Haru dan Bahagia di Panggung Penuh Warna

0
722
PELUNCURAN BUKU: Husnizar Hood (kanan) bersama bersaudara pada malam peluncuran buku puisi, Senin (11/12). F-Fatih/tanjungpinang pos

Peluncuran Buku Puisi Terbaru Husnizar Hood

Sebagaimana yang dijanjikan, peluncuran buku puisi terbaru Husnizar Hood ”Aku Hanya Ingin Menjadi Penyair Biasa” Senin (11/12) malam, berlangsung meriah dan seru. Ada banyak kejutan yang patut dikenang.

TANJUNGPINANG – PEMILIHAN lokasi di pelataran Laman Boenda, TepiLaut menjadi jaminan angin laut berembus kencang. Desember pula. Hujan sempat turun garis-bergaris. Penonton yang sudah turun sampai memeluk badan sendiri. Tetapi, ketika pewara membuka acara, mendadak hangat menjalar sekujur badan.

Apalagi ketika 50 penari muncul dan musik mulai berbunyi. Khidmat. Syahdu. Riuh. Seutuh-utuhnya. Sebuah sampul buku berukuran setinggi dada orang dewasa di bawa ke tengah panggung. Yang paling berbahagia tentu yang berulang tahun dan dipanggil naik ke panggung. Husnizar Hood pada hari pertama usia 50-nya itu lantas memanggil lima saudara laki-lakinya.

”Sungguh di usia barunya, kami berharap adik kami, Husnizar Hood, tetap terus mampu menjayakan kebudayaan Melayu lewat puisi-puisinya. Jangan lupa lebih banyak lagi main ke masjid,” kata Huzrin Hood, abang Husnizar dan anak kedua dari pasangan Hood-Zainab, berkelakar.

Keharuan tiba-tiba menyeruak ketika Pepy Candra, istri Husnizar, turut bergabung membawa bubur merah buat suaminya yang berulang tahun. Ini, kata Huzrin, merupakan tradisi ketika ada anggota keluarga yang berulang tahun dan selalu diupayakan Zainab, sang ibunda. Dan kini, tradisi itu tidak pernah akan terulang lagi.

”Karena genap 40 hari Emak kami berpulang, dan semoga tradisi ini dilanjutkan istri kami dan anak-anak kami, kata Huzrin, mewakili anggota keluarga lainnya.

Baca Juga :  Budidaya Melon Petani Dompak Sukses

Kini, giliran Pepy, sang istri, bersaksi. Pepy mengaku buku puisi ketiga Husnizar setelah Kalau “ Tiga Racik Sajak (1996) dan Tarian Orang Lagoi (1999) kali ini adalah hadiah spesial ulang tahun ke-50 suaminya. Bersama Vinne, Rike, dan Wisze, tiga putrinya, ia mengumpulkan puisi-puisi Husnizar yang selama ini berserakan di sejumlah antologi, surel, dan gawainya.

Karena, kata dia, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penyair kecuali ketika puisi-puisinya dibukukan. Selain itu, juga karena uangnya belum cukup untuk membelikannya sepatu LV,”kata Pepy yang disambut tawa penonton.

Selama menyiapkan acara ini, Pepy memang melarang suaminya melihat lebih dekat persiapan di atas panggung. Bahkan, tak sekali pun Husnizar tahu bentuk panggung di halaman Gedung Gonggong akan seperti apa bentuknya. Pepy ingin suaminya, walau sudah begitu piawai melaksanakan sejumlah acara kesenian, tinggal datang dan duduk santai bak seorang raja. Termasuk pula kejutan yang Pepy tampilkan di layar raksasa ketika ketiga putrinya membacakan puisi. Karena Bang Husnizar tidak pernah tahu bahwa anak-anaknya ini sangat pandai membaca puisi.

Secara tidak langsung, acara yang digagas Pepy kemarin membuka pandangan banyak orang bahwasanya Gedung Gonggong dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai lokasi pertunjukan. Potensi yang selama ini sudah terlalu lama dibiarkan itu berhasil diwujudkan dalam sebuah acara gemerlap, penuh cahaya, dan, sudah pasti, berlatarkan Gedung Gonggong sebagai ikon Kota Tanjungpinang.

