Kenaikan Harga Cabai Picu Inflasi

0
185
Pedagang cabai di kawasan Pasar Baru Tanjungpinang saat menunggu pembeli. F-dok/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tanjungpinang Mangamputua Gultom menjelaskan saat ini inflasi di Kota Tanjungpinang masih stabil yang relatif rendah dibandingkan Batam dan bahkan nasional.

”Ini merupakan suatu prestasi bagi Kota Tanjungpinang yang harus terus dijaga,” ungkapnya.

Gultom juga menjelaskan bahwa ada faktor pendorong inflasi di Kota Tanjungpinang seperti dari kelompok bahan makanan sebesar 1,11% (MTM) dengan andil 0,28%, dengan penyumbang komoditas cabai merah, cabai rawit dan bayam.

Kenaikan harga cabai merah diperkirakan merupakan dampak distribusi cabai merah yang belum normal dan peningkatan harga cabai merah di sentra penghasil.

Sedangkan kenaikan harga bayam diperkirakan karena penurunan pasokan yang dipengaruhi oleh menurunnya produksi akibat curah hujan yang tinggi.

Kota Tanjungpinang mencatatkan inflasi 0.32% (mtm) atau inflasi 3,20% (yoy) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,89% (mtm), namun lebih rendah dibandingkan Juni 2018 dengan inflasi sebesar 2,59% (yoy).

Inflasi Tanjungpinang terutama bersumber dari Inflasi kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,28% (mtm) dengan andil 0,18% (mtm), terutama disebabkan kenaikan tarif angkutan udara akibat permintaan yang cukup tinggi. Inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,08% (mtm) dengan andil 0,02% (mtm), terutama didorong kenaikan harga minuman ringan.

Hal ini diungkapkan Gultom dalam rapat bersama dengan tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang Kantor Walikota Tanjungpinang, Senin (15/7).

Rapat TPID ini dipimpin langsung oleh Walikota Tanjungpinang, H. Syahrul, didamping oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, H. Irwan, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang, H. Ahmad Yani, dan Kabag Ekonomi Pemko Tanjungpinang, M. Amin serta perwakilan dari Bulog, Bea Cukai, KSOP, Kejari, Akademisi, BMKG dan BUMD.

Dalam rapat tersebut, dipaparkan bahwa Kota Tanjungpinang pada bulan Juni tahun 2019 mencatatkan inflasi 0,32% lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya data tersebut diperoleh dari Data Bank Indonesia perwakilan Kepri dan BPS Kota Tanjungpinang.

Sementara itu, dari Perwakilan Bulog mengatakan stok beras, minyak dan tepung masih tergolong aman dan cukup. Khusus untuk gula sedikit mengalami pengurangan hanya tinggal sekitar 2 ton. Sementara itu untuk beras akan dipasok sebanyak 1.600 ton dan akan dibagikan ke beberapa daerah seperti Natuna, Anambas, Bintan dan Lingga.

Sesuai data BPS, terdapat 100 komoditas mengalami perubahan harga, 20 komoditi mengalami kenaikan harga dan 20 komoditi mengalami penurunan harga. 20 komoditi yang mengalami kenaikan harga didominasi oleh kelompok sayuran seperti cabai hijau, tomat buah, cabai merah, cabai rawit dan kol putih/kubis.

Sedangkan 20 komoditi yang mengalami penurunan harga didominasi oleh kacang panjang, ketimun, cumi-cumi, kelapa dan buncis. Sementara itu, perkembangan harga pada bulan Juni 2019 ini terpantau terjadi kenaikan harga di kelompok ikan segar, sayuran dan bumbu-bumbuan, bahan makanan lainnya dan komoditi lainnya seperti alat-alat listrik dan emas perhiasan.

Dari 23 Kota IHK di Sumatera pada bulan Juni 2019, Kota Tanjungpinang berada diposisi ke-3 diantara Kota Lhokseumawe dan Banda Aceh. Sedangkan untuk IHK di Sumatera periode Januari-Juni 2019, Kota Tanjungpinang berada diposisi ke-4 diantara Kota Jambi dan Kota Tanjung Pandan.

Syahrul selaku pimpinan rapat menjelaskan bahwa untuk perkembangan harga bahan komoditas bahan pokok di Kota Tanjungpinang saat ini masih tergolong stabil seperti yang telah disampaikan dalam rapat TPID sebelumnya, tetapi untuk harga cabai perlu diperhatikan dan dilakukan pemantauan secara khusus. Syahrul juga berharap menjelang Hari Raya Idul Adha mendatang tidak ada lonjakan atau kenaikan harga bahan pokok secara signifikan.

”Saya harap dalam menyambut Hari Raya Idul Adha mendatang, setiap harga komoditi agar untuk diidentifikasi permasalahan yang akan datang dan semoga tidak ada lonjakan,” harapnya. (bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here