Jembatan Babin Hidupkan Wisata Ibukota

0
355
Hendi Amerta
Masyarakat Kepri berharap pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) bisa terealisasi. Sesuai janji pemerintah pusat, tahun 2020 nanti akan mulai pembangunannya.

TANJUNGPINANG – Jembatan ini diyakini akan menghidupkan sektor wisata Tanjungpinang sebagai Ibukota Provinsi Kepri.

Jembatan ini akan menyambungkan dua pulau besar dan berpenduduk padat yakni Batam, Bintan dan Tanjungpinang.

Karena itu, Jembatan Babin pun akan mempercepat arus barang, arus orang, arus kendaraan tiga daerah ini yang berdampak pada ekonomi.

Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dari Fraksi PKS, Hendi Amerta mengatakan, apabila jembatan itu dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), sebaiknya jangan berbayar.

”Ini yang belum kita tahu, apakah investor asing yang akan membangun atau pemerintah pusat. Kalau dibangun pakai APBN, jangan berbayar agar arus lalulintas lancar,” ujar Hendi, Minggu (23/6).

Jembatan itu, kata dia, harus memperlancar kendaraan tiga daerah ini yakni Batam, Bintan dan Tanjungpinang. Sehingga berdampak pada sektor pariwisata.

Baca Juga :  Lanud RHF Berbagi Dengan Lansia

Masyarakat Batam yang selama ini penasaran dengan Pulau Penyengat, ke depan sudah bisa ramai-ramai mengunjunginya karena arus transportasi sudah 24 jam.

Jika pengunjung datang dari Batam pagi hari, mereka tidak takut lagi tak dapat kapal karena sudah bisa pulang kapan saja.

Kemudian, turis dari Batam juga sudah bisa menikmati destinasi wisata di berbagai tempat baik di Bintan dan Tanjungpinang apabila transportasi sudah 24 jam.

Daerah yang jalur transportasinya hidup 24 jam, aktivitas masyarakatnya semakin tinggi, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Karena itulah, ia menyambut baik rencana pemerintah pusat yang akan memulai pembangunan Jembatan Babin tahun depan. Karena berdampak positif bagi pembangunan dan ekonomi di Kepri.

Baca Juga :  Datangkan 5 Pesawat Baru

Di satu sisi, pembangunan Jembatan Vabin akan berdampak negatif. Sebab, penumpang transportasi laut akan berkurang.

Jika selama ini, banyak penumpang yang bolak-balik Tanjungpinang-Batam, maka ke depan mereka sudah bisa naik motor atau mobil sendiri.

Namun, dampak ekonominya pasti akan dipelajari nanti sebelum pembangunan dimulai.

Ia mencontohkan, saat Jembatan Penghujan di Bintan dibangun, pemilik pokcai kehilangan pekerjaan. Sebelum ada jembatan itu, masih banyak penumpang Pokcai termasuk motor dan mobil.

Begitu juga dengan kehadiran Jembatan Babin nanti, pasti berpengaruh pada speedboat dan feri maupun roro. Penumpang mereka otomatis akan berkurang.

Yang jelas, kata dia, Batam, Bintan dan Tanjungpinang butuh transportasi 24 jam agar pertumbuhan ekonominya lebih cepat dan merata.

Sehingga Bintan dan Tanjungpinang bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di Batam menambah kekuatan ekonomi Batam.

Baca Juga :  Pj Wako Melepas Kafilah MTQ Tanjungpinang

Ia yakin, pembangunan Babin bisa terealisasi di zaman pemerintahan saat ini. Jembatan ini sudah lama didengungkan dan selalu dinantikan masyarakat Kepri.

Soal jembatan ini, pihak pemerintah Singapura juga menanti realisasinya. Begitu juga dengan Pemko Batam dan warganya. Harapannya, dengan adanya Jembatan Babin ini, bisa mengurai kemacetan di Batam.

”Itu perlu juga diketahui masyarakat nanti. Kalau jembatan sudah dibangun, bagaimana dengan mobil FTZ Batam? Bisa tak ke Bintan atau Tanjungpinang? tanya dia.

Saat ini, pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang mereview Detailed Engineering Design (DED) jembatan tersebut dan menghitung estimasi biaya yang diperlukan untuk membangun jembatan dengan panjang sekitar 7 Km tersebut. (MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here