Kemenristekdikti Kumpulkan 100 Peneliti yang Dapat Beasiswa

0
282
Ali Ghufron Mukti

JAKARTA – Pemerintah mengumpulkan 100 peneliti dan perekayasa teknologi yang sudah mendapatkan beasiswa pendidikan serta pelatihan non-gelar dari program RISET-Pro 2013-2020. Mereka akan memanfaatkan kebebasan Indonesia dalam memberikan pelatihan di luar negeri demi mendorong banyak inovasi di perusahaan dalam negeri.

”Mahasiswa RRC sekarang kesulitan di Amerika untuk mendapatkan visa, maka Anda harus bisa mengambil kesempatan ini dan memperoleh manfaat. Apa yang terjadi di perang dagang Amerika dan Cina, justru Thailand dan Vietnam, yang lain yang mengambil manfaat itu, termasuk kerja sama penelitian,” ungkap Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (SDID) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ali Ghufron Mukti saat membuka Simposium SDM Iptek Kelas Dunia Capacity Building untuk Peningkatan Daya Saing Global di Jakarta, Rabu (9/10).

Dia mendorong para alumni untuk berpartisipasi dalam pengembangan inovasi di perusahaan dalam negeri.

Peningkatan kualifikasi peneliti dan perekayasa di Tanah Air kerap terkendala oleh keterbatasan anggaran. Oleh sebab itu, pada simposium ini juga dibahas mengenai pendanaan riset.

Adapun salah satu kebutuhan yang mendesak adalah melepaskan ketergantungan pendanaan riset pada APBN yang mendominasi 75% sumber pendanaan riset di Indonesia.

”Dengan adanya program karya siswa Riset-Pro, diharapkan para alumni memperkuat kapasitas keilmuan dan mengembangkan jejaring risetnya untuk dapat memperluas sumber pendanaan risetnya, dari berbagai sumber pendanaan dari luar negeri, dalam negeri, hingga swasta. Jadi tidak hanya bergantung pada lembaganya sendiri atau kementerian,” terangnya.

Pada kesempatan sama, anggota Pansus UU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) DPR RI Andi Yuliani Paris menjelaskan, adanya UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sisnas diharapkan mampu menaikkan anggaran bagi pembangunan SDM Iptek dan Dikti.

Dia menilai, pada pengelolaan beasiswa bagi para dosen, peneliti, dan perekayasa harus turut melibatkan Kemenristekdikti sehingga tidak serta-merta diserahkan kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

”Karena Kemenristekdikti yang paling mengerti kebutuhan peneliti serta dosen, dan langsung bersinggungan dengan perguruan tinggi. Jadi menurut saya untuk beasiswa juga harus dilibatkan supaya alokasinya terarah,” ucapnya.

Dia mengakui, persyaratan beasiswa studi lanjut yang diterapkan oleh LPDP memang sedikit menyulitkan para dosen. Hal ini menyebabkan presentase dosen dan peneliti yang sekolah dengan beasiswa LPDP tidak banyak.

Mereka lebih memiliki skema yang ditawarkan Kemenristekdikti yang dikelola Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti.

Harus Bersaing di Tingkat Global
Berbagai temuan dari para peneliti Indonesia selama ini banyak yang membanggakan. Sayangnya temuan-temuan tersebut kurang bisa dioptimalkan baik di dalam negeri apalagi di luar negeri.

Untuk memberikan jalan bagi para peneliti dalam mempublikasikan karyanya, Research Synergy Foundation (RSF) kembali menyelenggarakan International Conference on Industrial Technology (ICONIT).

Bekerja sama dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), konferensi internasional pun digelar selama dua hari, 11-12 September, di Balikpapan.

Pendiri Research Synergy Foundation Hendrati Dwi Mulyaningsih menuturkan, tujuan konferensi ini untuk meningkatkan publikasi international bagi para peneliti Indonesia khususnya mahasiswa maupun dosen dari ITK.

”Ekosistem bagi para peneliti mempublikasikan karya amatlah penting. Dan itu yang harus kita bangun bersama,” ujar Hendrati.

ICONIT sendiri, lanjut Hendrati, dipartisipasi oleh peneliti, pelajar, dosen, maupun professional yang berasal dari Indonesia, Ghana, Italia, Mesir, dan Taiwan. Dengan berbagai kalangan peneliti dari luar negeri yang didatangkan, diharapkan para peneliti di Indonesia bisa mendapat ilmu baru untuk mempu bersaing secara global

Sementara itu, Rektor ITK Budi Santosa mengatakan, melalui konferensi ini banyak peneliti bisa membagikan temuan penelitian, pengalaman, serta pemikiran untuk membangun sistem informasi yang dapat mendorong bisnis.

”Hal ini baik dilakukan dengan memperoleh transparansi tentang masa pakai produk dan memahami apa yang mendorong kualitas produksi dalam meningkatkan keefektivitasan peralatan secara keseluruhan,” ujarnya.

Konferensi ini diharapkan menghasilkan luaran prosiding yang akan diterbitkan Penerbit Scitepress dari Portugal sebagai jembatan penyebarluasan artikel ke seluruh dunia dan kemudian diajukan kepada lembaga pengindex bereputasi yaitu Scopus.

Tujuan akhir konferensi ini untuk memperkaya budaya penelitian di lingkungan Institut Teknologi Kalimantan sekaligus mengikuti perkembangan terbaru. (jpnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here