Ikut UN Saat Kandungan 9 Bulan

0
4350
MASUK SEKOLAH: Siswa SMP saat masuk ke sekolah untuk belajar. f-martunas/tanjungpinang pos

Pacaran Berlebihan, Siswi SMP Hamil Duluan 

Ujian Nasional SMP sudah berlalu. Namun, kenangan itu belum bisa dilupakan, Bunga (bukan nama sebenarnya), siswi yang sedang hamil saat ikut ujian.

TANJUNGPINANG – TAK ada yang menduga kalau Bunga sedang ujian sambil membawa si jabang bayi di dalam kandungannya. Tidak ada yang menduga jika Bunga melangsungkan Ujian Nasional dengan kondisi sedang hamil besar saat itu. Ia menutupinya dengan sangat rapi.

Tanjungpinang Pos berhasil mengulik kisah cinta terlarang remaja era-millinneal ini dari berbagai sumber, salah satunya adalah paparan langsung yang keluar dari bibir sang kepala sekolah.

”Kami akui, bahwa musibah itu memang benar terjadi di sekolah ini. Saya selaku kepala sekolah harus membuat sebuah keputusan besar dengan segala risiko yang akan terjadi, termasuk menjelaskan kepada media massa,” ujar kepala sekolah itu dengan matanya yang sudah menakung genangan kesedihan.

Sembari bercerita, genangan itu perlahan tumpah membasahi pipinya. Bukan karena malu akibat bocornya aib itu kepada awak media, tetapi air mata kesedihan yang ditujukan kepada Bunga.

”Dia (Bunga, red) adalah siswi yang baik di sekolah kami ini, meskipun tidak begitu pintar, tapi dia juga tidak bodoh. Perilaku dan adabnya di lingkungan sekolah juga tidak ada cacat dan cela. Inilah yang menjadikan saya berani mengambil kepututusan yang berat,” kata kepala sekolah itu menyeka tangis di wajahnya.

Baca Juga :  Komplek Cikitsu Juara 2 Gapura Se-Batam

Awalnya, pihak sekolah sudah mencurigai gelagat Bunga yang berbeda. Beberapa bagian tubuh Bunga tampak tidak seperti remaja usia SMP. Namun Bunga berdalih dengan alasan banyak makan.

”Kesalnya saya cuma satu, kenapa sejak awal tidak mau jujur. Dalam hal ini, saya menganggap dia adalah korban keluguan dalam cinta,” bebernya.

Sepandai-pandainya tupai melompat, ada saat dimana akan tergelincir dan jatuh juga. Begitu halnya Bunga yang senantiasa bersusah payah menutupi kehamilannya yang akhirnya terbongkar di usia yang sudah cukup matang untuk melahirkan. Info terakhir yang diperoleh kepala sekolah perempuan itu, Bunga sudah melahirkan lima hari yang lalu dengan jenis kelamin perempuan.

Ketika kehamilan sudah terkuak, sementara ujian nasional di depan mata, ia harus membuat keputusan cepat. Maka dengan Bismillah, Bunga diperkenankan untuk menuntaskan ujian. Sebelum membuat keputusan, si kepsek tersebut sudah melakukan pembahasan dengan pengawas dan bidang-bidang terkait di Dinas Pendidikan.

”Saya akui, Pak Kadis belum mengetahuinya, tapi saya siap dengan segala konsekwensi,” ujarnya mantap.

Baca Juga :  Ramadan, Ramai-ramailah ke Masjid

Bukan bermaksud membangkang, kepsek tersebut berani mengambil langkah spekulasi dengan sejumlah pertimbangan yang cerdas.

”Jika saya keluarkan dari sekolah ini, maka saya adalah kepsek yang jahat yang memutuskan hak pendidikan anak, terlebih dia adalah korban keluguan yang berujung aib,” bebernya.

Ibunya bekerja di Malaysia. Di rumahnya, Bunga tinggal dengan neneknya. Kondisi ekonominya pun memprihatinkan.

”Jadi kalau saya berhentikan, maka saya zalim. Pendidikan adalah haknya, terlebih untuk seusia dia, paling tidak dia mengantongilah ijazah SMP. Selanjutnya adalah haknya sendiri untuk melanjutkan atau berhenti sampai di sini,” kata dia memaparkan.

Hasil rembuk mufakat bersama segenap struktur pendidikan, termasuk wakil kepala sekolah, wali kelas dan beberapa guru membuat sang kepsek mantap untuk membuat sebuah keputusan yang berani. Kebijakan terakhirnya yang mengizinkan Bunga untuk melanjutkan UN karena dia juga manusia biasa yang masih punya hati dan perasaan.

”Dia kondisinya sedang terpuruk. Jika dikeluarkan dari sekolah maka psikologisnya akan jauh lebih terpuruk lagi. Sekolah bukanlah tempat penghakiman karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan,” ungkapnya dengan nada yang mantap meski kesedihan masih tersimpan di matanya.

Baca Juga :  98,4 Persen Warga Batam Sudah Nikmati Listrik

Belajar dari musibah yang menimpa, sang kepsek berharap adanya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam mengawasi pelajar yang ada di Kota Tanjungpinang. Selain membangun pondasi spiritual yang kokoh, memberlakukan jam malam merupakan siasat lain dalam mencegah kejadian serupa, termasuk kontrol orangtua yang berkesinambungan.

”Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini adalah kelalaian kita bersama, baik keluarga, masyarakat, maupun saya dari pihak sekolah. Tapi ketahuilah, sekolah tidak punya tongkat sihir yang bisa menyulap dengan seketika tanpa ada dukungan yang solid dari berbagai pihak. Saya berdoa kepada Allah, berharap aib ini adalah kali terakhir yang terjadi,” paparnya.

Kini, Bunga sudah melahirkan, meski keputusan kelulusannya sebagai seorang pelajar SMP harus menunggu hingga tanggal 2 Juni nanti.

Masih adakah mimpi yang terpahat di benaknya untuk terus menuntut ilmu atau terpatahkan karena statusnya sebagai seorang ibu? yang jelas dari cahaya mata sang kepala sekolah masih ada harapan yang ingin disampaikan.

”Lanjutkan sekolahmu nak,” katanya sambil menyeka air matanya.(YOAN S)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here