ITEBA Perkuat Materi Teknik, Sains dan Desain

0
144
Sidang Senat terbuka ITEBA bersama Yayasan Vitka ITEBA di Kampus Tiban, Batam pada Rabu (18/9/2019).

BATAM – Institut Teknologi Batam (ITEBA) bersama Yayasan Vitka terus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Revolusi Industri 4.0 di wilayah Batam, Kepulauan Riau khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Hal itu ditegaskan Rektor ITEBA, Dr.Ing. M.Sukrisno Mardyanto pada acara Sidang Senat terbuka ITEBA di Kampus Tiban, Batam pada Rabu (18/9/2019). Menurut DR.Ing. M.Sukrisno Mardyanto, langkah yang perlu dilakukan untuk mendukung program pemerintah itu, salah satunya mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dalam bidang teknik, sains dan desain sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan industri di Indonesia, kawasan Asia Tenggara dan dunia Internasional.

“Kami memang mempersiapkan generasi muda Batam serta Kepulauan Riau menyongsong Revolusi Industri 4.0 itu. Sebagai institusi pendidikan teknologi, sains dan seni desain, kami memiliki misi dan visi untuk mewujudkan hal tersebut sesuai kondisi nyata saat ini dan di masa depan,” ujar Rektor ITEBA.
Katanya, peningkatan kualitas pendidikan dalam membangun SDM yang berdaya saing global, dapat dilakukan dengan memberdayakan Perguruan Tinggi berbasis sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM) dan seni.
Untuk mendukung itu ITEBA telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, baik pihak indutri di dalam/luar negeri, instansi/lembaga pemerintah dan Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri.
“Kami telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang menjalin kerjasama dengan Apple corporation. Hal ini diwujudkan dalam program “Apple Foundation” berupa kelas jangka pendek (1 bulan) yang dirancang dengan metode Challenge-based learning untuk memberikan kesempatan kepada calon World-Class Developers mendalami Framework Apple agar mampu merancang prototipe aplikasi dalam ekosistem Apple,” katanya.

Ini adalah salah satu persiapan untuk mencetak para calon ahli Teknologi Informasi kelas dunia. Sedangkan kerjasama dengan industri di Batam, ITEBA telah menjajagi kerjasama dengan PT LABTECH dan Kawasan industri lainnya yang terkait dengan itu. Bentuk kerjasama lainnya adalah dengan Nongsa Digital Park (NDP) lanjutnya, yang merupakan kerjasama jangka panjang, dimana mahasiswa dapat melakukan kerja praktek di industri animasi sesuai dengan bidangnya.

Kampus ITEBA juga dipersiapkan juga sebagai sebuah Smart and green campus. Kemajuan teknologi, sain dan seni dipadukan dalam suatu wujud kampus yang menyatu dengan lingkungan alam sekaligus berbasis teknologi yang canggih dalam menjaga kelestarian ekosistem.

Hal ini sejalan dengan konsep kampus sebagai kumpulan kaum intelektual yang seharusnya menjadi contoh atau panutan kepada institusi atau masyarakat lain akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Pembina sekaligus owner dari Yayasan Vitka Asman Abnur mengatakan, Revolusi Industri ke-1 pada Abad ke-18 yang diawali dengan mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara merubah peradaban ciri khas Society 2.0 dan memicu Society 3.0. Society 3.0 melalui Revolusi Industri menjadikan, masyarakat mempromosikan industrialisasi sehingga, terjadi urbanisasi besar-besaran dari desa yang merupakan basis pertanian menuju kota-kota pusat industri.

“Itulah kami yakin. Untuk menjadikan Batam sebagai basis era revolusi baru. Karena, Batam yang merupakan destinasi wisata sekaligus industri keduanya merupakan rangkaian dari society 4.0, untuk menuju Society 5.0,” kata Mantan Kemenpan-RB RI ini.

Dia menjelaskan, dengan lahirnya generasi baru seperti Society 5.0 merupakan hal  baru bagi masyarakat. Sebab, Revolusi industri ke-3 ini kemudian melahirkan Society 4.0 di mana kegiatan bermasyarakat mulai menggunakan teknologi informasi sebagai nilai tambah untuk menghubungkan aset tidak berwujud dan menggabungkannya untuk membentuk jaringan informasi.

“Dimana-mana orang menggunakan aplikasi dari handphone hanya untuk, membooking tiket, membayar tagihan, dan lain sebagainya itu adalah bentuk dari terwujudnya Society 4.0. Apakah kita mau ketinggalan, sebab mau tidak mau zaman akan terus berputar,” ujarnya.

Sehingga, sambungnya, di era Revolusi Industri ke-4 terjadi fusi berbagai kemajuan teknologi yang memiliki inovasi yang bergerak cepat dan semua serba terkoneksi. Ini eranya IoT (internet of things), bahkan internet of everything yang ditandai dengan adanya kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), self-driving car, big data, 3D printing, augmented reality, autonomous robot dan teknologi pintar lainnya.

Karena efeknya yang mendalam terhadap dunia industri khususnya penerapan komputer digital pada lini produksi, maka pada tahun 2014 Jerman memperkenalkan konsep Industry 4.0. Asal mula Industry 4.0 terletak pada strategi teknologi tinggi Pemerintah Jerman yang memiliki salah satu prioritas di bidang ekonomi digital dan masyarakat. Bidang ini menjadikan digitalisasi Industri Jerman sebagai topik yang sangat penting dan menonjol dan akhirnya menghasilkan istilah Industry 4.0.

Pada Industry 4.0, tidak hanya mesin tetapi hampir semua benda dilengkapi dengan sensor yang menghasilkan informasi tentang status atau lokasi mereka. Ini berarti bahwa ada lebih banyak informasi yang tersedia daripada sebelumnya. Karena antarmuka (interface) belum didefinisikan dengan jelas, maka jumlah informasi bertambah dan menjadi tidak mungkin untuk diproses oleh manusia.

“Di sinilah kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) masuk. Karena daya komputasi dua kali lipat dalam waktu kurang dari setiap dua tahun, maka kekuatan AI meningkat dengan sangat cepat. Ini membuka kemungkinan baru, tetapi juga bahaya baru,” kata Asman Abnur. (*/jek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here