Ketika Sampah Menjadi Objek Wisata

0
662

Oleh: Tegar Imannabila Ibrahim
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang dari suatu aktivitas yang dilakukan manusia ataupun proses alam, bahkan bisa menjadi wabah timbulnya penyakit. Namun apa yang terjadi sekarang? Sampah seakan-akan menjadi objek yang wajib terlihat dan tidak boleh terelakkan oleh cinderamata kita. Tidak hanya saat kita berada di pinggir jalan saja, sampah kini mulai melakukan penggerakan hebat dengan hadir disetiap objek-objek wisata yang bahkan kini seakan-akan objek wisata yang sesungguhnya adalah menikmati pemandangan sampah. Seperti yang baru saja terjadi pada 3 Maret 2018. Dunia maya dihebohkan dengan rekaman video penyelam berkebangsaan Inggris, Richard Horner saat menyelam di Manta Point, salah satu lokasi di Nusa Penida, Bali.

Dalam video yang diunggahnya ke berbagai jejaring sosial media, video tersebut jelas menunjukkan betapa mirisnya Indonesia tentang lingkungan saat ini. Bagaimana tidak, lokasi tersebut menjadi salah satu lokasi favorit para penyelam karena di sinilah para penyelam akan dipertontonkan indahnya biota maupun satwa laut endemik Nusa Penida. Namun justru sebaliknya, penyelam akan lebih disuguhi dengan lautan yang penuh dengan sampah plastik. Hal ini jelas membuat nama Indonesia sedikit tercoreng mengingat sebelumnya pada 21 Februari 2018, yang merupakan Hari Peduli Sampah Nasional seakan-akan hanya menjadi pemanis kalender Indonesia tentang hari-hari apa saja yang diperingati. Karena kurang lebih 2 minggu kemudian Indonesia harus menerima kenyataan dengan diunggahnya video tersebut yang menampakkan bukti parahnya lingkungan di Indonesia.

Baca Juga :  Pengentasan Kemiskinan atau Peningkatan Kesejahteraan?

Tidak hanya laut, objek wisata dengan medan yang lainpun di Indonesia juga sering ditemani oleh sampah. Entah itu di gunung, tempat peninggalan sejarah, maupun tempat rekreasi keluarga, selalu terlihat sampah plastik, keranjang plastik, sedotan, maupun sampah yang mengandung unsur organik ataupun anorganik. Bahkan mungkin saat ini laut sepertinya menjadi tempat pembuangan yang lebih menarik perhatian ketimbang tempat-tempat sampah yang umumnya telah disediakan oleh pemerintah ataupun orang-orang yang peduli akan lingkungan. Dampaknya adalah terbutakannya keindahan biota ataupun satwa laut yang tertutupi oleh sampah yang berkeliaran seakan-akan sebagai penjaga dari lautan tersebut. Parahnya lagi, pada musim-musim tertentu, sampah yang berkeliaran di laut akan berkumpul di satu titik yang disebabkan adanya arus hujan dan arus laut. Bisa dibayangkan betapa kotornya lautan jika hal itu terjadi seperti yang pernah terjadi di Bali dan Sulawasi beberapa waktu lalu. Dan seakan-akan sampah menjadi objek wisata sesungguhnya bagi wisatawan lokal maupun asing.

Hal ini menjadi permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata pastinya. Pada pasal 1 ayat 2 Undang-undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup misalnya, yang menyebutkan “Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”. Hal ini jelas bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Meskipun begitu, bukan hanya pemerintah saja yang harus melakukan evaluasi, namun dibutuhkannya kesadaran masing-masing individu untuk menjaga agar pasal 1 ayat 2 Undang-undang nomor 32 Tahun 2009 tersebut tidak ternodai.

Baca Juga :  Mencari Pemimpin yang Amanah

Jika berbicara mengenai dunia, bahkan Indonesia tidak masuk dalam daftar 100 besar negara terbersih di dunia berdasarkan suatu indeks yang dikembangkan di Kolumbia tentang perlindungan lingkungan hidup yang dinamai dengan Environment Protection Index (EPI). Indeks ini melakukan penilaian terhadap negara di dunia dan menyusun peringkat sesuai dengan indikator-indikator yang terdiri dari kualitas udara, air, perlindungan habitat serta dampak lingkungan terhadap kesehatan populasinya. Alhasil, Indonesia hanya menduduki peringkat 112, jauh ditinggalkan oleh negara tetangga yaitu Singapura yang bahkan mampu menduduki peringkat ke 4 dalam peringkat tersebut. Hal ini tak lepas dari bagaimana pemerintah Singapura yang menerapkan regulasi berupa denda bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan dengan nominal sekitar 1000 SGD atau sekitar Rp. 10.458.000,- yang akhirnya membuat warga dari Singapura lebih bisa menjaga kebersihan dan mempertahankan reputasinya sebagai kota yang bersih dan hijau sekaligus membuat nama negaranya lebih harum di kancah dunia. Lalu, bagaimana jika Indonesia menerapkan hal yang sama? Yang ada hanyalah munculnya ketidakpuasan masyarakat terkait peraturan tersebut. Padahal, ulah mereka sendiri yang membuat pemerintah melakukan gerakan mengenai hal tersebut. Pada pasal 29 ayat 1 Undang-undang nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang menyebutkan bahwa “Setiap orang dilarang membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan”, jika masyarakat lebih mendalami pasal tersebut, maka pemerintah Indonesia pastinya tidak akan menerapkan regulasi seperti yang dilakukan Singapura.

Baca Juga :  Percepatan Kualitas SDM Kepri Melalui Program Revitalisasi SMK

Banyak program-program dari pemerintah ataupun dari kelompok-kelompok masyarakat yang peduli akan lingkungan. Namun hal ini sejatinya hanya menjadi program hiasan bagi masyarakat yang kesadarannya mengenai lingkungan sangat rendah. Terkadang, kesadaran itu akan muncul ketika kita sudah menyesal, lalu ketika akan melakukan perubahan, semuanya terlambat. Laut yang dulunya dikenal sebagai tempat untuk melepaskan penat, menenangkan pikiran, kini menjadi objek wisata yang penuh dengan sampah plastik. Tentu saja bukan keinginan kita untuk menjadikan sampah sebagai objek wisata, namun kelakuan yang disadari ataupun tidak yang membuat kita seakan-akan termakan oleh perkataan sendiri terkait lingkungan.

Sebagai masyarakat yang mempunyai jiwa nasionalisme, tentunya hal seperti tadi enggan terdengar. Mengingat Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi hukum, tentunya Indonesia tidak ingin masyarakatnya malah bertolak belakang dengan Undang-undang yang telah diberlakukan. Kesadaran dari diri sendiri harus ditekankan karena ketika kita memulai dari diri kita, tentunya akan mudah memulai memperbaiki yang lainnya. Peran dari pemerintah dalam mengurangi atau bahkan menghabiskan volume sampah saat ini juga sangat penting mengingat volume sampah dari tahun ke tahun selalu meningkat. Mungkin dengan memanfaatkan teknologi-teknologi yang memudahkan pemerintah guna mengurangi volume sampah di Indonesia. *** 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here