Kapten Khawatir, Nurdin Ambil Alih

0
741
GUBERNUR Kepri H Nurdin Basirun mengambil alih kemudi kapal saat berangkat ke Karimun dari Tanjungpinang, Jumat (12/1) lalu.f-jendaras/tanjungpinang pos

feri rombongan gubernur diguncang ombak Kuat

Cuaca ekstrem di laut Kepri tak hanya menakutkan bagi nelayan kecil. Namun, feri juga ikut goyang akibat angin kencang dan gelombang tinggi.

KARIMUN – ROMBONGAN Gubernur Kepri H Nurdin Basirun ikut mengalami betapa ganasnya kondisi perairan Kepri di musim utara ini. Jumat (12/1) lalu saat bertolak dari Tanjungpinang menuju Karimun untuk rangkaian Safari Subuh dan meresmikan penggunaan Masjid Al Falah Sungai Pasir Meral, Ocean Runner yang ditumpanginya mengalami gunjangan hebat.

Malah kapten kapal sempat angkat tangan dan menyarankan kapal kembali terlebih dahulu ke Batam sambil menunggu ombak reda. Namun, Nurdin langsung mengambil alih kemudi dan membawanya hingga ke Pulau Buru untuk kemudian diteruskan kapten kapal.

Pengalaman Nurdin selama menjadi kapten kapal yang mengarungi lautan lintas negara itu berhasil membawa mereka selamat di tujuan.

Baca Juga :  Pak Gubernur, Mana Tukin Kami

Saat itu, Nurdin mengatakan, semua operator transportasi laut harus hati-hati dan waspada. Perintah KSOP harus dilakukan dan jangan memaksakan diri berangkat jika belum disetujui.

Gubernur juga mengimbau kepada seluruh elemen Hujan diperkirakan belum berhenti. Diperkiraan musim dingin dengan curah hujan yang tinggi, masih melanda Provinsi Kepri hingga empat hari ke depan.

Masyarakat perlu berhati-hati jika berada di luar rumah. Saat ini menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang hal itu terjadi akibat adanya putaran angin atau siklon tropis di wilayah Barat Kalimantan dan wilayah Pulau Bintan.

Kepala BMKG Tanjungpinang melalui prakirawan, R Ardito, menyampaikan hampir kurun waktu lima hari Kepri tidak ada matahari menyengat. Hal ini karena adanya putaran angin di wilayah Barat Kalimantan.

Baca Juga :  Indonesia Target Penyerangan Siber

Selain itu perbatasan laut Kepri, Kalimantan hingga Pulau Bintan, keduanya sama-sama menjadi tempat belokan sekaligus pertemuan angin. Di samping itu, panasnya permukaan laut, juga memicu uap air yang terbawa dari Laut Cina Selatan.

”Ini bukan fenomena alam, melainkan dampak perputaran angin,” terangnya saat dihubungi Tanjungpinang Pos, Minggu (14/1).

Lantaran terjadi perubahan angin itu, lantas mengakibatkan suhu angin berubah rata-rata mencapai 22 sampai 27 derajat celcius. Bahkan, terjadi gelombang tinggi yang terpusat di laut Natuna dan Anambas hingga membuat ombak dengan ketinggian 7 meter. Hal ini dipicu anginnya kencang mencapai 8 Km per jam.

”Di Bintan saat ini, khusus wilayah pesisir perlu diwaspadai, gelombang juga mampu sampai 4 meter. Kita mengimbau agar nelayan dan jasa angkutan laut, selalu berhati-hati, jangan memaksakan diri,” tambahnya.

Baca Juga :  PLN Kurangi Defisit Dampak Gardu Induk

Tak hanya itu, akibat ini juga, bagi pengguna jalan raya, tetap waspada, pasalnya jika dalam perjalanan biasanya jarak tempuh akan terganggu karena derasnya hujan sehingga mengakibatkan jalan licin.

”Belum lama ini, tabrakan mobil, hal itu lantaran jarak pandang yang pendek, hujan licin,” paparnya. Di Tanjungpinang, hujan dan gerimis silih berganti empat hari ini. Bahkan kemarin, masyarakat lebih memilih tinggal di rumah lantaran cuaca dingin meskin tidak turun hujan atau gerimis. (MARTUNAS SITUMEANG)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here