“Ikan untuk Anak Kami Diambil Oknum”

0
772
SALING DORONG: Pendemo dan polisi saling dorong di Kantor Gubernur Kepri di Dompak, kemarin. f-istimewa

Demo Nelayan Ricuh 

DOMPAK – Puluhan mahasiswa dan nelayan Kampung Bugis, Tanjungunggat dan sekitarnya menggelar demo di Kantor Gubernur Kepri di Dompak, Rabu (17/5).
Demo sempat diwarnai kericuhan saat warga mencoba bergerak menuju gedung utama Kantor Gubernur. Puluhan polisi yang berjaga-jaga langsung menahan aksi pendemo.

Saat itu, aksi saling dorong dari kedua belah pihak tidak dapat dihindari. Kemudian, suasana makin memanas dan entah kenapa tiba-tiba ricuh. Bahkan, salah satu mahasiswa terjatuh.

Orator yang berdiri di atas pikap kemudian menyuruh mahasiswa dan nelayan mundur. Ia melihat, kondisinya makin memanas sehingga disuruh mundur. Usai kericuhan itu, polisi dan orator nelayan berdialog lewat mikrofon. Polisi meminta agar nelayan tidak bergerak.

”Tugas kami untuk menjaga keamanan. Silahkan sampaikan tuntutan kalian di sini,” ujar salah satu polisi berpangkat AKP itu.

Nelayan hendak bergerak untuk menduduki kantor gubernur lantaran tidak ada perwakilan yang menerima kedatangan mereka. Saat itu diberitahu kalau gubernur sedang rapat. Sehingga warga ingin menemui gubernur secara langsung.

Demo berlangsung cukup lama. Bahkan, para nelayan harus makan di sana. Hingga pukul 13.00, para nelayan masih bertahan di tempat itu. Warga bertahan karena ingin mendengar suara gubernur melalui telepon.

Baca Juga :  2017, Capaian PAD Pemprov Kepri Rp 980 Miliar

Saat itu, Edy Sofyan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemprov Kepri sempat menemui demonstran dan mengatakan, gubernur baru selesai mengadakan pertemuan dengan Kapolda dan KPK di ruang kerjanya.

Setelah itu, gubernur langsung pergi ke bandara untuk segera berangkat ke Jakarta karena dipanggil rapat bersama presiden.

”Besok (hari ini, red) pak gubernur akan berangkat ke Natuna,” kata Edy.

Karena itu, Edy meminta agar dicari waktu yang tepat untuk bertemu dengan nelayan. Ia pun mengatakan agar disiapkan perwakilan nelayan untuk bertemu gubernur.
Namun, nelayan tak mau. Mereka ingin mendengar langsung gubernur yang bicara. Karena itu, nelayan minta agar Edy menelepon langsung gubernur dan bicara dengan nelayan.

”Kami setuju. Tapi, satu permintaan kami, telepon sekarang pak gubernur. Kami ingin dengar suaranya langsung. Kalau pak gubernur minta masyarakatnya ini pulang, kami akan pulang. Tapi kami ingin dengar suaranya,” jelas orator tegas.

Namun Edy tak bisa menghubungi gubernur. Sehingga, massa bertahan di bawah teriknya matahari demi mendengar suara gubernurnya itu.

Baca Juga :  Semarak dengan Tarian Kolosal SMRS

Ikan Nelayan Diambil
Salah seorang nelayan turut berorasi saat itu. Dengan suaranya yang sangat keras, ia mengungkapkan semua kekesalannya saat itu.

”Kami tak punya uang untuk sogok. Kami tak bisa bayar. Karena tak punya uang, ikan kami yang diambil. Itu, oknum-oknum aparat. Padahal ikan itu untuk makan istri kami,” ujar pria separuh baya itu kesal.

Oknum aparat tersebut harusnya punya hati. Mereka sudah tahu hasil ikan tangkapan mereka tidak banyak. Apalagi, ikan itulah yang akan dijual biar anak istrinya bisa makan, bisa sekolah. Namun, banyak alasan oknum mempersulit mereka di laut hingga akhirnya ambil ikan nelayan.

”Kami tak cari kaya di laut. Ikan itu untuk cukup-cukup makan saja, kenapa kami harus dirampok,” katanya lantang.

Kemudian, kapal mereka juga kadang ditahan karena tidak punya izin lengkap berlayar. Kadang, kapal mereka ditahan tiga hari. Padahal, jika kapal ditahan tiga hari, beras di rumah tidak ada lagi karena tak melaut. ”Kenapa orang-orang susah seperti kami ini yang dikorbankan. Apa tak cukup gajinya yang dikasi negara? katanya makin menggebu.

Baca Juga :  Datang Jomblo, Pulang Ketemu Jodoh

Jika ingin tahu betapa susahnya mencari sesuap nasi di laut, ia pun mengajak para pejabat dan aparat keamanan untuk sama-sama pergi melaut.

”Mari sama-sama melaut. Biar kalian rasakan bagaimana susahnya mencari ikan. Tiap malam kami masuk angin di laut. Kami hanya cari makan. Kami bukan bawa barang haram. Kami bukan penyelundup,” tegasnya.

Orator lainnya juga menyampaikan bahwa perahu yang mereka pakai untuk melaut bukan bantuan pemerintah. Itu hasil keringat mereka sendiri.

Mereka juga membawa spanduk dengan sejumlah permintaan seperti, meminta Gubernur Kepri membuat regulasi yang jelas sesuai UU No.23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Meminta gubernur mengeluarkan surat perizinan API (Alat Penangkapan Ikan).

Meminta gubernur menetapkan zona wilayah dan menyediakan kuota BBM subsidi bagi nelayan. Nelayan juga menuntut agar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No 2 tahun 2017 tentang larangan penggunaan alat tangkap ikan. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here