Manajemen Strategi dari Private Sector

0
850

Oleh: Darmawan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Tentunya banyak hal yang harus dilakukan ketika berbicara mengenai manajemen strategi. Dimulai dari perumusan suatu keputusan, menetapkan, mengimplemenasikan, hingga evaluasi agar mengetahui kelemahan dan kelebihan dari keputusan yang dibuat.

Beberapa indikaor tadi merupakan siklus yang tak pernah berhenti dalam berotasi. Hubungannya satu sama lain sangat erat sehingga tak mampu untuk terpisahkan. Nah, di sini tugas penting dari manajemen strategi.

Pertama, Membuat misi perusahaan. Misi dapat diasumsikan sebagai hal-hal yang harus diaktualisasikan dari visi yang dibuat. Sehingga didalam misi terdapat target atau pun tolok ukur dalam hal pengimplementasiannya. Sehingga misi yang ingin dilakukan berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Oleh karenya, membuat misi memerlukan pemikiran yang kritis, aktual, terpercaya, dan mampu menciptakan laba yang baik pula. Di dunia ini, jika di lontarkan apakah ada perusahaan yang ingin merugi? Tentu pertanyaan tadi adalah suatu isu yang ingin dilenyapkan oleh para pengusaha.

Kedua, Menilai lingkungan eksternal termasuk faktor pesaing. Terlena (santai-santai) merupakan suatu kata yang harus dilenyapkan. Di era globalisasi ini, setiap perusahaan memiliki daya saing yang tinggi. Nah, ketika terlena bisa saja suatu perusahaan ketertinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur, skill pegawai, dan lainnya. Karena hanya melihat kondisi yang ada di internal perusahaan tanpa memikirkan situasi yang ada di eksternal perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan dituntut untuk jeli dalam menanggapi hal tersebut. Sehingga kemajuan teknologi bukan penghalang baginya untuk maju.

Baca Juga :  Lingga, Permata yang Tersembunyi

Ke tiga, Mengidentifikasi pilihan paling menguntungkan dengan cara mengevaluasi setiap pilihan berdasarkan misi. Satu kata yang ingin diperoleh oleh setiap perusahaan yakni laba (keuntungan) yang sebesar-besarnya. Sangat benar apabila dikatakan harus dilakukan evaluasi ketika pilihan-pilhan yang ada di misi perusahaan tak mampu berjalan dengan efektif. Namun tidak menutup kemungkinan planning-planning cadangan mampu memperbaiki sistem kerja disuatu perusahaan.

Ke empat, Memilih satu tujuan jangka panjang dan strategi. Hal ini dilakukan agar perusahaan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahunnya semakin modern dan maju karena didukung oleh kemajuan teknologi yang sangat canggih. Dengan sikap berfikir kritis ini, penulis yakin dan percaya bahwa kinerja yang diaktualisasikan mampu terwujud sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Baca Juga :  Cahaya Bulan, Inovasi dan Perguruan Tinggi di Kepri

Kelima, Mengimplementasikan straegi yang telah dipilih melalui alokasi sumber daya. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah sumber daya yang memiliki etos kerja tinggi dan tentunya didukung oleh skill (kemampuan) yang baik. Sehingga antara ilmu teori dan praktik dapat disejalankan dengan selaras dalam pengimplementasiannya. Teori saja yang dimiliki tentu saja tak cukup apabila tidak adanya sinkronisasi dengan praktek. Apalagi dizaman modern ini yang paling dituntut adalah kemampuan (skill) bekerjanya. Karena itu merupakan bukti real atas kemampuan yang dimiliki oleh para pegawai.

Keenam, Mengevaluasi keberhasilan proses strategi sebagai masukan pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. Timbul pertanyaan “ kok keberhasilan perlu dievaluasi ? “. Sangat perlu karena keberhasilan bisa menjadi acuan atau pedoman untuk melakukan kerja dimasa yang akan datang.

Sehingga bisa memperbaiki sistem yang lama dan dapat meningkatkan kinerja dimasa yang akan datang. Untuk itu, jangan terlalu cepat puas tetapi berjuanglah dengan semangat yang tanpa padam ketika mengalami kegagalan ataupun keberhasilan. Kedua indikator tersebut merupakan faktor penting yang harus dihindari dan dicapai oleh setiap perusahaan.

Baca Juga :  Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi

Dari beberapa indikator diatas tadi, tentunya memiliki keterkaitan yang sangat mendasar. Dimana ketika salah satu indikator tersebut tak mampu dijalankan oleh perusahan maka mampu terjadi pemutusan sistem birokrasi perusahaan. Mengapa demikian? Antara satu indikator dengan indikator yang lainnya saling mengisi isi dari misi yang hendak dicapai. Oleh karena itu perusahaan harus siap dan tegar dalam persfektif mengimplementasikannya.

Tak ada gunanya ketika misi yang dibuat memiliki nilai yang baik tetapi tak mampu dijalankan dengan semestinya dari hakikat misi tersebut. Untuk itu, sangat perlu keterpaduan antara misi yang diciptakan dengan praktiknya di lapangan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here