Menenun Kebaikan di Dalam Jiwa Manusia

0
1202
Ega Pujianti

Oleh: Ega Pujianti
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara FISIP UMRAH, Tanjungpinang

Memang pernah terlintas dari benak seseorang kalau kebaikan itu sangat lah penting dan harus dimiliki oleh setiap manusia. Tapi, kebanyakan orang mengartikan kalau kebaikan itu adalah simbol untuk mendapatkan perhatian atau sejenisnya.

Apabila di dalam diri seseorang itu memerlukan sesuatu atau menginginkan sesuatu dari orang yang mereka maksud, maka kebaikan ditonjolkan agar permintaan mereka terkabulkan oleh orang tersebut.

Di sini akan saya berikan beberapa penjelasan dari arti kebaikan yang wajib kita ketahui. Adalah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), baik artinya elok, patut, teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb).

Sedangkan berdasarkan penjelasan lainnya kebaikan adalah sesuatu yang pantas dikerjakan dan diusahakan atau dikehendaki. Sesuatu yang baik adalah yang memenuhi hasrat dasar manusia.

Dalam filsafat dikatakan, bahwa kebaikan melandaskan diri pada kebaikan dan setiap kenyataan yang ada berkecenderungan mempertahankan diri. Mengejar kesempurnaan dirinya tetap berada, sehingga pada hakikatnya dapat bersifat dan berbuat baik. Baik dikatakan baik, apabila sesuai dilakukan berdasarkan fitrah manusia sesuai dengan hakikatnya.

Baca Juga :  Peningkatan Partisipasi Pemilih Adalah Tanggungjawab Bersama

Sangat tidak wajar apabila menimpakan segala permasalahan sosial itu pada setiap diri manusia apa lagi pada sistem pendidikan. Meskipun demikian, sudahkah sistem pendidikan mendesain atau diciptakan oleh mereka bagi para pelajar untuk menenun kabaikan? Atau juga sebaliknya.

Apakah masih ada cara yang baik atau bahan ajar yang baik untuk menyemaikan kebaikan pada setiap diri manusia, bukan hanya menyemaikan kejahatan saja seperti kebencian terhadap kelompok atau merendahkan insan yang berbeda pada pandangan matanya.

Di sini kebaikan itu pada hakikatnya adalah mengemban tugas atau amanah dan mengembangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan yaitu keserasian sosial, kedamaian, serta peduli kepada sesama manusia dan menjiwa dalam hakikat pendidikan dan diri pelakunya.

Di sini sistem pendidikan berperan sangat penting karena merupakan salah satu simbol atau sumber kebaikan dan pembangunan keteraturan sosial.

Baca Juga :  Tanjungpinang Mesti Bebas dari Asap Sampah

Di dalam praktiknya di beberapa negara, dalam pengajaran sejarah nasional, misalnya, bangsa sendiri selalu dituliskan sebagai pihak yang benar. Begitu juga sebaliknya negara yang di luar selalu dituliskan sebagai negara yang berpihakkan salah.

Jadi dapat kita simpulkan secara sederhana adalah “Bangsa Kami Baik dan Bangsa Asing itu Jahat”. Berarti di sini dapat dilihat bahwa kebencian itu bisa kita jumpai dalam suatu kelompok asing yang disemaikan dari dalam kelas itu sendiri. Dan akhirnya akan berpengaruh pada anak-anak yang patriotisme semu.

Terus bagaimana dengan pembelajaran Agama?
Apakah kedamaian dan keserasian antarumat manusia senantiasa dijuarakan?
Betapa sangat bahaya dan ironis sekali jika secara terprogram pendidikan nasional justru menyokong penyebaran kebencian. Sedangkan melalui pembelajaran umum lainnya diasumsikan dan diagung-agungkan sebagai sumber moral.

Berdasarkan hadist yang saya ambil tentang kebaikan adalah : menurut ajaran Islam kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwa mu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain. (HR. Muslim).

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018, Mampukah Rebound?

Jika anggapan “KEBENARAN” ini dibiarkan berlanjut, benih keprimitifan seperti kesamaan fisik, agama, dan geografis, akan saling menguatkan. Dan ini akan jadi pemicu pengguna keteraturan sosial.

Di sini saatnya pendidikan dengan sengaja akan terus mengikis kejahatan sekaligus menyediakan lahan subur bagi kebaikan yang akan tumbuh di dalam kelas.

Dan akhirnya akan membangun semangat anak-anak untuk membangun kecakapan bernalar, dan pada akhirnya kecakapan bernalar ini akan menjadi perkakas utama anak-anak untuk mengenali dan mengikis kejuangan semu serta yang paling utama adalah untuk menenun kebaikan dalam jiwa manusia.***

Kebaikan itu dilakukan dari hati untuk mendapakan Ridhonya. Bukan dilakukan dari ucapan untuk mendapatkan Mudaratnya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here