Baca Juga :  Warga Dompak Gugat BPN

”Ya harapannya, kelak pemerintah bisa melihat bahwa gedung ini, termasuk juga pelatarannya bisa dijadikan panggung pertunjukan bagi para seniman,” kata Pepy.

Selanjutnya, tiba ke acara puncak. Para pembaca puisi dihadirkan. Namun, bukan sembarang pembaca. Berturut-turut ada Farida Syahdu dan Raja Imran Hanafi. Kehadiran dua orang ini bukan tanpa alasan. Camat Alay dan ASN Pemprov Kepri itu diminta membaca puisi lantaran keduanya merupakan lawan tanding Husnizar ketika lomba baca puisi semasa SMP.

Karib dan kawan-kawan lama Husnizar yang lain pun tak mau melewatkan malam berbahagia ini. Masing-masing dari mereka kemudian diminta memberi kesaksian tentang sosok Husnizar yang mereka kenal. Bagi Budayawan Melayu, Rida K Liamsi sosok Husnizar adalah seorang seniman yang berhasil memilah-milih antara kewajibannya sebagai seorang politisi dan tanggung jawabnya sebagai seorang seniman.

”Itulah mengapa saya tidak ragu memberinya ruang kolom budaya selama 15 tahun terakhir. Dia sangat berkomitmen dalam menulis pemikiran-pemikirannya tentang kebudayan dan tidak campur aduk dengan kepentingan politiknya,” ujar Rida.

Lain lagi bagi Agus Noor. Sutradara beken dari Jakarta ini sudah lama bekerja sama dengan Husnizar dalam pertunjukan teater. Bagi Agus, Husnizar adalah sebuah representasi Melayu di panggung kesenian nasional.

Bahwasanya selama ini Orang Jakarta menyebut Melayu dengan sebelah mata, Husnizar berhasil membelalakkan mata betapa Melayu adalah bangsa yang besar dan penting sumbangsihnya dalam bingkai keindonesiaan.

Baca Juga :  Sarden Bercacing Masih Dijual Bebas

”Kalau kelak Bang Husnizar benar ke Senayan, tentu itu sebuah keputusan yang tepat. Kita masih sangat perlu seorang pejabat yang amat peduli terhadap kebudayaan. Kini, saatnya orang Melayu ke Jakarta,” kata Agus disambut tepukan tangan heboh dari penonton.

Malam kemarin, perlu diingat pula bahwa tidak ada seorang pun penyair yang boleh membaca puisi. Hanya orang-orang terdekat Husnizar yang akan membacakan puisi-puisinya.

Mulai dari Yogi Rizkyanto, keponakan Husnizar, yang membuka dengan pembacaan puisi epik beriring musik. Lalu disusul berturut-turut Tohar Fahlevy, Yudha Adi Brattakusuma, Rahmat, Nona, dan Aswandi Syahri. Terkecuali nama terakhir, mereka adalah orang-orang yang berada di lingkar terdekat Husnizar. Ada yang berstatus sopirnya, ajudannya, dan penarinya.

Sedangkan nama terakhir, tentu masyhur sebagai sejarawan di Kepri. Namun, khusus pada malam berbahagia kemarin, Aswandi membuka diri membacakan puisi Dongeng Pasir, yang disebutnya sebagai puisi masterpiece sepanjang lebih dari tiga dekade Husnizar menulis puisi.

Keseruan tersaji sampai penampilan penghabisan. Hujan urung turun. Malam kian hangat. Semua berdoa, Husnizar di usia kepala lima semakin berani berbuat dan memajukan kebudayaan Melayu dan pembangunan Kepri ke depannya. Baik itu perannya sebagai Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kepri dan karya-karyanya sebagai penyair terbilang.

”Dan saya amat perlu dukungan kalian semua,” timpal Husnizar.(FATIH MUFTIH)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here