerintah pusat mengalokasi lagi Rp 5 miliar.

Tidak sampai di situ, pada 2012 juga dianggarkan lagi Rp 65 miliar untuk pembangunan pelabuhan Tanjung Moco ini.

Lalu tahun lalu, 2016, kembali pemerintah pusat menganggarkan Rp 20 miliar. Total dana yang sudah dihabiskan mencapai Rp 105 miliar untuk mencapai Rp 105 miliar untuk penimbunan dan pembangunan jembatan tersebut.

Namun, sampai saat ini, pelabuhan yang semula diharapkan menjadi kebanggaan di Ibukota provinsi itu belum juga rampung.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tanjungpinang, Bobby Jayanto, mengaku prihatin dengan lambatnya pembangunan pelabuhan yang satu ini.

”Kami berharap pelabuhan kontainer Tanjungmoco itu segera dibenahi infrastrukturnya, agar bisa difungsikan,” harap Bobby Jayanto.

Kata dia, sejak Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas di di Tanjungpinang ditetapkan pada 2009, hingga saat ini belum ada aktivitas industri di kawasan FTZ Dompak dan Senggarang, Tanjungpinang.

Padahal, kata Bobby, luas wilayah yang masuk kawasan FTZ di Dompak dan Senggarang sudah memadai. Wilayah di Dompak ada 1.300 haktare (Ha) dan Senggarang 1.333 Ha.

Untuk kawasan FTZ Dompak, terbagi dalam tujuh zona. Dimana tiap-tiap zona memiliki karakteristik kegiatan yang berbeda-beda, yaitu zona industri, pengolahan ekspor, logistik, jasa keuangan, techno park, pariwisata dan olahraga

”FTZ produk unggulan, tapi kita lihat belum berdampak untuk masyarakat,” tegasnya.

Bobby minta agar Badan Pengusahaan (BP) Tanjungpinang dan Pemprov Kepri, untuk terus memantau pembangunan Pelabuhan Tanjung Moco.

”Dana APBN harus rajin-rajin di awasi, supaya cepat selesainya,” tegasnya.

Bobby menjelaskan, dulu para investor tidak mau masuk ke kawasan FTZ, karena saat itu krisis listrik dan air.

Dua item ini sudah bisa diatasi, tinggal pemerintah lagi mempersiapkan sarana dan prasana pendukung. Termasuk di pelabuhan Tanjung Moco, selain harus dibangun pergudangan, harus ada listrik, harus ada air, juga jalan menuju Tanjung Moco juga dipercepat.

Kemudian, Bobby minta kepada pemerintah untuk melibatkan pihak swasta, untuk memanfaatkan kawasan FTZ. Dan, izin-izin bagi investor harus diberikan kemudahan.

Ia juga minta, agar pemerintah terus melakukan pembebasan lahan, khusus untuk bangun sarana dan prasana di kawasan FTZ.

Kepala BP Tanjungpinang, Den Yealta, menambahkan BP Tanjungpinang dan Pemprov Kepri, sama-sama mendorong agar pelabuhan FTZ Tanjung Moco di operasikan.

”Bukan Kadin saja yang minta dioperasikan segera. Tapi, BP Tanjungpinang dan Pemprov Kepri, juga mendorong supaya pelabuhan FTZ segera dioperasikan,” tegasnya.

Kata dia, tahun ini BP Tanjungpinang akan membuat DED jalan menuju tersebut. Dan, tahun 2018 baru direncanakan pengaspalnya.

”Dana pengaspalan tidak turun, karena kita tidak memiliki DED pembangunan jalan menujut Tanjung Moco,” tegasnya.

Ia juga membeberkan, tahun ini sudah ada empat perusahaan, sedang mengurus perizinan, untuk mendirikan pabrik tiner, pabrik rokok.

”Sudah banyak investor melirik. Dengan kondisi listrik dan air tersedia, kita berharap kawasan FTZ Dompak terus dilirik investor,” bebernya.(ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here