Mahasiswi STIE Wakili Kepri ke Bali

0
696
DWI Meilani dan Mita Elvira tersenyum saat memegang piala juara 1 Lomba Parade Cinta Tanah Air tingkat provinsi yang digelar Kementerian Pertahanan RI baru-baru ini. f-istimewa

Sambal Tempoyak Juara Lomba Parade Cinta Tanah Air

Produk Sambal Tempoyak bumbu hasil racikan dua orang mahasiswi Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang berhasil menjadi juara satu setelah menyingkirkan produk perawatan kulit dari bahan ekstrak Teripang. Kini, mereka mewakili Kepri ke tingkat nasional di Bali.

TANJUNGPINANG – PERSAINGAN penilaian antara Sambal Tempoyak dan Body Lotion dari Teripang itu bertemu pada Lomba Parade Cinta Tanah Air tingkat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Prestasi itu membawa kedua mahasiswi STIE Pembangunan Tanjungpinang ini akan tampil pada lomba yang sama di tingkat nasional di Bali bulan September mendatang.

Lomba itu digelar oleh pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI dengan tema ‘Mewujudkan Semangat Generasi Muda yang Cinta Tanah Air dan Bela Negara Sebagai Dasar Penggerak Industri Kreatif’.

Kedua mahasiswi STIE Pembangunan itu, yakni Mita Elvira dan Dwi Meilani dari Program Studi (Prodi) Manajemen.

Mita Elvira mengatakan, ia bersama rekannya Dwi Meilani tak menyangka menjadi juara dengan produk kreatifnya Sambal Tempoyak yang diberi brand dengan nama Poyaku.

Tak sekedar produk inovasi semata, lanjut Mita, juga ada karya tulis ilmiah yang dibuat untuk lomba itu. Maka Mita Elvira dan Dwi Meilani membuat karya ilmiah berjudul ‘Inovasi Sambal Tempoyak Sebagai Peluang Bisnis Kuliner Masa Depan’.

Kata Mita, saat lomba itu peserta diwajibkan untuk menciptakan suatu produk inovasi yang terkait Usaha Mikro Kecil Menangah (UMKM) dan karya tulis ilmiah mengenai produk yang akan dilombakan.

”Perasaan saya tentu senang dan antusias serta takut. Saya dan Dwi Meilani mengerjakan produk ini semaksimal mungkin. Mulai dari persiapan karya tulis ilmiah, pembentukan produk dan sampai persiapan penampilan bakat. Semua kami lakukan dengan sungguh-sungguh, karena kami tidak mau mengecewakan. Apalagi kami mewakili STIE Pembangunan,” ungkap Mita kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (14/8).

Mita menambahkan, sebisa mungkin pikiran dan tenaganya ia keluarkan secara optimal untuk memenangkan lomba itu.

Saat itu, ia bersama Dwi hanya ada waktu 5 hari untuk menyelesaikan semuanya baik produk maupun karya ilmiah.

Karena ia pun baru mendapatkan informasi mendadak untuk tampil di ajang tersebut.

”Awalnya kami mau membuat kerupuk otak-otak. Lalu kami tanya sama temen-temen, dosen gimana pendapatnya klo kami buat kerupuk. Nah, pada banyak yang bilang itu terlalu biasa. Kebetulan temen saya ada yang menyarankan buat sambal kemasan aja seperti sambal teri, sambal cumi. Dari situ saya dapat ide untuk buat Sambal Tempoyak aja,” ceritanya.

Untuk itu, ia dan Dwi berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan lomba. Malah, masih kata Mita, ia dan Dwi optimis memenangkan lomba setidaknya mendapatkan juara 3.

Namun, melebihi target dan akhirnya keluar sebagai juara 1 mengalahkan Kampus Politeknik Batam dengan produk inovatifnya Body Lotion dari bahan ekstrak Teripang. Maka, juara kedua diraih oleh Kampus Politeknik Batam.

Untuk mewakili Provinsi Kepri di tingkat nasional, Kampus STIE Pembangunan mengutus Mita dan Dwi. Sementara itu, Dwi Meilani juga menjelaskan, sistem penilaian juri pada Lomba Parade Cinta Tanah Air yang pertama kemudahan proses pembuatan produk.

Berikutnya, juga ada penilaian nilai ekonomis produk yang dibuat serta tingkat manfaat dari produk tersebut. ”Terakhir, juri juga menilai keberlanjutan produksi produk, sama orisinilitas produk yang kami lombakan,” sebut Dwi Meilani, Jumat (16/8).

Ia juga menambahkan, Body Lotion dari bahan Teripang yang jadi produk milik peserta dari kampus Politeknik Batam itu tidak langsung dari Teripangnya.

Melainkan, bahan itu merupakan ekstrak dari Teripang. Sehingga, peserta dari Politeknik Batam hanya puas di posisi kedua setelah kelompoknya.

Selain itu, pada saat dilaksanakannya technical meeting dijelaskan penyelenggara bahwa tidak boleh pakai hape pada saat presentasi dan menggunakan proyektor.

”Tetapi mereka, dari Politeknik Batam menggunakannya. Jadi kira-kira itu yang menjadi alasan juri, kenapa Politeknik Batam tidak juara,” sebut Dwi Meilani.

Dwi Meilani merasa senang, karena hasil produk yang dilombakan bersama rekannya Mita Elvira menjadi juara.

”Alhamdulillah, tanggapan dari penyelenggara terhadap produk Sambal Tempoyak Poyoku sangat baik. Pihak penyelenggara mengatakan waktu itu, produk kami belum ada di wilayah Kepri yang menjual sambal dalam bentuk kemasan,” tutupnya.(ADLI ‘BARA’ HANANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here