Menimbang Duet Lis-Maya

0
1237
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre (GRC)

Munculnya nama dr. Maya Suryanti sebagai bakal calon wakil walikota (Bacawako) Tanjungpinang mendampingi Lis Darmansyah tentu suatu hal yang menarik. Apalagi menjelang pendaftaran 8 Januari 2018 mendatang duet pasangan ini terus digaungkan. Apakah ia masih mempesona dan memberikan efek elektoral (keterpilihan) bagi Lis Darmansyah yang dijagokan lewat PDIP. Dari dua nama lainnya, M. Syahrial, SE politisi PDIP dan H. Adnan yang merupakan ASN di lingkungan Pemko Tanjungpinang nama dr.Maya digadang-gadangkan yang paling pas mendampingi Lis Darmansyah mengingat kekuatan masa silam putri mantan Walikota Tanjungpinang Drs. H. Suryatati A Manan ini dinilai cukup masih mempesona.

Dalam politik memang tidak ada musuh abadi yang ada hanyalah kepentingan elit. Nah, melihat dr. Maya Suryanti yang merupakan rivalnya di Pilwako Tanjungpinang 2012, sebelumnya dan sempat dituding menyontek tablet saat debat Pilwako oleh timnya Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah saat itu, tentu menjadi peristiwa politik yang menurut penulis tidak bisa dilupakan karena memberikan efek elektoral bagi pasangan dr. Maya-Tengku Dahlan ketika itu. Dilihat dari hal ini rasa-rasanya memang tidak mungkin bergabung.

Kalau tidak keliru, Hj. Suryatati yang pada saat itu juga berang dan membuat puisi khusus untuk menyindir hal tersebut. Jika dilihat dari sisi ini tentu tidak mudah bagi Lis Darmansyah dan dr. Maya Suryanti bersatu. Lumrah, sebagai manusia dr. Maya Suryanti masih memendam rasa amarahnya dan juga penulis pikir tidak mudah mendapatkan kata maaf dengan memberikan kursi gratis calon wakil walikota. Hal ini kemudian membuat asumsi lain bahwa wacana menggaet Putri Mantan Walikota Tanjungpinang Hj. Suryatati A. Manan merupakan upaya untuk mengunci agar calon walikota yang lain tidak menggandeng dr.Maya, hingga pada masa akhir pendaftaran 10 Januari 2018 mendatang.

Statistik Pilkada 2012
Berdasarkan hasil rekapitulasi suara KPU Kota Tanjungpinang 2012, perolehan suara dr.Maya – Ahmad Dahlan waktu itu memperoleh suara 26.616 suara, nomor dua terbanyak setelah pasangan Lis-Syahrul dan unggul dari tiga pasang calon atau kandidat lainnya. Lis – Syahrul kala itu memperoleh suara 39.129 suara. Disusul dengan pasangan Husnizar Hood-Rudy Chua 13.838. Hendry Frankim – Drs. Yusrizal yang hanya meraih 5.459 dari 85.042 suara sah saat itu. Dilihat dari data statistik ini memang suara dr.Maya tidak bisa diacuhkan begitu saja.

Baca Juga :  Sebab Akibat Republik ini Menerapkan Welfare State

Dalam survei yang kami lakukan awal Desember lalu menunjukkan bahwa dr. Maya Suryanti masuk lima besar diapit politisi Iskandarsyah yang diusung PKS dan Ade Angga yang diusung Golkar tingkat popularitas dan elektabilitasnya. Jika melihat statistik ini sangat mungkin saja duet Lis-Maya adalah duet yang sulit untuk ditandingi popularitas dan elektabilitasnya. Namun, di sisi lain perlu juga disadari bukan tidak mungkin loyalis dr.Maya yang selama ini menganggap Lis Darmansyah rival akan beralih ke yang calon yang lain.

Calon Tunggal Versus Kolom Kosong
Pada Pemilukada serentak Februari 2017 yang lalu tercatat ada sembilan kabupaten dan atau kota yang tidak diikuti pasangan calon lain selain calon petahan atau calon tunggal. Sembilan kabupaten dan kota itu di antaranya Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kabupaten Pati, Kabupaten Landak, Kabupaten Buton, Kabupaten Maluku Tengah, Kota Jayapura, Kabupaten Tambrauw, dan Kota Sorong.

Persoalan calon tunggal ini merupakan fenomena yang unik dan menjadi tantangan sendiri bagi partai politik yang secara kelembagaan harusnya mampu menawarkan pemimpin baru, bukan tidak mungkin di Tanjungpinang juga mengalami hal serupa mengingat sampai saat ini belum ada kandidat yang mengumumkan surat rekomendasi resmi bernomor SK Ketua masing-masing DPP Partai baik yang jelas menyatakan koalisi seperti Setara dan Anak Pinang maupun PDIP.

Hal ini terungkap misalnya dalam pernyataan Ketua Badan Pemenang Pemilu (Bapilu) PDIP Kota Tanjungpinang, M Syahrial kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (15/12). “Lis-Maya Deklarasi di Hari Jadi PDIP”. Di akhir pemberitaan tersebut Syahrial mengungkapkan sangat berharap partai lain bisa bersama mengusungnya. PDIP saat ini terus melakukan komunikasi politik dengan parpol lainnya. Bisa saja nanti, parpol banyak yang merapat mengusung paslon Lis-Maya. “Politik itu dinamis, saat ini kami terus melakukan pendekatan dengan parpol lainnya, mengajak mereka untuk sama-sama membangun Tanjungpinang lebih baik lagi,” bebernya. Kata dia, Hanura salah satu parpol telah mempublikasikan ke publik akan mengusung Lis Darmansyah. “Maunya kita seluruh parpol mengusung Pak Lis,” bebernya (Tanjungpinang Pos, 18 Desember 2017).

