Impor Diperketat, Gubernur Tak Punya Solusi

0
864
BILIS: Warga Berakit hanya mampu memproses pengeringan ikan bilis dalam jumlah 20-an tempat ikan (ancak). Sebelum harga garam naik, produksi mencapai puluhan ancak.F-yendi/TANJUNGPINANG POS

BINTAN – Pemerintah Provinsi Kepri belum memberikan solusi, untuk mengakomodir keluhan nelayan Bintan, mengenai kenaikan harga garam dan sulitnya ekspor ikan ke luar negeri. Gubernur Kepri H Nurdin Basirun justru mengarahkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri, mengenai hal ini. ”Coba hubungi DKP saja,” kata Nurdin, saat ditanya mengenai imbas diperketatnya impor barang terhadap nelayan Bintan itu.

DKP Provinsi Kepri juga belum bisa memberikan solusi tentang keluhan nelayan Bintan, sejak impor barang diperketat. Saat ini, nelayan Bintan mengeluh karena harga garam ukuran karung 40 kilogram sudah mencapai Rp 233 ribu. Padahal sebelum impor dilarang, harga garam ukuran 50 kilogram hanya senilai Rp 116 ribu. ”Soal di perketatnya impor dan ekspor itu, selagi dibolehkan secara aturan, kita bisa kembangkan seperti saran nelayan. Cuma, apakah dasar dan aturannya sudah ada atau belum,” ujar Edi Sofyan, Kepala DKP Kepri.

Baca Juga :  Sebulan, Mini Hidroponik Teluksasah Panen 30 Kg Sayur

Padahal, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani berjanji akan memberikan kemudahan tentang ekspor dan impor barang di Kepri, saat mengadakan kunjungan ke Karimun, baru-baru ini. Menurut Edi Sofyan, harapan ini bisa saja disambut baik. Namun hal itu baru setakat statemen Menkeu. Wacana itu belum didukung dengan surat atau kebijakan resmi. Tentunya, impor dan ekspor barang, tetap akan terdapat kendala di lapangan. ”Saya minta perwakilan nelayan bisa menyurati kami. Jika perlu, kalau memang itu sangat urgen, kita sampaikan ke Pak Gubernur. Prinsipnya, tidak ada masalah,” tegas Edy Sofyan.

Baca Juga :  Perbaikan Jembatan Kampung Beringin Tak Dianggarkan

Kepala Disperindag Kepri Burhanuddin menambahkan, sudah mendapati informasi bahwa garam impor dari pemerintah pusat sudah tiba di ibu kota Kepri, sekitar tiga hari lalu. Harapannya, kondisi ini bisa menutupi, kesulitan pasar dan masyarakat Kepri yang membutuhkan garam untuk konsumsi. ”Sementara tahap pertama ini ada sekitar 60 ton, yang sudah masuk,” ujar Burhanuddin. ”Harapan kami, tidak ada alasan harga garam di pasaran masih tinggi,” tegasnya.

Menurut Burhanuddin, saat ini kebutuhan garam di masing-masing wilayah di Kepri memang cukup tinggi per tahun. Misalnya, untuk wilayah Tanjungpinang membutuhkan sedikitnya 294,82 ton, Bintan 222,60 ton, Batam 1,780,41 ton, Tanjung Balai Karimun, 327,28 ton, Lingga 128,12 ton, Anambas 58,93 ton, serta Natuna sekitar 108.41 ton.

Baca Juga :  Pasang, Air Laut Banjiri Tanjunguban

Bori, seorang nelayan Malang Rapat mengatakan, akibat larangan impor barang, harga garam semakin naik. Saat ini, harga garam sudah mencapai Rp 380 ribu, untuk ukuran karung 50 kilogram. Justru itu, pabrik es di Kawal tidak jalan, akibat tidak punya garam. ”Kalau pun ada, harganya mahal. Makanya, nelayan bilis makin menjerit, karena tak bisa memasak bilis. Begitu juga ekspor ikan, akibat larangan impor, kapal-kapal tak jalan lagi,” kata Bori, Senin (11/9) kemarin. (ais/fre)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here