Impor Barang Dilarang, Nelayan Bilis Bintan Menangis

1
778
PUKAT BILIS: Seorang anak mengambil ikan di pukat bilis. Nelayan pukat bilis mengeluh karena harga garam sebagai bahan pengolahan bilis naik, sejak impor barang dilarang. f-yendi/tanjungpinang pos

Gubernur dan Bupati Diminta ’Buka Telinga’

KIJANG – Larang impor barang dari pemerintah, tak hanya membikin harga ikan berkualitas ekspor tangkapan nelayan Bintan anjlok, di pasaran Malaysia. Saat ini, giliran nelayan tradisional penangkap bilis yang menangis.

Seorang nelayan tradisional Bintan Syaiful mengatakan, nelayan sangat mengeluh akibat larangan impor barang, terutama untuk garam. Karena, garam sangat diperlukan bagi nelayan ikan bilis. Selain konsumsi rumah tangga, garam juga diperlukan untuk memasak bilis sebelum proses pengeringan.

Baik bagi nelayan tangkapan bilis dengan alat tangkap kelong, maupun bagi nelayan yang menggunakan kapal. Sejak ada kebijakan pemerintah melarang impor, harga garam naik dibandingkan sebelumnya. ”Kalau garam naik, otomatis kami harus keluarkan uang lebih banyak lagi. Sementara, hasil tangkapan tetap,” ujar Syaiful, Kamis (7/9) kemarin.

Menurutnya, harga garam sebelum ada larangan impor barang, dibeli senilai Rp 116 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Sejak ada larangan impor, harga garam yang ukuran karung 40 kilogram dibeli nelayan seharga Rp 233 ribu. Harga naik karena garam langka, akibat larangan impor. Sehingga, sebagian nelayan memilih tidak melaut.

Ketika nelayan melaut, hasilnya tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan nelayan untuk membeli garam. Parahnya lagi, ketika hasil tangkapan bilis banyak, tidak bisa dimasak karena tidak ada garam, untuk pengawetan atau proses pengeringan. Alhasil, bilis tangkapan itu busuk dan terbuang sia-sia. ”Tapi bagaimana pun, kami harus bertahan hidup. Keluarga nelayan menangis, sejak ada larangan impor ini bang. Kami hanya berharap agar Pak Gubernur Kepri dan Pak Bupati Bintan buka mata, dan buka telinga. Tolong lah dengarkan keluhan kami sebagai nelayan kecil di Bintan ini,” keluh Syaiful.

Wadi (42) nelayan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, garam dalam jumlah besar sulit didapatkan saat ini. Nelayan bilis mengeluh ketika ingin memproses pengeringan. ”Kalau pun ada, harga garam itu mahal. Makanya, kami coba naikkan harga bilis dari Rp 75 ribu per kilogram menjadi Rp 85 ribu per kilogram. Tapi, pedagang tak mau beli bilis kami. Kami rugi banyak sejak garam impor ini tak jalan,” ungkapnya.

”Coba lah pemerintah sekarang mencari solusi, agar impor barang dan ekspor di bidang perikanan ini tak terkendala. Kita ini daerah Kepri, daerah laut yang potensi perikanan cukup besar. Jangan urus politik saja,” tambah Wadi. (fre)

1 KOMENTAR

  1. Apakah proses pengeringan Ikan Bilis harus dengan garam? Sy dengar d Thailand proses pengeringan ikan Bilis dengan bantuan alat mesin pengeringan tanpa menggunakan “garam” dan menjadi kualitas export. Pertanyaan Saya apakah bisa proses pengeringan ikan bilis tanpa garam meskipun didaerah kita masih menggunakan pengeringan secara manual yaitu dgn cara penjemuran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here