Baca Juga :  Memberantas Korupsi hingga ke Penjara

Nah, pernyataan ini sangat bersayap. Jika ditafsirkan secara linear Lis Darmansyah dengan siapapun dia berpasangan sangat menginginkan melawan kolom kosong daripada harus berleguh legah berkompetisi dengan pesaingnya siapapun itu termasuk H.Syahrul. Jika semua partai politik di tingkat pusat berhasil di lobi tentu ini bisa saja terwujud. Salahkah jika ini terjadi? Menurut UU Pilkada No 10 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Pilkada Regulasi ini mengakomodir keberadaan calon tunggal dengan berbagai ketentuan yang disyaratkan. Misalnya, pasangan calon tunggal diperbolehkan apabila KPU telah melakukan perpanjangan pendaftaran, namun tetap saja tidak ada calon lain yang mendaftar.

Ini tertuang jelas dalam Pasal 54C (1) Pemilihan 1 (satu) pasangan calon dilaksanakan dalam hal memenuhi kondisi: a. setelah dilakukan penundaan dan sampai dengan berakhirnya masa perpanjangan pendaftaran, hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon yang mendaftar dan berdasarkan hasil penelitian pasangan calon tersebut dinyatakan memenuhi syarat; b. terdapat lebih dari 1 (satu) pasangan calon yang mendaftar dan berdasarkan hasil penelitian hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon yang dinyatakan memenuhi syarat dan setelah dilakukan penundaan sampai dengan berakhirnya masa pembukaan kembali pendaftaran tidak terdapat pasangan calon yang mendaftar atau pasangan calon yang mendaftar berdasarkan hasil penelitian dinyatakan tidak memenuhi syarat yang mengakibatkan hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon; c. sejak penetapan pasangan calon sampai dengan saat dimulainya masa Kampanye terdapat pasangan calon yang berhalangan tetap, Partai Politik atau Gabungan Partai Politik tidak mengusulkan calon/pasangan calon pengganti atau calon/pasangan calon pengganti yang diusulkan dinyatakan tidak memenuhi syarat yang mengakibatkan hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon; d. sejak dimulainya masa Kampanye sampai dengan hari pemungutan suara terdapat pasangan calon yang berhalangan tetap, Partai Politik atau Gabungan Partai Politik tidak mengusulkan calon/pasangan calon pengganti atau calon/pasangan calon pengganti yang diusulkan dinyatakan tidak memenuhi syarat yang mengakibatkan hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon; atau e. terdapat pasangan calon yang dikenakan sanksi pembatalan sebagai peserta Pemilihan yang mengakibatkan hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon. (2) Pemilihan 1 (satu) pasangan calon dilaksanakan dengan menggunakan surat suara yang memuat 2 (dua) kolom yang terdiri atas 1 (satu) kolom yang memuat foto pasangan calon dan 1 (satu) kolom kosong yang tidak bergambar. (3) Pemberian suara dilakukan dengan cara mencoblos.

Baca Juga :  Menuju Tanjungpinang Sebagai Kota Kreatif

Secara teknis, dikuatkan dalam pasal selanjutnya, Pasal 54D (1) KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan pasangan calon terpilih pada Pemilihan 1 (satu) pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54C, jika mendapatkan suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari suara sah. (2) Jika perolehan suara pasangan calon kurang dari sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pasangan calon yang kalah dalam Pemilihan boleh mencalonkan lagi dalam Pemilihan berikutnya. (3) Pemilihan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diulang kembali pada tahun berikutnya atau dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan.(4) Dalam hal belum ada pasangan calon terpilih terhadap hasil Pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Pemerintah menugaskan penjabat Gubernur, penjabat Bupati, atau penjabat Walikota. (5) Ketentuan lebih Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Pemilihan 1 (satu) pasangan calon diatur dengan Peraturan KPU.

Jika hal ini terjadi, apakah duet Lis-Maya seperti yang diwacanakan akan terwujud? Bisa saja ya, bisa saja tidak, tapi jika terwujud tentu kemungkinan besar dugaan penulis bahwa dr. Maya Suryanti diapit hanya karena untuk mengantisipasi agar dirinya tidak diambil oleh calon lainnya untuk menjadi rival politik berikutnya, namun jika pasangan ini benar-benar dideklarasikan dan hanya satu pasangan calon yang muncul bisa jadi bisa memenangkan kolom kosong dan tentunya Pilkada tidak lagi seru karena sudah terbaca pemenangnya atau bisa saja juga calon pasangan independen lolos verifikasi, sehingga kemungkinannya hanya dua lawan kolom kosong atau calon independent dan dua-duanya tetap menguntungkan calon petahan hanya saja dengan tingkat resiko yang berbeda pula. Kita lihat saja tanggal mainnya atau pada akhir pendaftaran calon 10 Desember 2017 nanti. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here