Kerjakan Proyek Fisik Lebih Awal

0
697
Sejumlah pekerja menarik besi saat pembangunan peningkatan jalan di Pulau Dompak, belum lama ini.f-suhardi/tanjungpinang pos

APBN-APBD Harus Jadi Stimulan Pertumbuhan Ekonomi Kepri

Pertumbuhan ekonomi Kepri tahun 2017 selama empat triwulan tidak pernah menggembirakan. Paling tinggi 2,57 persen. Anjloknya pertumbuhan ekonomi Kepri mendapat perhatian banyak pihak.

TANJUNGPINANG – LESUNYA industri Batam membuat ekonomi terseok-seok dan menyeret daerah lainnya di Kepri. Banyak industri yang tutup dan tidak kebagian orderan menjadikan perputaran uang di kota industri ini tergerus.

Pemerintah pun diminta menguatkan peranannya karena mengelola uang yang lumayan besar baik itu APBN maupun APBN. Belasan triliun uang negara akan berputar tahun ini. Dan diharapkan bisa menjadi stimulan pertumbuhan ekonomi Kepri.

Tekad instansi pemerintahan di Kepri untuk membelanjakan anggaran di awal tahun sudah terbukti dengan cepatnya pengesahan APBD. Namun, untuk realisasinya belum kelihatan karena kegiatan atau proyek masih tahap lelang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri Panusunan Siregar menyarankan, komitmen pemerintah daerah untuk sesegara mungkin melaksanakan pengerjaan proyek fisik lebih awal tidak meleset dari yang direncanakan. Karena hal tersebut menurutnya, mampu menopang semangat, kebangkitan perputaran aktivitas ekonomi.

”Kita harapkan, apa yang disampaikan yang dijadikan komitmen pemerintah untuk melaksanakan proyek fisik lebih awal, tidak meleset. Karena itu harapan kita semua, sebagai bentuk menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi Kepri,” jelas Panusunan kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (6/2).

Baca Juga :  Mendagri Tegaskan KPU Tak Bisa Diintervensi Siapapun

Tak hanya Panusunan, pengamat ekonomi yang juga dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang Rafky Rasyid menyampaikan, Pemprov harus terus optimis membangun cara dan mengubah pola kerja lama dengan sistem baru mereka.

Menurut Rafky, untuk 2018, target 4-5 persen itu cukup realistis, setelah Provinsi mendapat rapor rendah di tahun 2017 karena angka pertumbuhan ekonomi tak mampu mencapai di atas sempurna.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, ada banyak cara misalnya, bersinergi dengan Pemko/Pemkab, serta menjaga koordinasi yang baik dengan BP Batam.

Apalagi saat ini, pihak BP Batam sudah memberikan insentif pengurangan UWTO kepada sektor galangan kapal. Ini positif untuk mendorong sektor industri. Setelah beberapa tahun terpuruk akibat minimnya permintaan.

Lalu infrastruktur yang dibangun dari beberapa tahun belakangan juga sudah banyak yang selesai. Selesainya pembangunan ini akan membawa dampak positif untuk perbaikan pertumbuhan ekonomi di Kepri ke depan.

Perbaikan pertumbuhan ekonomi Kepri sudah bisa terlihat pada dua triwulan terakhir tahun 2017 yang lalu. Transformasi Kota Batam dari sebelumnya bertumpu pada industri manufaktur ke pariwisata juga bisa menjamin pertumbuhan ekonomi Batam akan membaik di tahun 2018.

Namun Pemko Batam tentu saja harus menggenjot lagi kreativitasnya menggaet wisatawan berkunjung ke Batam. Tahun 2017 yang lalu jumlah wisata yang berkunjung ke Batam masih relatif rendah, ditambah waktu berkunjung yang relatif singkat. Batam harus memikirkan cara kreatif agar wisatawan betah dan senang datang ke lokasi tersebut.

Baca Juga :  Mahasiswa Stisipol Jatuh dari Lantai III

Tak hanya itu, langkah lainnya, yakni dengan membuka penerbangan langsung ke Korea Selatan adalah langkah bagus. Tapi tentu saja kondisi pariwisata di Batam sendiri harus terus ditingkatkan kualitasnya.

Tak hanya Batam, misalnya kabupaten/kota lainnya. Seperti salah satu Bintan yang sejak dulu, perkembangan aktivitas industri Lobam. Ditambah dengan kawasan Lagoi yang masih terus berbenah untuk mendatangkan wisatawan akan memperkokoh perekonomian Kabupaten Bintan.

Bahkan, Pemprov bersama Pemkab Bintan, harus terus berupaya keras, menyelesaikan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang supaya bisa langsung beroperasi tahun 2018 ini. Jadi bisa menimbulkan multipflier effect pada daerah sekitarnya.

Untuk Tanjungpinang mungkin tahun ini akan berkonsentrasi pada Pilwako. Namun hal ini tidak akan begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri. Karena kontribusi ekonomi Tanjungpinang terhadap Kepri relatif kecil.

Untuk Kabupaten Karimun, Anambas, Lingga dan Natuna ekonominya relatif stabil. Karimun bisa menjadi salah satu penopang pertumbuhan Ekonomi Kepri yang kuat. Tahun 2017 lalu banyak Investor banyak yang tertarik untuk berinvestasi di Karimun sebagai alternatif dari Batam.

Baca Juga :  Wapres Janji, Guru K2 Jadi CPNS

Jadi angka pertumbuhan ekonomi 4-5 persen cukup realistis. Dengan catatan semua stakeholders yang berkepentingan saling mendukung untuk mencapai itu. Jangan lagi ada pertentangan kelembagaan yang membuat investor kebingungan dan ragu untuk berinvestasi di Kepri.

Ancaman untuk Ekonomi Kepri tahun ini kebanyakan akan datang dari luar. Kondisi ekonomi dunia masih relatif kurang stabil akibat ancaman perang AS dengan Korut dan permasalahan Palestina-Israel.

Jika perekonomian global menurun maka akan berdampak langsung ke perekonomian di Kepri. Kelemahan mendasar di Kepri masih soal lahan dan lambatnya realisasi pelaksanaan APBD.

Batam sudah membuat terobosan dengan melelang proyek di akhir tahun 2017 kemarin. Langkah berani ini harus diikuti kepala daerah lainnya agar proyek pembangunan bisa dilaksanakan di awal tahun 2018.

”Kita semua sangat menunggu, proyek APBD dilaksanakan tahun ini lebih awal di kerjakan. Karena setiap proyek APBD itu pasti memiliki nilai tambah dan multiplier effect terhadap perekonomian. Semakin cepat dilaksanakan semakin baik,” sarannya.(MARTUNAS-SUHARDI)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here